Anwar Pua Geno: Tolak Tambang yang Tidak Menyejahterakan Rakyat

Anwar Pua Geno: Tolak Tambang yang Tidak Menyejahterakan Rakyat

 

MANTAN Ketua DPRD provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) periode 2014/2019, Anwar Pua Geno, secara resmi menyetujui penambangan yang disetujui dengan perjanjian dan tidak menyejahterakan rakyat.
Hal ini disampaikan Anwar saat diskusi terkait Polemik Rencana Pendirian Pabrik Semen dan Tambang Batu Gamping di Manggarai Timur yang dilakukan di Hotel Aston Kupang, Jumat 10 Juli 2020. “Karena itu di mana-mana saat ada peluang, tanya saya, bagaimana sikapnya. Saya tidak abu-abu, sikap saya yang pertama, menentang tambang yang ditolak dengan persetujuan, tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan, dan tidak meningkat pada kesejahteraan rakyat, “katanya.
Namun, sesuai dengan peraturan negara, mendukung izin yang sesuai dengan peraturan, peraturan undangan, tidak merusak lingkungan yang didukung. “Karena itu penting kajian AMDAL yang melindungi sumber air kita di Manggarai Timur yang katanya itu untuk kesejahteraan Riung dan Nagekeo,” pungkasnya. Karena itu, ia mengundang semua pihak untuk mengikutsertakan bijihnya. Menurutnya, sebagai warga negara, kita diikat oleh ketentuan konstitusi.
Pasal 33 UUD 45 kata dia, disetujui Bumi, udara, dan kekayaan alam terkandung di dalamnya dikelola olen negara dan dimanfaaatkan sebesar-guna untuk kemakmuran rakyat.
Karena itu menegaskan dia, pemerintah, investor, para ahli harus memastikan bahwa pertambangan ini harus untuk kesejahteraan rakyat Luwuk dan Lengko Lolok di Kabupaten Manggarai Timur, Manggarai dan NTT secara keseluruhan didukungnya.
Ia menghukum menghargai siswa dan WALHI yang menolak tambang.
Untuk diakui, diskusi tersebut dilakukan diwarnai aksi berjalan keluar mahasiswa. Para mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Manggarai Raya (Ammara) Kupang memutuskan keluar dari forum setelah berkonsultasi dengan Gubernur NTT, Viktor Laiskodat dan perusahaan terkait tidak hadir dalam diskusi tersebut. Aksi ini dilakukan saat moderator, Noya Letuna memulai sesi penyampaian materi. Saat itu, mengundang mahasiswa melayangkan interupsi mengundang diundang Gubernur NTT dan pihak perusahaan. Selaku pemandu diskusi, Noya disampaikan, kesempatan bicara nanti akan diberikan kepada peserta mahasiswa. Namun mereka tetap ngotot untuk menyampaikan pandangan. Lantaran tidak diberi kesempatan berbicara, para siswa pun memuji diri sendiri untuk keluar dari forum diskusi.

Apa Alasan Mereka?

Momen kompilasi mahasiwa meminta bicara sebelum diskusi terkait polemik tambang dan pabrik semen dimulai. Diskusi ini digelar di Hotel Aston, Kota Kupang, Jumat 10 Juli 2020.

Koordinator Umum Ammara, Adeodatus Syukur dalam rilis yang diterima media ini mengatakan, kengototan mereka untuk disetujui sebelum diskusi dimulai akan membahas hasil diskusi yang tidak akan membuahkan hasil lantaran. “Diskusi ini menjadi tidak relevan karena aktor-aktor kunci yang terlibat dalam rencana penambangan batu gamping dan pembangunan pabrik semen tidak hadir,” ungkapnya. Selain itu, Deo, demikian disapa disebut mereka tidak mau hadir dalam diskusi tersebut. Alasannya, mereka kecewa karena diskusi publik dilakukan setelah Gubernur NTT mengeluarkan izin eksplorasi dan Bupati Manggarai Timur mengeluarkan izin lokasi.
Bagi mereka, meminta diskusi dan mengeluarkan kebijakan dilakukan sejak awal sebelum pemerintah mengeluarkan izin. “Ada proses yang janggal di sini. Mengapa dari awal diskusi seperti ini tidak dilakukan? ” tegas Deo.

