Bank NTT masih bergejolak di 2019

Bank NTT masih bergejolak di 2019

♦ Seputar (Rekayasa) Pergantian omisaris dan Direksi Bank NTT

PROSES penjaringan calon pengurus Bank NTT sudah selesai di tingkat Komite Renumerasi dan Nominasi (KRN). Dalam waktu dekat, tujuh nama yang disetujui Gubernur NTT Viktor B. Laiskodat selaku Pemegang Saham Pengendali (PSP) Bank NTT itu akan diusulkan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk terkait penjaringan calon pengurus Bank NTT kini mulai tercium.
Diduga kuat, beberapa nama yang didorong sebagai calon pengurus sudah diseting sejak awal. Bahkan sejak sebelum Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) digelar pada Rabu 28 November 2018.
Informasi yang berhasil dihimpun Timor Express dari beberapa sumber tepercaya menyebutkan,
“Sebelum ada rencana pelaksanaan RUPS-LB, calon Direktur Utama (Dirut) yakni Absalom Sine dan Hilarius Minggu dan calon Direktur Umum (Dirum) yakni Didakus Leba dan Bonefasius Ola Masan sudah diproses OJK. Tinggal saja menunggu untuk dipanggil mengikuti fit and proper test.
Tetapi, akhir Oktober atau awal November, ada beberapa orang yang mengaku sebagai Tim Pembina BUMD utusan PSP. Mereka, Juvenile cs, beberapa kali datang ke Kantor Pusat Bank NTT. Mereka adalah, Juvenile Jodjana (calon tunggal Komut Bank NTT saat ini, red), Hadi Djawas (Plt. Komisaris PT Flobamor) dan Andre Zakarias (ASN di Biro Ekonomi Setda NTT). Orang-orang ini mengaku sebagai utusan PSP. Saat ditanya, mereka bilang tanyakan saja ke Gubernur. Tapi sampai dengan RUPS-LB, namun tidak ada SK resmi yang menegaskan bahwa mereka itu utusan PSP.

Pertemuan Pertama:
Mereka, Juvenile Jodjana Cs, melakukan pendekatan dengan pengurus Bank NTT, termasuk KRN. Mereka meminta meminta pihak Bank NTT menggelar RUPS-LB sekaligus membatalkan putusan RUPS sebelumnya.
Meminta digelarnya RUPS-LB, Juvenile cs saat itu juga membuat konsep calon pengurus Bank NTT. Pada setiap jabatan sudah dicentang. Satu-satunya jabatan yang ditidak dicentang (ditulis open yang artinya terbuka untuk semua) hanyalah calon Dirum. Sedangkan jabatan Komut, Komisaris Independen dan Dirut sudah langsung dicentang. Artinya sudah ada calonnya.
Konsep itu dicatat di papan maksudnya sudah ada orang untuk mengisi posisi itu. Hanya calon Dirum yang dibiarkan bebas. Dalam konsep tersebut juga memuat dua nomor handphone. Satu dari dua nomor tersebut belakangan diketahui sebagai nomor ponsel Juvenile.

Pertemuan Kedua.
Juvenile Jodjana Cs, meminta agar SOP pencalonan yang sudah ada diubah. Sebab sesuai SOP yang lama, syarat untuk menjadi Dirut harus sudah menjadi direksi eksisting di Bank NTT. Selain itu, mereka meminta agar SOP yang mengatur soal pencalonan Komisaris Independen dengan batas usia maksimal 60 tahun (saat pendaftaran) juga diubah. Bahkan mereka meminta agar semua calon yang diusulkan dibiayai oleh Bank NTT saat mengikuti ujian sertifikasi manajemen risiko.

Pertemuan Ketiga.
Hadi Djawas dan Andre Zakarias, (Juvenile berhalangan hadir dan hanya berkomunikasi melalui sambungan telepon seluler). Membahas pelaksanaan RUPS-LB dan penjaringan calon. Mereka meminta agar setelah calon-calon dijaring, tidak perlu lagi dibawa ke RUPS. Tetapi langsung ke PSP dan diteruskan ke OJK.
Padahal, sebelum dibawa ke OJK, hasil kerja penjaringan calon harus dipertanggungjawabkan dalam RUPS. Pejabat di KRN sempat bilang agar dibawa ke RUPS supaya jangan ditolak OJK. Tapi Hadi Djawas mengatakan bahwa nanti mereka yang amankan OJK.

Pertemuan Keempat.
Sebelum pelaksanaan RUPS-LB, Hadi Djawas dan Andre Zakarias, Juvenile bertemu pihak Bank NTT. Mereka membahas soal pemantapan SOP; serta meminta biaya sertifikasi manajemen risiko dibiayai oleh Bank NTT.

Jelas khan.
Saat pelaksanaan RUPS-LB, Juvenile, Hadi Djawas dan beberapa calon yang sudah diseting untuk ikut dalam pencalonan seperti dua pejabat Bank Artha Graha, yakni Billy Tjoanda dan Renal Kandijo juga ikut dalam RUPS-LB. Padahal yang boleh ikut rapat hanyalah PSP, pemegang saham, direksi dan komisari; tetapi Hadi Djawas dan Andre Zakarias, Juvenile, juga ikut masuk, bahkan ikut bersuara. Ketika pada bahasan penjaringan calon, Juvenile minta agar Herman Wahyudi (mantan pejabat Bank Artha Graha di Papua) juga diakomodir sebagai calon Direksi. Sambil ‘mengancam’ bahwa Herman Wahyudi tidak masuk, maka Juvenile, Renal dan Billy akan mundur dari pencalonan. Faktanya, ketika Herman Wahyudi tidak diakomodir, Juvenile justru tidak berani mundur dari pencalonan.
Seorang sahabat Timex mengatakan, “Power orang ini (Juvenile) benar-benar luar biasa. Sejak awal sampai penetapan oleh PSP, dia masih melakukan intervensi sehingga dia menjadi calontunggal.” Sikon tersebut menjadikan beberapa kalangan prihatin dengan masa depan Bank NTT ke depan. Tapi masih bersyukur ada pejabat internal yang konsisten untuk ikut dalam pencalonan.
Sementara itu ketika Timex meminta konfirmasi dari Juvenile Jodjana sebagai calon tunggal Komut Bank NTT, menyatakan bahwa, “Tahapan pencalonan tengah berproses.” Saat ditanya keterlibatan dia dalam mengatur calon pengurus Bank NTT, Presiden Direktur Trans Nusa Aviation Mandiri tersebut, tidak memberikan komentar, dan berkata, “Maaf saya belum mau komentar apa-apa karena ini sifatnya confidential. Silakan konfirmasi ke pengurus Bank NTT yang berwewenang.” Hal senada juga disampaikan Hadi Djawas, “No comment. Cek saja ke pengurus yang memberi info.”
Terkait dugaan settingan Komisaris dan Diresksi Bank NTT tersebut, Kepala OJK Provinsi NTT, Robert H. P. Sianipar mengakui bahwa belum menerima dokumen pengajuan calon pengurus Bank NTT. Selanjutnya menurut Sianipar, “Semua calon yang diajukan akan diproses OJK sesuai ketentuan yang berlaku.”
Keisha: Ternyata, Orang-orang yang Mengaku Tim Pembina BUMD, tanpa SK Gubernur, bertindak atas nama Guberenur membuat rencana agar masuk ke Bank NTT. ♦ berbagai sumber

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.