7 Kelompok

7 Kelompok
RAKYAT Indonesia, rakyat NTT harus catat, cukup dalam benak, bahwa saya dan anda masih miskin. Dimana-mana kita menemukan sedemikian banyak saudara-saudara kita yang miskin. Miskin disini, kurang sandang, pangan dan papan. Jangan munafik, ada sesama saudara kita yang makan sehari apa adanya, ada yang gelandangan dan faktor situasi.
Mengapa masih ada yang miskin sekali, dan sedemikian  banyak orang kaya raya berfoya ria. Di kampungku, banyak rakyat miskin, PLN contohnya, janji Desember 2018 listrik sudah menerangi desaku, tapi janji itu hanya pada janji menenyenangi rakyat.
Banyak generasi muda kita yang otaknya pintar, tetapi tidak bisa studi lanjut karena orang tua tidak mampu, banyak yang sakit, sakit, sakit dan mati diperjalanan, karena pusat pelayanan kesehatan jauh, sulit dijangkau akibat jalan yang susah. Generasi muda dari desa sampai di kota harus menganggur, tidak tersedia lapangan pekerjaan. Aparatur yang konon salah satu tugasnya mensejahterakan rakyat lumpuh otaknya tidak berkreasi.
Sedemkian banyak kepala keluarga atau rumah tangga berlomba mendaftar diri sebagai orang miskin. Bahkan ribut, jika nama keluarganya tidak dicatat oleh aparatur desa atau kelurahan.
Pejabat mulai dari presiden, gubernur, bupati sampai dengan camat belum mampu mengatasi persoalan rakyat. Ini harus dicatat oleh para calon legislative yang tugasnya memperjuangkan, tetapi setelah jadi anggota dewan, lupa, lupa dan lupa. Mengapa lupa, tujuan menipu rakyat sudah tercapat. Anggota dewan hanya ingat jika membutuhkan suaranya.
Mau jadi gubernur atau bupati hanya pintar dan kreatif kampanye membohongi rakyat.
Fakta di depan mata kita, didepan mata rakyat Indonesia, pejabat bahkan calon presiden sangat pintar dan licik menipu rakyat secara meluas lewat berbagai media cetak, televisi dan media sosial. Di depan mata, didengar langsung Calon Presiden Prabowo berkampanye secara nasional bahwa dirinya pemenang dan sudah menjadi presiden. Baru kali ini 2019, sepanjang sejarah Indonesia, ada calon presiden seperti Prabowo tiga kali dalam sehari mendekrasikan diri bahwa sudah memenangkan Pilpres 17 April 2019. Sudah sujud dan syukur mencium tanah seperti halnya 2014 ketika berpasangan dengan Hatta Radjasa. Apa maksudnya ini? Mau mengambil alih kepemempinan dengan cara diluar hukum atau inskontitusional?
Prabowo dan kelompoknya sebagaimana dikirim ke berbagai media bahwa ingin situasi Indonesia kembali seperti doeloe zaman kepemimpinan mertuanya Soeharto. Ketika itu semua bisa dicapai, karena pemilihan presiden cukup melalui MPR yang jumlahnya bisa dihitung, bisa dikasi uang dan fasilitas mewah sehingga Soeharto bisa menjadi Presden RI selama 32 tahun.
Soeharto seenak rencana korupsi melalui lembaga yang dibentuknya yaitu 7 yayasan. Semua uang dari berbagai sumber masuk ke yayasan ini. Nilainya tak sedikit, trilinan rupiah. Prabowo dan kelompoknya ingin mengulangi kejayaan seperti ini.
Ketika Presiden Jokowi tidak menerapkan pola kotor seperti ini, maka perbuatan baik dan bijak mensejahterakan rakyat dibenci. Orang baik pasti dibenci. Seperti sudah diviral secara meluas, ada tujuh kelompok yang membenci Jokowi. Saya ingin mengutip lengkap, biar kita rakyat NTT secara khusus saudara-saudara yang bernasib miskin seperti saya mengetahuinya dan menyimpanan sebagai arsip untuk anak cucu nanti.
