Belum Teraliri Listrik, Warga Niopanda-Ende Merasa Dianaktirikan

Belum Teraliri Listrik, Warga Niopanda-Ende Merasa Dianaktirikan

PEMERINTAH menargetkan untuk melistriki seluruh desa di Indonesia. Khusus, tahun 2020 ditargetkan tingkat elektrifikasi mencapai 100 %. Namun ambisi ini masih menjadi harapan palsu bagi sebagian desa di Kabupaten Ende. Bagaimana tidak, beberapa desa belum dialiri listrik hingga saat ini. Di wilayah Kecamatan Detukeli misalnya, proyek listrik yang berlangsung selama tiga tahun hanya mampu menancapkan tiang-tiang listrik. Sementara, instalasinya belum terpasang. Masyarakat gigit jari karena listrik belum menerangi rumah-rumah mereka.
Tiga desa di wilayah Kecamatan Nangapanda juga mengalami hal serupa. Warga desa mengeluh dengan ketiadaan pasokan arus listrik. Masalah ini telah disampaikan berulang kali kepada pihak PLN maupun melalui Forum Musrenbangcam. Namun hingga tahun 2020, persoalan ini belum ditindaklanjuti.
Di hadapan Anggota DPRD Ende Vinsen Sangu yang melakukan Reses di Desa Niopanda pada akhir Januari lalu, persoalan listrik lagi-lagi menjadi sorotan.
Masyarakat meminta wakil rakyat yang juga Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Ende itu untuk membangun komunikasi dengan pihak PLN terkait kebutuhan listrik di Desa Niopanda. “Kami di sini ada empat dusun pak. Dusun Tanadedu sudah ada listrik sejak tahun 2015. Sedangkan dusun Niopanda 1, Niopanda 2, dan Dusun Detupemo belum ada listrik. Padahal jaraknya tidak terlalu jauh. Jangan anaktirikan kami. Kami minta bapak dewan bantu suarakan masalah ini,” ungkap Yakobus Seke, warga Desa Niopanda.
Selain masalah listrik, warga juga mengusulkan kepada Pemerintah Kabupaten Ende untuk memperbaiki akses jalan Niopanda-Loboniki. “Itu jalan ada 8 Kilometer. Dua kilometer sudah dibangun dengan dana desa. Sisanya kami minta ada intervensi dari pemerintah kabupaten,” harap Marsel, warga Desa Niopanda lainnya.
Anggota DPRD Ende Vinsen Sangu di depan masyarakat menyampaikan komitmennya untuk terus membangun komunikasi dengan warga. “Saya harap bapak ibu tetap semangat dan partisipatif membangun desa. Apa yang tidak bisa kita lakukan akan dikomunikasikan dengan pemerintah kabupaten. Tentu akan kita lihat dengan kemampuan keuangan daerah,” tandas Vinsen Sangu. ♦ ekoranttc.com

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.