Aksi ‘Walk Out’
Aksi walk out mahasiswa menggambar diskusi terkait polemik pembangunan pabrik semen dan penambangan batu gamping yang dikelola Ultras Victory di Hotel Aston, Jumat 10 Juli 2020 pagi. Para mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Manggarai Raya (Ammara) Kupang memutuskan keluar dari forum setelah berkonsultasi dengan Gubernur NTT, Viktor Laiskodat dan perusahaan terkait tidak hadir dalam diskusi tersebut. Aksi ini dilakukan saat moderator, Noya Letuna memulai sesi penyampaian materi. Saat itu, mengundang mahasiswa melayangkan interupsi mengundang diundang Gubernur NTT dan pihak perusahaan.
Selaku pemandu diskusi, Noya disampaikan, kesempatan bicara nanti akan diberikan kepada peserta mahasiswa. Namun mereka tetap ngotot untuk menyampaikan pandangan. Lantaran tidak diberi kesempatan berbicara, para siswa pun memuji diri sendiri untuk keluar dari forum diskusi.

Apa Alasan Mereka?
Koordinator Umum Ammara, Adeodatus Syukur dalam rilis yang diterima media ini mengatakan, kengototan mereka untuk disetujui sebelum diskusi dimulai akan membahas hasil diskusi yang tidak akan membuahkan hasil lantaran. “Diskusi ini menjadi tidak relevan karena aktor-aktor kunci yang terlibat dalam rencana penambangan batu gamping dan pembangunan pabrik semen tidak hadir,” ungkapnya. Selain itu, Deo, demikian disapa disebut mereka tidak mau hadir dalam diskusi tersebut. Alasannya, mereka kecewa karena diskusi publik dilakukan setelah Gubernur NTT mengeluarkan izin eksplorasi dan Bupati Manggarai Timur mengeluarkan izin lokasi.
Bagi mereka, meminta diskusi dan mengeluarkan kebijakan dilakukan sejak awal sebelum pemerintah mengeluarkan izin. “Ada proses yang janggal di sini. Mengapa dari awal diskusi seperti ini tidak dilakukan? ” tegas Deo.
Menurut Ammara, keputusan untuk hadir dan disampaikan sebelum diskusi sebenarnya untuk disetujui hal itu. “Kami hadir dan diundang memberikan kesempatan bicara, untuk menjelaskan bahwa diskusi ini tidak relevan. Kita boleh berdebat, adu data dan meminta pandangan, namun apakah itu bisa meminta izin? Toh dari awal, pemda tidak punya niat untuk memulai rencana ini dengan terang benderang, “ungkapnya. Ia menyampaikan, Bupati Matim, Andreas Agas malah bertindak sebagai humas perusahaan selama proses izin lokasi dikeluarkan. Jeffri Nyoman, salah satu peserta dari mahasiswa menambah, pihaknya mengapresiasi Ultras Victory yang menginisiasi terselenggaranya diskusi tersebut. Mengecewakan mereka pada panitia diskusi, meminta pihak pemerintah yang tidak melibatkan partisipasi masyarakat dalam mengambil kebijakan sejak awal. “Tentu saja dari diskusi ini sangat baik. Apresiasi kita. Namun, alangkah baiknya jika pemerintah mengadakan diskusi sejak awal. Itu yang kami sesalkan, “ungkapnya. Untuk diakui, Kemenangan Ultras adalah komunitas masyarakat yang mendukung Viktor-Jos menjadi gubernur NTT. Mereka yang perlu menghadiri diskusi ini untuk menjembatani aspirasi masyarakat NTT. “Karena perlu untuk membuat dialog terbuka antara Pemerintah Daerah sebagai pemegang kebijakan dengan mereka yang menentang pembangunan Pabrik Semen. Untuk membahas diskusi ini hadir dalam rangka membangun kembali demokrasi yang berlandaskan musyawarah mufakat, “demikian tulis mereka dalam undangan yang disampaikan melalui Facebook.
Ultra juga telah membuat sebuah wadah bernama FLOBAMORA DISKUSI CLUB (FDC) yang akan hadir setiap bulan untuk membahas masalah-masalah yang menjadi perbincangan publik di bumi Flobamora. Diskusi ini digelar dalam upaya membantu Pemerintah Daerah di bawah kepemimpinan Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) – Josef Nae Soi (JNS) menjadikan NTT Bangkit dan Sejahtera.

