Ah, Virus Corona

Ah, Virus Corona

AH, virus corona belum juga pergi dari kehidupan manusia di bumi ini. Masyarakat masih dibelenggu kemerdekaan dan kebebasannya oleh virus ini. Takut mati ya pasti, tetapi manusia seakan tak berdaya. Penduduk desa atau kampung yang jauh dari perkotaan serta tidak ada tamu atau anggota keluarga yang datang dari kota dipastikan aman. Sebab virus ini jangkit melalui manusia.
Warta pandemi virus Corona Covid-19 masih menghantui masyarakat Indonesia. Konon, kali ini, penyebaran melalui orang tanpa gejala yang dinyatakan positif terinfeksi virus Covid-19. Kita diimbau jangan sepele dan tetapla waspada.
Tetap memakai masker, jaga jarak satu sampai dua meter, seringla cuci tangan, jauhi kerumunan orang banyak, berolahraga tiga menit sehari, makan makanan bergizi untuk menjaga ketahanan tubuh. Ini cara tidak diserang virus corona ini.
Berita media bilang sekitar 20 persen dari kasus virus corona, pasien tidak menunjukkan gejala. Para peneliti khawatir jika hal tersebut justru menjadi penyebaran diam virus corona Covid-19 di seluruh dunia.
Sejumlah peneliti yang dipimpin oleh Profesor Li Lanjuan dari the State Key Laboratory for Diagnosis and Treatment of infectious Diseases di Universitas Zhejiang menemukan, sel yang sudah terinfeksi oleh virus mampu melepaskan partikel yang tidak diketahui dalam jumlah besar. Partikel-partikel ini nantinya memiliki gen virus corona yang tidak lengkap serta tidak terbungkus dalam membran pelindung.
Ya berita seperti mengganggu mental masyarakat, gelisah dan trauma. Ada tenaga medis menyarankan agar tetap mengikuti imbauan pemerintah dan tenaga medis supaya tidak diserang virus ini.
Beberapa peneliti menduga orang tanpa gejala mampu menjadi penyebab awal lonjakan kasus di sejumlah negara. Akan tetapi, dugaan tersebut masih belum ada bukti sejauh ini pada kasus virus Covid-19.
Cemas dan khawatir terkait hal itu mendorong WHO atau Organisasi Kesehatan Dunia menarik pernyataan pada bulan April lalu. Di mana pernyataan tersebut berbunyi pasien tanpa gejala tidak mungkin mampu menyebarkan virus.
Akan tetapi, seorang ahli epidemiologi the Chinese Academy of Sciences di Beijing mengatakan, penelitian itu memungkinkan menimbulkan lebih banyak pertanyaan dibanding jawaban. Ini karena partikel yang rusak atau cacat kemungkinan bisa menumpang pada virus penuh. Nantinya partikel cacat tersebut mampu membantu dengan infeksi usai masuk ke sel inang.
Para ilmuwan juga telah menemukan bukti stain virus yang dominan telah beredar di Amerika Serikat dan Eropa lebih menular dibanding di China. Hal ini lantaran memiliki lebih banyak protein lonjakan.
Profesor Li seperti diberitakan, rata-rata masing-masing virus corona di amplopnya ada 26 protein lonjakan yang mengikat pada sel manusia. Itu sekitar sepersepuluh dari jumlah virus influenza. Akan tetapi, kira-kira serupa dengan HIV di mana patogen sangat menular.
Menurutnya, mempunyai lebih sedikit protein lonjakan tidak lantas membuat virus corona tidak terlalu menular. Sama seperti HIV, itu justru sebaliknya. Sementara itu, dikatakan jumlah pasti dalam virus bervariasi. Semakin sedikit paku, maka semakin efisien virus mampu mengikat pada sel. ♦

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.