Ata Modo dan Komodo Sama-Sama Terancam

Ata Modo dan Komodo Sama-Sama Terancam

Oleh Yulius Regang

WACANA tentang penutupan objek wisata Pulau Komodo dan relokasi warga yang menetap di pulau Komodo semakin kuat dikumandangkan oleh gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur, Viktor Bungtilu Laiskodat. Tujuannya agar penataan objek wisata pulau Komodo dan konservasi kadal raksasa komodo bisa berjalan dengan baik.
Seiring menguatnya komitmen pemerintah provinsi Nusa Tenggara Timur untuk menutup objek wisata pulau Komodo selama setahun dan relokasi warga (Ata Modo), gelombang aksi protes dari warga yang bermukim di pulau Komodo terus berdatangan.
Kemarahan masyarakat yang berdomisili di pulau Komodo (Ata Modo) kian memuncak pasca pemerintah provinsi Nusa Tenggara Timur menelurkan wacana penutupan objek wisata pulau Komodo selama setahun dari aktivitas pariwisata dan relokasi warga (Ata Modo) yang bermukim di pulau Komodo untuk kepentingan konservasi.
Reaksi dan aksi masyarakat yang timbul atas sebuah kebijakkan tentu memiliki alasan yang kuat. Antara lain Ata Modo dan para pelaku pariwisata yang telah menggantungkan hidup sepenuhnya pada sektor pariwisata akan mengalami kehilangan pendapatan. Untuk itu perlu ada solusi bersama yang saling menguntungkan. Prinsipnya, Ata Modo Sejahtera-Komodo lestari.
Setelah mencermati isi wacana gubernur provinsi Nusa Tenggara Timur untuk melakukan penutupan objek wisata komodo, penataan pulau Komodo dan relokasi warga (Ata Modo) yang disambut gelombang aksi oleh masyarakat Komodo, ternyata ada 1001 kasus yang sedang mendera dunia pariwisata kita dan mengancam keselamatan komodo itu sendiri.
Kebijakkan gubernur provinsi Nusa Tenggara Timur Viktor Bungtilu Laiskodat bukan tanpa alasan, tetapi berangkat dari banyaknya kasus yang menyelimuti cantiknya paras pulau Komodo dan keajaiban komodo itu sendiri. Mulai dari Karcis masuk yang diduga syarat pungli, perburuan rusa secara liar, kebakaran hutan hingga aksi penangkapan dan perdagangan satwa komodo.
Perilaku manusia yang mengusik keberlangsungan hidup kadal raksasa Komodo menandakan bahwa masyarakat yang bermukim di pulau Komodo, sudah tidak mampu memosisikan diri sebagai “saudara” dari binatang purba yang bernama komodo. Aksi penjualan bayi komodo, perburuan liar, kebakaran hutan dan aktivitas pariwisata yang terus menerus sangat menghambat perkembangbiakkan komodo dan bisa mengancam populasi komodo.
Di sisi lain pemerintah perlu mempertimbangkan posis “Ata Modo” yang sudah bertahun-tahun bahkan ribuan tahun menetap dan menggantungkan hidup dari sektor pariwisata. Tetapi alasan ini tidak bisa dijadikan alibi bagi, “Ata Modo” untuk tidak mengindahkan niat baik pemerintah untuk kepentingan masyarakat, untuk penataan objek wisata alam pulau komodo dan untuk kepentingan jangka panjang khusunya generasi sesudah kita.
Saat ini posisi Ata Modo dan komodo sama-sama terancam. Jika komodo punah, maka masyarakat (Ata Modo) dan para pelaku pariwisata akan kehilangan sumber pendapatan, karena komodo menjadi satu-satunya sumber yang bisa mendatangkan rupiah bagi Ata Modo dan para pelaku pariwisata. Agar Ata Modo dan komodo tetap eksis, pelaku pariwisata tetap bergairah dan saling menguntungkan, maka karcis masuk menuju objek wisata perlu dibenah, Ata Modo perlu menghentikan aktivitas perburuan liar, perdagangan satwa komodo, merusak lingkungan dan harus memberi ruang kepada satwa komodo untuk berkembang biak dan beristirahat sejenak dari gangguan para wisatawan.
