Ansel Wora Mati Karena Serangan Jantung?

Ansel Wora Mati Karena Serangan Jantung?

Oleh : Silvester Nong M, SH
Penulis : Silvester Nong M, SH – Pengacara, Direktur Lembaga Bina Bantuan Hukum (LBBH) Veritas Jakarta, Pernah Menangani Kasus Kematian Romo Faustinus Sega.

 

DARI mana ahli forensik dr. Arief Wahyono, Sp.F sebagai ‘second opinion’ meyakini dirinya.Dengan membaca hasil Visum et Repertum (VeR) dari Dokter Forensik dr. Ni Luh Putu Eny Astuty, Sp.F., tertanggal 18 Desember 2019-langsung menyimpulkan bahwa Ansel Wora mati karena serangan jantung?
Apakah dr. Arief Wahyono, Sp.F, sedang menyembunyikan kecerdasan analisanya sebagai ahli, sehinga hal sesederhana menurut kacamata awam saja dapat memastikan bahwa Ansel Wora mati bukan karena serangan jantung, akan tetapi ia berkata sebaliknya?
Mari kita baca dan analisis bersama VER itu.

Memahami VeR yang Ada
PADA kesimpulan poin 3 hurif b, oleh dokter Forensik dr. Ni Luh Putu Eny Astuty, Sp.F., yang menyatakan: “Penebalan pembuluh nadi jantung (koroner) kiri depan sebesar lima puluh prosen”. Ahli tidak menyatakan adanya pemyempitan pembuluh nadi jantung dan atau adanya penyumbatan pembuluh nadi jantung.
Kalau ahli hanya menyatakan “adanya penebalan pembuluh nadi jantung (koroner) kiri depan sebesar lima puluh prosen”, maka logika sederhananya, lima puluh prosen pembuluh nadi masih berfungsi normal. Kalau lima puluh prosen pembuluh nadi jantung masih berfungsi normal, lalu apa penyebab terdekat kematian Ansel Wora apabila dinyatakan sebagai serangan jantung?
Dari beberapa referensi sains yang kami dapatkan, bahwa sebab-sebab kematian seseorang karena jantung koroner-yang biasa disebut serangan jantung-, hanya dapat dimungkinkan kalau pembuluh darah tersumbat total. Pertanyaannya adalah, kalau benar ada pembulu darah tersumbat, apa penyebabnya? Hal inilah yang tidak ditemukan dalam hasil VER.
Apalagi ketika dilakukan pemeriksaan Patologi Anatomi di Instalasi Anatomi Patologi RSUD Prof. W.Z Johanes Kupang, dalam VER dinyatakan bahwa pada bagian paru-paru dan jantung tidak didapatkan kelainan nyata pada sampel jaringan paru. Lalu mengapa Ahli Forensik Polri dr. Arif Wahyono Sp.F. menyimpulkan bahwa korban meninggal akibat penyakit jantung?
Kalau kita dipaksa sependapat dengan kesimpulan ahli forensik dr. Arief Wahyono, Sp.F yang ‘second opinion’ bahwa Ansel Wora mati karena serangan jantung, bukankah kita terjebak dalam kesimpulan prematur, ngawur, absurdum dan bahkan menyesatkan?
Lalu, apa penyebab kematian terdekat Ansel Wora berdasarkan VeR itu?

