13 Mei 2018

13 Mei 2018

PERISTIWA berdarah Minggu 13 Mei 2018 di Surabaya dan Mako Brimob Kelapa Dua menewaskan 6 anggota Brigade Mobil atau Brimob, masih menyisahkan duka, marah dan kecaman manusia di dunia ini. Peristiwa pemboman tiga gereja di Surabaya oleh teroris yang melibat suami, isteri dan anak kecil tak berdosa. Menyedihkan karena wanita Indonesia, khusus Surabaya aktif dalam kejahatan yang tidak berperikemanusiaan, sadis dan represif, sistimatis dan massif.
Mengapa peristiwa ini saya catat sebagai peristiwa penting dalam sejarah kejahatan Indonesia? Pertama, karena seorang ayah dan ibu dengan sadar dan tahu bahwa peristiwa membom gereja adalah perbuatan yang tidak manusiawi, biadab dan jahat. Ayah dan ibu yang terlibat dalam bom bunuh diri dipastikan membawa kematian.
Kedua, gereja secara fisik bangunan tidak ada kaitan dengan tindakan kejahatan. Yang jahat adalah manusia. Tetapi mengapa teroris membom gereja. Gereja adalah satu kesatuan yaitu umat Allah. Gereja boleh dibom beribu kali, tetapi gereja tetap hidup sepanjang zaman. Karena Yasus yang mendirikan gereja dan Yesus dipastikan selalu ada. Satu kalimat,” Jangan takut kepada teroris.”
Peristiwa pemboman tiga gereja di Surabaya menyisahkan luka hati mendalam semua umat di bumi ini. Kejahatan melampau batas karena dengan sengaja melibat anak-anak yang tidak berdosa. Kejahatan yang dilakukan suami isteri merupakan sebuah refleksi kemanusiaan agar kaum wanita, kaum ayah mengenang tetapi harus berjanji untuk tidak terulang lagi. Cukupla peristiwa ini hanya di Surabaya. Jangan ada lagi kasus serupa di daerah lain di Indonesia.
Hidup yang dianugerahkan Sang Pencipta hanya sekali. Menjadi seorang ibu atau seorang ayah hanya sekali. Tidak dua kali. Karena hanya diberi kesempatan sekali, harus menjalani hidup ini dengan sungguh-sungguh,setiala pada panggilan sebagai ayah atau ibu. Aksi pengeboman tiga gereja di Surabaya yang dilakukan satu keluarga dengan korban masyarakat berjumlah 12 orang, termasuk juga anak-anak. Firman, 15 tahun, dan kakaknya, Yusuf, 17 tahun, ikut dilibatkan dalam meledakkan bom dengan korban antara lain Evan, 11 tahun, dan adiknya, Nathanael.
Firman Halim, disebutkan sebagai ketua OSIS sewaktu kelas dua SMP dan selalu masuk peringkat tiga besar di kelasnya. Dia tak suka matematika, dan paling suka pelajaran biologi. Seperti anak-anak lainnya, Firman suka bermain game, dan aktif menggunakan media sosial.
Firman juga disebutkan rajin salat berjamaah ke masjid, tapi pada hari Minggu pagi 13 Mei 2018, dia pergi ke gereja. Dengan memangku bom kotak, Firman dan kakaknya, Yusuf, berboncengan dengan sepeda motor ke Gereja Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya, Surabaya.
Sementara itu Vincencius Evan, 11 tahun, juga tiba di Gereja Santa Maria Tak Bercela, yang berjarak hanya 1,2 kilometer dari tempat tinggalnya.
Turun dari mobil ayahnya, Vincencius menggandeng tangan adiknya, Nathanael yang berusia 8 tahun. Firman dan Yusuf meledakkan diri. Vincencius dan Nathanael terhempas karena ledakan. Keempatnya meninggal dunia. Anak-anak ini semuanya menurut saya dengan sengaja dikorbankan. Berikut anak-anak yang tewas karena ledakan dalam tragedi dua hari, 13 dan 14 Mei 2018. Vincencius Evan 11 tahun, kakak dari Nathanael Vincencius Evan baru saja ikut ujian SD.
Bom meledak ketika Evan dan adiknya hendak memasuki gereja. Ayah kedua anak itu sedang memarkir mobil. Ibunya juga terluka. Seperti ditulis Grid.id, saksi menjelaskan bahwa Evan menggandeng adiknya setelah turun dari mobil, dan bahkan sempat berusaha melindungi adiknya dari serpihan saat terjadi ledakan.
Dia meninggal di rumah sakit karena luka bakar, luka karena serpihan logam, pendarahan dalam dan benturan. Nathanael berusaia 8 tahun, adik Vincencius Evan duduk di bangku SD. Nathanael duduk di kelas dua SD.
