60 Tahun NTT

60 Tahun NTT

PROVINSI NTT pada 20 Desember 2018 memasuki usia senja, 60 tahun. Di usia setua ini, NTT dipimpin Gubernur Victor Bungtilu Laiskodat bersama Wakil Yoseph A. Nae Soi. Keduanya dalam memimpin NTT mengusung tag line,” NTT Bangkit Menuju Masyarakat Sejahtera Dalam Bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dengan misinya Mewujudkan NTT Bangkit Menuju Masyarakat Sejahtera Berlandaskan Pendekatan Pembangunan Inklusif dan Berkelanjutan (Inclusive and Sustainable Development, meningkatkan Pembangunan di semua Sektor dalam rangka pemberdayaan ekonomi rakyat, meningkatkan ketersediaan dan kualitas infrastruktur, meningkatkan kualitas sumber daya manusia atau SDM dan mewujudkan reformasi birokrasi pemerintahan dan meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Tekad yang sangat luar dan sedang ditunggu gerakan ini oleh seluruh masyarakat. Keduanya juga bertekad dengan gerakan dan aksi kreatif peduli bersih dan bebas sampah. Dan paling spektatuler yaitu gerakan memasyarakatkan daun kelor. Konon, daun kelor dinobatkan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO sebagai pohon ajaib?
Organisasi pangan dunia FOOD and Agriculture Organization sejak tahun 2009 sudah luas mengkampanyekan pentingnya masyarakat di setiap negara mengkonsumsi kelor karena kelor memiliki banyak manfaat bagi kesehatan karena kandungan gizi yang dimiliki tanaman kelor sangat tinggi. Tanaman kelor sangat cocok sebagai tanaman pioneer untuk penghijauan karena dapat tumbuh di kawasan tropik yang lembab dan juga di daerah panas serta tanah gersang.
Kualitas pohon kelor yang tumbuh di Nusa Tenggara Timur adalah kualitas terbaik ke 2 di dunia setelah spanyol. Oleh karena itu Daun Kelor NTT yang sangat diminati oleh negara-negara lain karena kualitasnya, seperti Eropa, Australia, Arab Saudi, Korea Selatan dan China. Sangat menjajikan.
Jika kelor membawa harapan baru bagi masyarakat NTT yang masih terkategori sebagai propinsi miskin, maka salah satu cara ialah menanam kelor. Kapan lagi kalau bukan sekarang, siapa lagi kalau bukan orang NTT sendiri. Sangatla mudah menanamnya. Ini salah satu gerakan yang dicanangkan Gubernur Vicktor Bungtilu Laiskodan dan Yoseph A. Nae Soi.
Gebrakan sudah dimulai dengan membagi secara gratis bibit kelor. Tinggalnya saja kemaun masyarakat NTT, mau menanam atau menjadi menonton? Tekad Victor Laikosdat lainnya ialah menerapkan budaya bersih sehingga NTT indah mempesona, majemuk dan berwarna. Kita mengharapkan program ini sudah rampung dalam 100 hari waktu kerja yang kebetulan bersama dengan musim hujan. Musim hujan 2018-2019 diharapkan sebagai wilayah NTT dihijaukan dengan pohon-pohon kelor dan bersih. Semoga perayaan yang meriah dan konon sesuai isu yang berkembang, HUT NTT ke 60 tahun menelan biaya sampai Ro 4 miliar rupiah?
Perayaan HUT NTT sudah tersebar luas sebagai hari kesadaran pentingnya melestarikan alam dan seni budaya NTT yang sangat beragam keindahannya, mejemuk dan indah. Ini yang ada dalam benak Vicktor Laiskodat Yos Nae Soi. Semoga dengan semboyan ini, tak sekadar slogan tetapi diwujudkan dalam karya nyata sehingga orang NTT sejahtera tidak miskin. Lupa masa lalu, lupakan sejenak masa-masa kepimpinan sebelumnya dan memulai yang baru menatap masa depan yang lebih cerah. Karena itu seruan kedua pimpinan baru mengimbau masyarakat NTT untuk mengkawal visi besar mereka, NTT bangkit dan NTT sejahtera. ♦

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.