“Bank NTT Terancam?”

"Bank NTT Terancam?"

 

BANK Pembangunan Daerah (Bank NTT) terancam. Terancam akibat manusia-manusia rakus akibat gagal paham arti sesungguhnya “Bank Pembangunan Daerah). Zaman sebelumnya bank milik rakyat NTT ini, aman dan nyaman. Bahkan seorang Ams Corputy sukses membangun sebuah gedung megah berlantai lima sebagai kantor pusat dan sejumlah cabang.
Mengapa bank ini terancam? Pertama manusia yang dipercayakan mengelolah bank ini harus memiliki hati nurani, harus memiliki sifat tidak serakah, tidak rakus. Sekiranya para pengelolah bekerja dengan sungguh seperti tag lain bank ini “melayani dengan sungguh’ pasti bank ini tidak bakal bersih. Para pengelolah tempo doeloe beda dengan sekarang.
Doeloe tidak ada staf Bank NTT yang sampai dibui hanya karena tidak jujur, hanya karena rakus dan tidak setia pada panggilan. Hatinya ‘terperosok’ gemerlapan dunia ini. Ingin kaya, ingin mendapatkan uang yang lebih. Tidakkah paham bahwa hidup ini hanya sementara dan hanya sebuah sandiwara. Warta di bulan Juni 2020 sejumlah pencuri atau koruptor ditangkap jaksa, menyedihkan hati kita. Kerugian Negara sangat besar, ditengah rakyat NTT yang miskin tak berdaya.
Slogan Bank NTT atau iklan menunjukan bahwa para pengelolah bank ini, disaat ini menurut saya pribadi kurang mampu. Lihat iklan di media atau akun para pengelolah, bukan iklan kepada rakyat tetapi hanya ASN. Padahal Bank NTT, bukan Bank ASN. Jika sekadar orientasinya diperuntukan kredit dan kemudahan hanya untuk para ASN, rubahlah saja namanya menjadi BANK ASN.
Bank ini yang saya amati, para pengelolahnya tidak berpegang pada motto bank ini,” Melayani Dengan Sungguh, tetapi melayani untuk kepentingan pribadi atau golongan. Gaji para pengelolah sangat besar dari pucuk sampai ranting. Belum lagi kaum komisaris atau ada yang sudah pensiun dari jabatannya sebagai ASN masih dipakai hanya karena rekan atau sahabat. Ada tu rinciannya, tetapi tidak dirinci dan tidak dipulikasikan kepada rakyat NTT selalu pemilik bank bahkan pemegang saham melalui para bupati dan walikota.
Ini bank didirikan oleh para pendiri NTT dalam rangka menolong rakyat, bukan menolong ASN hanya karena para ASN memilik jaminan ada gaji tetap dan para pengelolah tinggal ‘enak’ potong gaji setiap bulan. Ada ASN yang menjerit kesakitan akibat perlakukan oknum-oknum di Bank NTT. Gubernur selaku pemegang saham pengendali perlu segera merombak system pelayanan bank ini agar segera dipercaya rakyat NTT.
Bahwa para direksi saat ini, dibawa kendali Aleks Riwu Kaho bersama ketiga rekannya kompak selamatkan bank ini, tentu menjadi harapan pemerintah dan seluruh rakyat NTT. Salah bukti dirut sebelumnya dicopot karena tidak mencapai lima triliun menjadi salah satu bukti. Seperti janji, Aleks Riwu Kaho sebagai Plt. Dirut, Direktur Umum Yohanis Landu Praing, Direkur Kepatuhan Hilarius Minggu dan Direktur Dana Absalom Sine menyatakan tekad menyelamatkan Bank NTT dari terpaan badai krisis akibat Covid-19. Keempatnya ‘kompak’ dan bahkan Direktur Kepatuhan Hilarius Minggu berjanji,” Nyawa Taruhannya” demi kemajuan Bank NTT dan berdasarkan pengalaman malang melintang selama di Bank NTT, akan mencari solusi terbaik dari keadaan yang terburukpun. Tekad ini menurut Aleks Riwu Kaho demi menjaga kepercayaan Pemegang Saham Utama Gubernur NTT, para bupati, pemegang seri A dan seri B pada RUPS 6 Mei 2020 di Kantor Gubernur.
Keempat pejabat Bank NTT, Kamis 14 Mei 2020 mengundang semua media untuk berbagi rasa, sambil memohon kerjasama agar masyarakat tidak perlu risau dan gelisah dan diajak untuk tetap menabubung di Bank NTT, karena bank ini milik rakyat NTT. Menurut Plt. Dirut Bank NTT Alek Riwu Kaho,” Bank NTT tetap survive. Jadi masyarakat tidak perlu panik, walau kita semua dalam kondisi lesuh karena virus corona. Kita mengajak semua elemen masyarakat, kalangan agama kiristen, islam dan Budha, Hindu memhon kepada Tuhan agar krisis ini segera berlalu.”
Aleks Riwu Kaho selaku Plt. Dirut mengaku akan berbuat terbaik, bersama ketiga rekan kerja untuk tetap kompak sesuai tugas dan tupoksi mulai Dirum, Direktur Kepatuhan dan Dirut Dana. Direktut Kepatuhan menegaskan, “Akan menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya agar Bank NTT tetap eksis. Pertama, Bank NTT masih dinilai baik. Sebagai Direktur Kepatuhan saya punya tugas menitigasi, dan mengkaji secara mendalam, baik pembukaan kantor baru, pemberian kredit, memastikan supaya teman-teman direksi menjalankan tugas dengan baik. Jadi ada delapan persoalan yang harus saya jalani dengan baik. Tahun 2020 ini, bank ini tetap sehat. Dan sampai saat ini, masih dinilai cukup sehat. Yang menilai Otoritas Jasa Keuangan.”
Jika keempat direksi tidak mampu maka status bank ini diturunkan status menjadi Bank Prekreditan Rakyat (BPR), manakala tidak memenuhi ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) modal sebesar Rp 3 Triliun pada 2024.
Modal Bank NTT sebesar Rp 1,7 triliun sehingga masih kekurangan sebesar Rp 1,3 triliun guna mencapai ketentuan Rp 3 Triliun. Manajemen Bank NTT saat RUPS telah meminta kepada Pemerintah Provinsi dan kabupaten/kota untuk menyertakan modalnya sebesar Rp 300 miliar setiap tahunnya, sehingga bisa terpenuhi pada 2024. Ini memang cara tempu yang sangat muda. Padahal para bupati atau walikota mendapatkan uang darimana, ya dari pajak yang rakyat bayar. Semoga. ♦

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.