Anak delapan tahun itu kehilangan banyak darah akibat luka-lukanya, namun sempat bertahan belasan jam. Dia meninggal hari Selasa 15 Mei 2018 malam, setelah operasi amputasi kaki kanannya.
Yusuf Fadhil lahir 25 November 2000, dia adalah anak tertua Dita, ayah dari empat anak yang disebutkan ikut dalam pengeboman bersama ibu mereka. Drama buruk dan piluh. Dalam salah satu foto Puji, ibu Firman, di Facebook, anak 15 tahun itu berkomentar, “Buk, Kamis pulangnya bawa es krim lho, jangan lupa ya!”
Facebooknya diisi dengan posting terkait game, pistol, juga lagu I Don’t Wanna Live Forever yang dinyanyikan ulang oleh Gen Halilintar. Dia bercanda dengan teman-temannya, dan membicarakan acara sekolah.
Seperti di beritakan, Tribun Jatim mewawancarai guru Firman yang menjelaskan bahwa Firman adalah ketua OSIS waktu kelas dua SMP, selalu masuk tiga besar di kelasnya. Dia tak suka matematika, dan paling suka pelajaran biologi.
Fadhila Sari lahir 4 Januari 2006 dan masih duduk di kelas enam SD, anak ketiga pasangan Dita dan Puji. Dengan bom terikat di perutnya, Fadhila bersama adiknya, Famela, diajak ibunya meledakkan diri di Gereja Kristen Indonesia Jalan Diponegoro. Ketiganya meninggal dengan perut rusak. Tidak ada korban lain yang meninggal akibat bom bunuh diri mereka.
Famela baru berumur delapan tahun, kelas dua SD, sebaya dengan Nathanael.
Anak keempat Dita dan Puji ini dikenal sebagai anak periang, tidak pernah murung di sekolah. Tidak pernah konflik dengan temannya, dan ikut antusias saat membahas tolerensi beragama.
Dengan bom di pinggangnya, Famela diajak ibunya meledakkan diri di Gereja Kristen Indonesia, Jalan Diponegoro Surabaya.
Berikur LAR adalah anak kedua Anton Ferdiantono, teroris yang ditembak polisi di Rusun Wonocolo, Sidoarjo. Polisi tiba karena terdengar suara ledakan, yang menewaskan LAR dan ibunya, Puspita Sari, di tempat tinggal mereka, sepertinya karena tak sengaja. Dua adiknya selamat.
Tiga anak Anton Ferdiantono tidak bersekolah. Orang tuanya mendoktrin, kalau ditanya orang, kamu sekolahnya home schooling. Padahal, sebenarnya mereka tidak diajari apa-apa selain dikungkung di rumah dan didoktrin pemahaman radikal. Hanya satu anak yang sekolah, karena anak pertama tersebut tinggal bersama neneknya.
Dafa bersama dua adiknya dan kedua orang tuanya Tri Murtiono dan Tri Ernawati, mengendarai dua sepeda motor, Senin 14 Mei 2018 pagi. Mereka meledakkan diri di tempat pemeriksaan masuk Mapolrestabes Surabaya.
Menurut polisi, anak-anak diberi tontonan video jihad secara rutin. Ketiga keluarga itu satu jaringan dan rutin hadir pengajian di rumah Dita.Dafa dikenal sebagai anak yang pintar dan baru saja lulus dari SMA, di salah satu sekolah negeri unggulan di Surabaya.
Bom meledak dua kali, dalam waktu hampir bersamaan. Kemungkinan besar, masing-masing motor membawa bom. Dafa, Dary,Tri Murtiono dan Tri Ernawati, tewas. Adik mereka, AIS, terlempar dan selamat.
Selain para korban yang tewas, korban lain adalah anak-anak yang selamat dari ledakan bom yang dirancang orang tua mereka. Mereka adalah anak pelaku bom di Sidoarjo (Tri Murtiono dan Tri Ernawati) dan ada satu anak lainnya saat kejadian bom di Polrestabes Surabaya.
Saya sengaja mengangkat lagi kisah kelam ini, agar selalu mengenang dengan niat baik supaya jangan meniru perbuatan keji keluarga yang mengorbankan anak tak berdosa.
Ada beberapa faktor yang membuat perempuan dilibatkan dalam aksi teror di Surabaya. Pertama, peran hierarki gender. Dalam pendekatan dan relasi ini, perempuan ditempatkan pada keharusan patuh terhadap lelaki sebagai kepala keluarga. Kedua, pandangan teologis yang dianut di mana menginginkan mereka sekeluarga masuk surga bersama-sama.Ini doktrin yang keliru. Mohon para orang tua di Indonesia jangan meniru dan mengikuti perbuatan jahat yang dilakukan suami isteri di Surabaya 13 dan 14 Mei 2018. Cukuplah sekali ini saja. ♦

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.