4 Calon Dirut dan Dirum Bank NTT

4 Calon Dirut dan Dirum Bank NTT

♦ Kata Robert Sianipar, Seleksi Sesuai Aturan

 

SIAPAKAH yang dari empat nama yang diajukan pemegang saham Bank NTT hasil RUPS yang bakal duduk sebagai Dirut dan Dirum Bank NTT? Keempat nama yang dikirim ke Otoritas JASA Keuangan (OJK) berdasarkan hasil RUPS LB di Kupang yakni calon dirut, Bily Tjoanda dan Isak Eduard. Sedangkan calon Dirum yakni Renal Kandijo dan Lasarus Orapau Kadiv Umum Bank NTT. Adapun komisaris utama, Juvinile Jojana dan Komisaris independen, Frans Gana.
Menurut Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nusa Tenggara Timur (NTT) Robert Sianipar, seleksi direksi Bank NTT sudah sesuai ketentuan dan aturan yang berlaku.
“Seleksi ini, kami lakukan sesuai ketentuan dan aturan yang berlaku,” kata Robert, Rabu, 6 Februari 2019, menanggapi permintaan pemegang saham Bank NTT agar OJK independen dalam melakukan seleksi calon direksi Bank NTT.
Saat ini, menurut dia, OJK sedang meneliti dokumen administrasi. Jika dalam penelitian yang dilakukan Departemen Perizinan OJK, ada dokumen yang kurang, maka OJK akan meminta untuk dilengkapi lagi. “Kami sudah terima tembusan penelitian dokumen calon direksi Bank NTT,” katanya.
Proses seleksi administrasi akan dilakukan paling lambat 30 hari, setelah dokumen dinyatakan lengkap. Setelah itu OJK akan memanggil para calon direksi dan komisaris yang diajukan untuk dilakukan klarifikasi. “Prosesnya seperti itu, dan kami akan lakukan secara independen,” katanya.
Sebelumnya, sejumlah pemegang saham meminta OJK tetap independen memilih direksi Bank NTT. Alasan pemegang saham meminta agar independen, karena dari empat calon yang diajukan terdapat dua calon dari luar bank NTT.
“Saya berharap OJK RI lebih profesional dalam melakukan seleksi, sehingga menghasilkan orang yang berkompeten dan mempunyai kemampuan dalam memimpin Bank NTT kearah yang Lebih baik,” kata pemegang saham Bank NTT, Ray Fernandez.
Seleksi pengurus Bank NTT dibumbui aroma tak sedap. Diduga ada yang ‘bermain’ di balik layar. Oleh karena itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diminta bekerja profesional.
Tak hanya soal intervensi dan penentuan calon yang terkesan sudah diseting, publik menyorot pernyataan oknum-oknum yang mengatasnamakan Tim Pembina BUMD utusan Pemegang Saham Pengendali (PSP) bahwa Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bisa ‘diatur’.
Sehubungan dengan persoalan ini, Pengamat Ekonomi Dr. James Adam mengatakan pernyataan Hadi Djawas bahwa OJK bisa diatur adalah pernyataan yang lucu. Menurut James, dengan berkata demikian, bisa dipastikan bahwa Hadi sebenarnya tidak mengerti aturan.
“Kalau pernyataan itu benar disampaikan Hadi Djawas, berarti dia tidak mengerti aturan. Dia asal omong dan asal bunyi saja. Sebetulnya tidak perlu direspon. Saya baca berita, khususnya omongan dia (Hadi Djawas), saya jadi lucu,” sebut James di awal percakapan dengan Timor Express, Selasa (18/12).
James yakin, OJK tidak bisa diatur dan selalu independen atau bebas dari campur tangan pihak lain. OJK juga tidak bisa diatur oleh Gubernur NTT. Sebab OJK adalah lembaga yang dibentuk oleh pemerintah pusat berdasarkan UU Nomor 21 Tahun 2011, bukan oleh pemerintah daerah. “Independensi OJK selalu ada. Jadi Gubernur sekalipun belum tentu bisa atur OJK,” sebut Konsultan Program International Fund for Agricultural Development (IFAD) itu.
Menurut James, OJK pernah menggugurkan dua calon pengurus (calon Dirut dan calon Dirum) Bank NTT beberapa waktu lalu, lantaran tidak lolos fit and proper test. Hal itu membuktikan bahwa OJK benar-benar independen. Kendati demikian, dia tetap berharap agar aroma tak sedap yang sudah tercium publik dalam proses seleksi calon pengurus Bank NTT, hendaknya menjadi motivasi bagi OJK untuk tetap menjaga netralitasnya. “Publik tentu berharap demikian. Tapi dari perspektif ekonomi, OJK selalu independen. Apalagi ketegasan OJK sudah terbukti baru-baru ini,” kata mantan Direktur AKUB Efata Kupang itu.
