75 Tahun Indonesia Merdeka Pertanian NTT Kalah Telak dari NTB: Menakar Etos Kerja, Produktivitas dan Produksi Komoditi Pertanian

75 Tahun Indonesia Merdeka Pertanian NTT Kalah Telak dari NTB:  Menakar Etos Kerja, Produktivitas dan Produksi Komoditi Pertanian

 

Oleh Tony Djogo

Staf Khusus Gubernur NTT Bidang Pertanian

PUBLIK pasti ada yang menilai  bahwa provinsi NTB lebih maju dalam banyak hal di bandingkan dengan NTT. Provinsi NTB mempunyai kemajuan yang lebih besar dan pesat dibandingkan NTT dalam bidang  pertanian.  Saya mencoba  membandingkan NTT dengan NTB dalam beberapa capaian dan indikator pembangunan berdasarkan data statistik pusat baik dari BPS maupun dari Kementerian Pertanian. Kalau kita pelajari statistik ternyata ada beberapa  target pembangunan yang menunjukkan kita (NTT) tertinggal dari NTB padahal kita pernah lebih unggul  di tahun 1990-an.

Luas  provinsi Nusa Tenggara Barat  hanya 18.572  km2  dengan jumlah pulau  864 buah sedangkan Nusa Tenggara Timur Kupang 48.718 km2 dengan 1192 pulau. Jumlah penduduk 2020 diproyeksikan NTB mencapai 5.125.600 sedangkan NTT 5.541.400 (BPS Pusat).

Salah satu perubahan yang  sangat jelas di bidang SDM adalah bahwa jika pada tahun 1999 IPM NTB berada di bawah NTT sekarang NTB di atas NTT.  Dulu NTT lebih unggul dari NTB (paling tidak sampai tahun 1999) tetapi kini NTT merosot ke urutan ke tiga terbawah di Indonesia dalam  konteks kemiskinan, SDM, korupsi, pendidikan dll. Tahun 1999 itu  IPM (Indeks Pembangunan Manusia) NTT berada dalam posisi 24  (ranking 3 dari bawah) sedangkan NTB berada pada posisi dari 26,  ranking paling bawah, dari 26 provinsi di Indonesia. Tetapi kini kita sudah ketinggalan. Tahun 2017 misalnya IPM NTB mencapai 66.58 atau pada posisi 29 dari 34 provinsi sedangkan NTT berada pada posisi 32 dari 34 provinsi di Indonesia. Tahun 2019 IPM NTB mencapai 68,14 sedangkan NTT 65,23.

Dari sudut pandang ekonomi jumlah dan persentase  penduduk miskin NTB pernah lebih tinggi dari NTT  namun tahun 2019 Kemiskinan NTT lebih tinggi dari NTB. Kontribusi NTB pada perkonomian nasional  lebih tinggi dari NTT walaupun kadang pertumbuhan ekonomi kadang NTB lebih rendah. Pengeluaran per kapita NTB di tahun 2019 mencapai Rp. 10.640.000 sedangkan NTT Rp. 7.769.000.- (Sumber Data BPS Jakarta)

Di dalam masyarakat banyak dibahas bahwa orang-orang NTB masuk ke NTT dan berbisnis serta bertani dengan hasil yang sangat nyata. Tidak dapat disangkal bahwa orang NTB mulai dengan sewa lahan pertanian di NTT mengusahakan bawang, sayuran  dan menjual mendapat uang banyak sementara orang kita  termasuk pemilik tanah tertinggal ekonominya. Bukan rahasia lagi bahwa NTT juga mengimpor produk hortikultura dari NTB. Taktik dagang atau bisnis  komoditi pertanian NTB Jelas lebih unggul dari kita. Kita juga “mengimpor”  tenaga terampil dan pebisnis dari NTB.

Salah satu isu yang  saya pikir penting untuk diangkat adalah membuat berbagai perbandingan di bidang pertanian. Mudah-mudahan data dan informasi ini dapat dimanfaatkan secara positif dan konstruktif untuk  segera mulai membangun motivasi, etos dan daya juang  untuk membangun pertanian di NTT yang lebih produktif, berdampak, bernilai ekonomi tinggi.   Untuk itu perlu perbaikan yang fundamental dan agresif di bidang perencanaan, perancangan, inovasi teknologi, pendidikan dan pelatihan dan alokasi anggaran yang lebih berdampak di sektor pertanian. Isu kunci adalah SDM dan manajemen yang professional, modern dan berorientasi bisnis.

Tentu saja pembangunan pertanian adalah urusan publik bukan hanya urusan bisnis dan keluarga.  Bagaimana pemerintah bisa punya perencanaan, design dan alokasi anggaran yang progresif dan agresif untuk membuat perubahan besar-besaran. Bagaimana merubah etos, mentalitas dan daya juang serta keterampilan teknis petani kita. Masih banyak lahan-lahan kosong yang tidak diusahakan walaupun kadang ada air sekalipun. Saya menyaksikan banyak lahan-lahan potensial yang dibiarkan terlantar baik di Sumba, Timor atau Flores. Sementara di desa kita semakin kekurangan tenaga kerja produktif.