Sebab Kematian Terdekat Ansel
MESKIPUN VeR Dokter Spesialis Forensik Pusdokkes Polri telah mengungkap fakta adanya kekerasan tumpul pada bagian kepala almarhum Anselmus Wora, sebagaimana dapat dibaca pada Kesimpulan VeR butir 2 b dan c, tentang pemeriksaan luar; dan pada butir 3 c, d, f bahwa terjadi kekerasan tumpul pada bagian kepala yang dapat menyebabkan kematian, namun anehnya Dokter Spesialis Forensik pada butir 4 (Kesimpulannya) membuat kesimpulan yang seolah-olah ambigu dengan menyimpulkam bahwa “penyebab kematian korban tidak dapat ditentukan karena jenazah sudah mengalami pembusukan lanjutan”.
Walau demikian, kalimat di atas, tidak berhenti di situ, tidak ada titik atau koma, akan tetapi ahli memakai kata “namun” dilanjutkan dengan kalimat: “…trauma tumpul pada kepala yang menyebabkan pendarahan pada otak dapat menyebabkan kematian…”
Bagis saya, kesimpulan ahli pada poin 4 VeR itulah yang sempurna, tuntas, paripurna, karena kesimpulan VeR poin 4 itu ditarik dari premise, yaitu premise yang ada pada kesimpulan poin 2 huruf b, dan poin 3 huruf c, d dan f. Kesimpulan poin 4 inilah menurut akal sehat dan logika murni dapat disimpulkan sebagai penyebab terdekat atas kematian Ansel Wora.
Apalagi pada Bag. II VeR tentang pemeriksaan luar memyebutkan bahwa ada tanda-tanda kekerasan pada (dahi, pipi, mata, hidung, mulut, dagu, telinga, dada dan perut) namun tanda-tanda kekerasan itu sulit dievaluasi. Disini Dokter Ahli mengakui adanya kekerasan tumpul pada sejumlah tempat akan tetapi sulit dilakukan evaluasi.
Dengan demikian, penyebab kematian Ansel Wora yang paling dekat dan mendekati kebenaran, adalah adanya pendarahan di otak Ini sesuai dengan yang disimpulkan ahli forensik, dr. Ni Luh Putu Eny Astuty, Sp.F. dalam VeR pada poin 4 (empat) yang berbunyi: “trauma tumpul pada kepala yang menyebabkan pendarahan pada otak dapat menyebabkan kematian.”
Kalau demikian, apakah dr. Arif Wahyono Sp.F telah dan sedang melakukan kejahatan terbesar karena berupaya memperalat keahliannya untuk menyembunyikan kejahatan yang sesungguhnya? Tunggu saja jawaban orang yang berkompeten ketika usaha keadilan terus berjalan!

Tengkorak Kepala Harus Rusak?
PENDAPAT dr. Arief Wahyono, Sp.F sebagai ‘second opinion’ bahwa antara kekerasan tumpul yang terjadi di kepala korban dengan pendarahan otak tidak ada kaitannya, karena jika kematian akibat pembunuhan maka seharusnya tengkorak kepala korban rusak. Ini perlu dikritisi.
Sebagai pengacara, saya mempunyai pengalaman sebaliknya. Saya pernah menangani kasus yang ada kekerasan tumpul di tengkorak sedemikian rupa, tetapi tengkorak tidak rusak. Tengkorak utuh. Yang rusak malahan otak yang ada di dalam tengkorak. Otak menjadi berwarna merah keabu-abuan karena bercampur darah.
Mari kita simak perbandingan berikut ini. Ketika ahli forensik ternama, almarhum dokter Mu’nim Idris, melakukan otopsi atas mayat Rm. Faustinus Sega, Pr., maka sebagai Penasehat Hukum Keuskupan Agug Ende, saya langsung mengambil posisi mendampingi beliau. Ketika dokter mengusap dahi korban, kulit dahi langsung terkelupas dan dokter menemukan ada dua titik biru di sebalah kiri dan kanan dahi. Dokter langsung geleng kepala dan memerintahkan asistennya membelah batok kepala korban. Batok kepala dibuka, langsung nampak otak korban penuh darah.
Melihat itu, saya langsung bertanya kepada dokter Mu’nim: “Apakah otak yang penuh darah ini akibat dari pembuluh darah pecah karena strok?”
Dokter Mu’nim menjawab: “Tidak! Kalau pembuluh darah pecah karena strok, itu pendarahan hanya lokal, tidak menyebar. Kalau seperti ini-otak penuh darah-akibat benturan benda tumpul yang sangat keras di kepala.”
Jadi, tengkorak kepala tidak pecah dan rusak sekalipun, proses kekerasan tumpul pada kepala dan pembunuhan bisa terjadi.
Akhirnya kasus Rm Faustinus Sega dapat diselesaikan. Pelakunya ditangkap, diadili, dan masuk penjara.
Apakah dr. Arif Wahyono Sp.F telah dan sedang melakukan kejahatan terbesar karena memperalat keahliannya untuk menyembunyikan kejahatan yang sesungguhnya? Kita tunggu jawaban! Siapa yang harus menjawab? Ya, dari pihak-pihak yang berkompetensi untuk itu. ♦ larantuka.com

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.