Soal setingan calon itu sendiri, James enggan berkomentar lebih jauh karena tidak tahu persoalan itu secara pasti. Namun menurut dia, dalam konteks ini pasti ada kompetisi. Baik kompetisi di kalangan internal maupun kompetisi di kalangan eksternal. “Secara psikologis, kalangan internal mungkin tidak mau kalau eksistensi Bank NTT ke depan dikelola oleh orang lain. Sementara orang di luar Bank NTT berpikir bahwa mereka punya kemampuan, sehingga mereka berlomba-lomba daftar ketika diberi kesempatan terbuka untuk umum,” jelasnya.
Seperti diwartakan Harian Timex, kepala OJK Provinsi NTT Robert H. P. Sianipar kembali menegaskan bahwa OJK akan bekerja profesional. Dalam artian, OJK akan bekerja sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku. “OJK pasti bekerja sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku,” tegas Robert yang baru saja dilantik sebagai Kepala OJK Provinsi NTT, Rabu 5 Desember 2018 lalu menggantikan Winter Marbun.
Ditanya soal syarat calon Direksi, dimana calon Dirut dan Dirum harus memiliki sertifikasi manajemen risiko sampai level lima, Robert mengatakan, calon direksi yang diajukan oleh pihak Bank NTT ke OJK sudah harus memenuhi ketentuan tersebut. “Tentunya calon dir (direksi, red) yang diajukan harus memenuhi ketentuan tersebut,” kata mantan Kepala Bagian (Kabag) Pengawasan di Kantor OJK Regional VIII itu.
Sementara itu, Wali Kota Kupang Jefri Riwu Kore sebagai salah satu pemegang saham mengaku sangat percaya kepada OJK. Ia yakin OJK tak bisa diintervensi oleh siapapun. Sejak awal OJK sudah sangat profesional.
Oleh karena itu, tidak perlu terpengaruh dengan orang-orang di balik layar. “Kalaupun diusul, nanti OJK yang nilai. OJK itu profesional. Tidak ada yang bisa intervensi,” kata Jefri.
Pemegang saham lainnya, Bupati Sumba Tengah Gidion Mbilijora juga yakin proses pemilihan pengurus Bank NTT akan berjalan sesuai aturan dan mekanisme yang berlaku.
“Kita sudah ada aturan dan dan mekanisme untuk itu. Pak Gubernur juga mengatakan yang lalu bahwa ini terbuka untuk siapa saja yang memenuhi kriteria,” ujar Gidion kepada koran ini malam tadi melalui telepon seluler.
Berkas Calon Belum Diserahkan ke OJK
Penjaringan para calon pengurus Bank NTT di tingkat Komite Renumerasi dan Nominasi (KRN) sudah selesai. Gubernur NTT selaku PSP juga sudah menyetujui tujuh nama calon. Di antaranya, Juvenile Jodjana (calon Komut), Fransiskus Gana dan Samuel Despantianus (calon Komisaris Independen), Ishak Eduard Rihi dan Billy Tjoanda (calon Dirut), serta Renal Kandijo dan Lazarus Orapau (calon Dirum).
Kendati demikian, KRN belum menyerahkan dokumen para calon kepada Direktur Kepatutan (Dirkep) Hilarius Minggu untuk selanjutnya dibawa ke OJK. Samuel D. Djoh selaku komisaris independen defenitif saat ini, mengaku bahwa KRN sementara merapikan, sekaligus memastikan dan menyesuaikan semua dokumen para calon sebagaimana dipersyaratkan oleh OJK.
Samuel berharap, proses penelitian berkas para calon bisa selesai secepatnya, sehingga dapat diserahkan kepada Dirkep untuk mendapatkan ceck list complain. “Jika sudah clear, Direksi akan sampaikan kepada OJK untuk dilakukan fit and proper test bagi para calon,” ungkap Samuel.
– Komisaris Utama: Juvenile Jodjana (Presdir TransNusa/Plt. Komut PT Flobamor)
– Komisaris Independen : Samuel D. Djoh (Komisaris Independen Bank NTT) dan Fransiskus Gana (Akademisi Undana)
– Dirut : Ishak Eduard Rihi (Pejabat Bank NTT) dan Billy Tjoanda (Pejabat Bank Artha Graha)
– Dirum : Lazarus Orapau (Pejabat Bank NTT) dan Renal Kandijo (Pejabat Bank Artha Graha). ♦ nttterkini.com/wjr

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.