Sikap Ammara Kupang
Adeodatur Syukur, diantarkan, diantar mereka ke tambang berangkat dari berbagai alasan. Itu menjelaskan, di wilayah izin tambang dan pabrik itu merupakan perkampungan dan lahan-pertanian yang telah menghasilkan-tahun menghidupi warga. “Kalau lahan pertanian dihilangkan, lalu di mana sumber kehidupan untuk generasi mendatang? Pemerintah harusnya tidak hanya memikirkan soal uang yang ada di mimpi-impikan masuk ke daerah khas yang juga bisa terlihat fantastis tapi sebetulnya tidak tantangan, “katanya.
Itu menambah, pemerintah mengeluarkan tidak terpesona dengan klaim itu karena faktanya perusahaan tambang mangan yang sebelumnya hadir di sekitar dua kampung itu tidak membawa perubahan signifikan. “Bertahun-tahun mereka pindah, tetapi tidak ada perubahan bagi warga lokal, sementara digunakan lubang tambang terus menganga, tanpa ada perbaikan,” katanya. “Kini perusahan datang lagi dengan janji Terlihat dan pemerintah malah ikut memberi karpet merah pada perusahaan,” tambahnya.
Dengan menambahkan, sebagai mahasiwa mereka memerlukan hak untuk menyuarakan keperihatinan pada rencana investasi ini, mempertimbangkan tambang dan pabrik ini tidak hanya membahas masalah jual beli tanah di dua kampung, tetapi juga memerlukan hak hidup banyak orang. “Kita tahu rencana penambangan dan pabrik semen yang terintegrasi dengan pembangunan PLTU batubara serta terminal pengepakan dan pelabuhan membawa potensi kerusakan yang dahsyat dan berkepanjangan mengingat lokasi penambangan dan pabrik ini dekat dengan pemindahan warga,” katanya.
Ia menjelaskan, melaporkan, seperti debu yang dihasilkan oleh kegiatan industri semen, juga membawa dampak besar bagi daerah-daerah sekitar.
“Pemerintah tidak dapat menyederhanakan solusi terhadap masalah lingkungan dengan adanya dana reklamasi atau ASR (Pengabaian dan Pemulihan Lokasi) karena dalam praktiknya dana tersebut tidak akan pernah cukup untuk memulihkan kerusakan Lingkungan yang disebabkan karena kebijakan yang tidak jelas dan bermanfaat asal-asalan,” katanya. .
Selain itu, jelasnya, wilayah yang akan ditambang merupakan satu-satunya ekoregion perbukitan karst di Pulau Fores yang telah disahkan oleh Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2018 tentang penetapan wilayah ekoregion indonesia. “Wilayah karst ini menjadi pengatur udara yang menyediakan suplai udara bersih bagi daerah sekitar yang menyediakan penghidupan bagi seluruh komunitas di barat Pulau Flores, khusus dari Reo di Kabupaten Manggarai hingga Riung di kabupaten Ngada,” katanya. Alvino Latu, anggota Ammara menambahkan, mendukung Ekstrim didukung, pemerintah mesti memaksimalkan bantuan pemberdayaan untuk masyarakat, terutama di bidang-bidang yang mendukung pembangunan berkelanjutan, termasuk pemenuhan infrastruktur-infrastruktur dasar, seperti pertanian dan air bersih. ♦ voxntt.com

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.