Ata Modo tidak cukup mengaku sebagai saudara dari satwa langka komodo, tetapi perlu memberi ruang toleransi kepada komodo untuk menikmati alam bebas pada habitatnya tanpa harus ada gangguan dari manusia. Menjadi sangat tidak manusiawi, ketika generasi kita dewasa ini dengan congkak mengeksploitasi kekayaan alam secara liar dan tidak bertanggung jawab, tanpa memperhitungkan bahwa karya Tuhan yang sama juga akan dinikmati oleh anak dan cucu kita dimasa yang akan datang.
Hemat penulis semua persoalan yang muncul pasti ada jalan keluar terbaik, problemnya belum bertemu atau berhadap-hadapan dalam nuansa budaya. Kita mesti berpikir yang terbaik untuk rakyat dan komodo,untuk kepentingan kita dan generasi sesudah kita. Kita perlu tinggalkan sikap ego untuk mementingkan diri sendiri tanpa memikirkan generasi di masa yang akan datang.
Mohon perhatian semua pihak, pemerintah, masyarakat, pelaku pariwisata, aktivis lingkungan, tentang keberlangsungan hidup manusia dan keselamatan satwa komodo yang sama-sama memprihatinkan. Kesulitan hidup masyarakat harus segera dihentikan. Aksi perburuan liar, pembakaran hutan di pulau Komodo dan sekitarnya, penagkapan dan perdagangan satwa komodo serta pemusnahan rusa harus segera diakhiri.
Pemerintah provinsi NTT punya niat baik untuk melakukan konservasi Komodo demi anak cuku di masa yang akan datang, mengeliminir para pemburu liar dan para pencuri komodo. Kita perlu selamatkan karunia Tuhan yang telah diberikan kepada kita semua.
Sebagai rakyat, penulis mendukung kebijakkan Gubernur NTT, tetapi dengan catatan, kita selamatkan komodo jangan lengserkan rakyatnya. Kita perkuat jalinan keyakinan budaya masyarakat lokal yang menarasikan bahwa Ata Modo (orang komodo) dan satwa komodo adalah saudara.
Masyarakat komodo perlu diberi pemahaman, pengetahuan dan keterampilan lebih untuk menjaga, melindungi, melestarikan satwa langka komodo, selain untuk menopang keutuhan atas nama sejarah, juga menjaga kelangsungan hidup masyarakat dan perlindungan komodo.
Masyarakat komodo harus menunjukkan sikap menghargai, menghormati dan melindungi serta tidak bersikap eksploitatif yang dapat merugikan publik dan sumber-sumber penghidupan yang ada di pulau Komodo, Padar dan Rinca.
Mari kita bangun dialog, pemahaman dan konsep dengan mengedepankan semangat budaya yang kita miliki, hindari cara-cara otoriter dan anarkis agar apa yang kita pikirkan, kita camkan dan kita laksanakan dalam damai demi masa depan kita yang lebih baik. Jangan sampai kebijakkan datang, komodo hilang dan rakyat dibuat menderita.
Manfaat konservasi itu akan berguna bagi generasi selanjutnya. Kita perlu giatkan gerakkan “save komodo” di pulau komodo, Padar dan Rinca. Hentikan perburuan hewan liar seperti rusa, dan perdagangan satwa langka komodo. Semua pihak baik pemerintah, masyarakat dan para pelaku pariwisata hendaknya menjaga, melindungi dan melestarikan komodo, sebagai salah satu dari 7 keajaiban dunia. Pelestarian komodo merupakan tanggung jawab semua pihak. Kita semua berharap, apa yang digagas oleh pemerintah provinsi Nusa Tenggara Timur tidak menimbulkan kerugian bagi masyarakat setempat (Ata Modo), pelaku pariwisata dan satwa komodo itu sendiri.
Lindungi masyarakat, lindungi komodo, seret para penjahat lingkungan, pedagang komodo hingga ke liang lahat. Saatnya kita lawan, selamatkan komodo demi generasi yang akan datang. ♦ seword.com

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.