Tabel 1. Perbandingan Produksi Beberapa Komoditi Pertanian Provinsi NTB vs NTT (Data 2019)

No. Parameter/Komoditi Indikator NTT NTB
1. Jagung      
a. Luas Panen Jagung  Ha 341,264 306,899
b. Produktivitas Jagung Ton/ha 2,52 6,71
c. Produksi Jagung Ton 859.230 2.059.222
2. Padi      
a. Produktivitas padi rata-rata Ton/ha 3,649 5,135
b. Produktivitas padi sawah Ton/ha 4,171 5,286
3. Produksi Kedelai Ton 16.827 91.724
4. Produktivitas kopi Kg/ha 513 622
5. Produktivitas Kelapa Kg/ha 738 1.027
6.  a. Produksi Bawang Merah Ton 8.254 188.255
b. Produktivitas bawang merah Ton/ha 4.75 11.28
c. Luas panen bawang merah Ha 1.738 16.688
7.a. Produktivitas Bawang Putih Ton/ha 2.43 10.99
b. Produksi Bawang Putih Ton 868 30.453
c. Luas panen bawang putih Ha 358 2.771

Coba lihat  produksi beberapa komoditi  di atas. Luas lahan jagung NTT lebih besar dari NTB tetapi produksi jagung NTB dua kali produksi jagung NTT. Produktivitas juga kita kalah dan total produksi  jagung NTB  (2.059.222 ton) lebih dari dua kali produksi NTT (859.230 ton)   padahal luas lahan  jagung kita lebih besar.  Produksi bawang merah dan bawang putih juga kita kalah jauh. Tidak heran kalau orang NTB jual bawang ke NTT bahkan orang NTB cari lahan di NTT untuk tanam bawang merah. Produksi bawang merah NTB 188.255 ton bandingkan dengan NTT yang hanya 8.254 ton. Luas panen bawang merah NTB (16.688 ha) hampir sepuluh kali luas panen bawang merah NTT (1.738 ha).  Data 2019 juga menunjukkan bahwa produktivitas bawang putih NTB (10.99 ton per ha) lima kali produktivitas bawang putih NTT yang hanya  2.43 ton/ha.  (Data Kementerian Pertanian RI tahun  2019).

Menyedihkan juga bahwa produktivitas kopi NTT (513 kg/ha)  kalah dari produktivitas kopi NTB (622 kg/ha). Padahal kopi NTT sangat terkenal mungkin lebih terkenal dari NTB.

Tabel 2. Perbandingan Populasi Beberapa  Jenis Ternak Provinsi NTB vs NTT  (Data 2019)

No. Ternak Indikator NTT NTB
1. Populasi sapi potong ekor 1.087.615 1.242.749
2. Kambing kor 818.650 701.427
3. Kerbau ekor 174.903 124.527
4. Domba ekor 65.589 27.241
5. Itik ekor 324.938 1.167.694
5. Ayam      
a. Ayam Ras Pedaging ekor 10.137.936 11.976.099
b. Ayam Buras ekor 10.984.790 8.908.650
c. Ayam Ras Petelur ekor 225.389 808.969

Kita sedikit unggul populasi beberapa jenis ternak di sektor peternakan (hanya kambing, kerbau, domba dan ayam buras). Populasi sapi potong  NTB lebih tinggi dari NTT dan  populasi ternak ayam ras petelur NTB  lebih dari tiga kali populasi yang ada  di  NTT. Dari diskusi saya di Sumba ternyata kita juga impor pakan ternak bahkan dedak padi dari NTB.

Sudah bukan rahasia  lagi bahwa daya juang orang kita cenderung lemah apalagi kalau kerja di kampung sendiri dibandingkan dengan pendatang.  Ada banyak persoalan serius yang harus dihadapi dalam keluarga, adat, urusan-urusan sosial yang tidak bisa dihindari dengan konsekuensi biaya baik sosial maupun ekonomi yang tidak sedikit. Urusan adat sangat mahal.

Salah satu tantangan berat bagaimana merubah cara berbisnis di kampung sendiri karena kita harus berurusan dengan banyak persoalan sosial. Pendatang  memusatkan perhatian pada bisnis. Karena itu mereka kerja keras.

Ketika berlibur dan tinggal di Bajawa setelah pensiun selama setahun lebih antara  tahun 2017-2018 saya menyaksikan bagaimana etos kerja orang NTB (dan pendatang lain) dalam pertanian dan bisnis. Hampir  setiap pagi  ketika terbangun pukul 4.30 saya mengintip lewat jendela bagaimana orang Bima dan pendatang lain sudah  bergegas ke pasar atau tempat usaha mereka, bahkan ada yang berjejal naik mobil pickup terbuka, sementara mungkin sebagian besar orang kita masih tidur. Hanya sedikit uge-uge kita yang bergerak lewat depan rumah saya pada jam segitu.

Kita bisa saksikan bahwa banyak kampung di Flores dan Sumba yang kekurangan orang muda karena merantau keluar daerah  sementara orang luar merantau ke daerah kita dan berbisnis termasuk menyewa tanah dan menanam tanaman hortikultura.

Persoalan-persoalan etos kerja masyarakat lokal dan adat juga menjadi salah satu masalah yang saya sudah saksikan di Sumba dan Flores. Kita tidak bisa merubah adat tetapi bagaimana kekuatan adat diarahkan untuk memacu pembangunan pertanian.  Juga persoalan pencurian ternak di Sumba dan bagaimana pencurian komoditi pertanian (seperti vanili di Flores) menjadi masalah serius.

Mudah-mudahan ini informasi dan analisis sederhana ini bisa menjadi motivasi untuk memacu pembangunan pertanian NTT untuk bisa ngebut lebih cepat. Apakah kita bisa berubah dalam 3 – 5  tahun ke depan,  atau kita hanya bisa bangun fondasi, revolusi mental dan perubahan tatanan kelembagaan yang radikal, inovasi teknologi dan bisnis yang lebih jelas dan terarah, lalu hasilnya baru bisa dilihat setelah itu? ♦

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.