Pertama, Kelompok Keluarga Suharto dan Kroni Kroninya beserta Jaringannya. Mereka Marah karena asset peninggalan SUHARTO dipersoalkan Jokowi, bahkan telah ada yang diambil alih negara, dan Dana Suharto di rekening yang ada di bank2 di Luar Negeri sudah diblokir. Kelompok ini yang bergerak untuk mengembalikan Era ORDE BARU, dan mengusung orangnya.
Kedua, kelompok Mafia Migas, PETRAL, BLOK ROKAN, BLOK MAKAHAM, dll. Kelompok ini adalah mafia Kelas Kakap yang kerja sama di beberapa negara. Mereka sakit hati karena usaha mereka telah dibubarkan dan jalur mainnya digergaji Oleh Jokowi. Mereka sakit hati dan berusaha menggulingkan Jokowi. Kelompok ini menjadi salah satu sumber pendana Kelompok Radikal dan Mendanai Lawan Jokowi.
Ketiga, kelompok Koruptor. Baik yang sudah dalam tahanan maupun yang sedang dalam proses hukum. Mereka benci Jokowi karena sangat ketat mengawasi brsama KPK, sehingga tertangkap. Bahkan dana mreka yang ada di luar negeri dan dalam negeri sudah diblokir. Kelompok ini menggerakkan keluarga dan jaringannya untuk balas dendam untuk menjatuhkan Jokowi.
Keempat, kelompok Islam Radikal Wahabi, HTI, FPI, Dll. Kelompok berlabel Islam ini merasa terancam oleh Jokowi. HTI yang mendukung Khilafah telah dibubarkan. Yang lain akan menyusul jika menolak Pancasila dan NKRI. Kelompok ini membonceng di Pilpres pada 02. Ciri2nya mudah dikenali, di mana-mana bicara bid’ah, dan suka mengkafir-kafirkan kelompok Islam yang lain. Kelompok ini paling ideologis dan menjadi salah satu otak penyebaran HOAX.
Kelima, kelompok PNS/ASN. Kelompok yang pro korupsi. Mereka merasa era Jokowi terlalu ketat, biaya perjalanan dinas dipotong, lelang proyek kini semua on line, pengawasan ketat, dan tidak bisa korupsi lagi. Kelompok ini bersama keluarga dan jaringannya menolak Jokowi. Mereka mau seperti era sebelumnya, yang bisa happy2 dari uang rakyat.
Keenam, kelompok Sakit Hati. Kelompok sakit hati ini adalah mereka yang tidak sakit hati pada jokowi, tapi sakit hati karena peluang hidupnya kurang baik di era Jokowi dibanding temannya, atau temannya naik pangkat sekarang dia sakit hati. Dia berusaha Jokowi tumbang dan dia ada kesempatan untuk balas sakit hatinya.
Ketujuah, kelompok Korban Virus hoax. Kelompok ini jumlahnya paling banyak. Mereka membenci jokowi, karena terpengaruh oleh 6 kelompok di atas yang kerjanya memproduksi HOAX. Dia hanya korban karena pengetahuannya terbatas, akhirnya mereka percaya hoax dan ikut membenci Jokowi. Rakyat Indonesia juga dimiskina oleh kelompok radikal. Kelompok yang ingin mengganti lambang dan dasar Negara ini dengan hukum syariat. Kelompok ini dipimpin kaum radikal yang punya uang banyak sehingga bisa membiayai demo besar-besaran seperti 212 dan demo yang bergelompah dengan jumlahnya sangat besar.
Negara dirugikan mengeluarkan dana ratusan miliar untuk menjaga aparat keamanan. Dari berita, selama 2018 negara mengeluarkan dana keamanan mencapai 76 miliar rupiah. Dapat dibayangkan, jika dana sebesar ini dialokasikan untuk membangun puskesmas, sekolah yang rusak atau subsidi dalam bentuk infratruktur dalam rangka memperbaiki taraf hidup masyarakat. Ini fakta yang tak dapat dipungkiri. Saat ini kita rakyat Indonesia berharap Presiden Jokowi mampu mengatasi walau bukan 100 persen. ♦

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.