Bencana

Bencana

KITA baru saja bersedih atas bencana gempa di Lombok dan Palu Seulawesi Tenggara, bencana-bencana kehidupan datang sili berganti. Air mata bercucuran derita berkepanjanga. Kita disuguhi bencana pesawat Lior Air 6-10 pada Senin 29 Oktober 2018 jatuh di utara Kerawang Jawa Barat. Merenggut nyawa awak dan penumpang 189 orang. Ini duka nasional. Dari Januari sampai Oktober 2018 sudah ribuan kali. Bencana datang tanpa pemberitahuan. Manusia tak dapat mengelak atau menolaknya.
Bencana tidak hanya datang secara nasional, tetapi datang juga pada manusia secara pribadi atau kelompok. Sesama yang sakit berat, sakit ringan maupun kronis juga bencana. Keluarga atau kerabat pasti ikut bersedih. Ada pula angina putting beliung memporakporandakan kehidupan ini, manusia maupun tanaman, alam di sekitar kita.
Tentu bencana alam selama 2018 memakan ribuan korban. Kita dituntut menyiamak secara saksama peristiwa yang menakutkan ini. Menakutkan saat kejadian, sedih dan duka lara setelah mengalaminya. Sukacita tentu saja memubtuhkan waktu. Akankah bencana alam akan pergi selamanya? Tentu tidak. Manusia mesti waspada, manusia mesti bersiap diri, mesti waspada dan berdoa kepada Sang Penguasa Bumi ini.
Di Indonesia ada lembaga yang menangani masalah bencana. Nama lembaga itu ialaj Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPD. Lembaga ini pun rapuh tak berdaya manakala bencana datang silih berganti. Kerugian sangat besar mencapai triliunan rupiah. Bencana alam itu sendiri dialami manusia Indonesia itu sendiri.
Ada bencana orang miskin yang jumlahnya tak terhingga. Karena miskin, generasi penerus tak mampu membiayai pendidikan ke jenjang lebih sampai tuntas. Karena miskin, tidak mampu berobat ke rumah sakit atau puskesma. Ya terlalu banyak bencana yang datang kepada orang intelek.
Ada begitu banyak orang intlek, cendekiawan yang bijak juga menciptakan bencana dengan cara adu domba rakyat miskin dan pemerintahan resmi yang masih berkuasa.
Bencana sosial lebih dahsyat disbanding bencana alam yang datang secara tiba-tiba. Kekacauan sekelompok orang dengan cara berdemo, membakar bendera suatu etnis walau sudah dilarang hadir di negeri ini menjadi bencana nasional. Mengapa saya menyebut bencana nasional, karena melibatkan apara keamanan dan kaum ulama. Hal kecil menjadi persoalan besar dan memakan korban.Ini semua rancangan manusia berhati sangat jahat.
Saat ini yang sedang ramai diperbincangkan dan dikeluhkan adalah tenaga honor. Mereka yang honor adalah manusia kurang waras. Ada pegawai honor dengan tidak standar atau dibawa kebutuhnan hidup sebulan atau bahkan ongkos transport tidak layak, tetapi mau juga menjadi tenaga honor.
Ini fakta dan butuh pertolongan pejabat yang sedang berkuasa. Namun yang sangat penting manusia menghindar lembaga termasuk sekolah di kampung-kampung yang merekrut tenaga honor. Menolong diri adalah dewa penolong sangat dipuja. Menolong diri sangat terhormat dan terpuji di mata Tuhan.
Beberapa waktu lalu, ratusan tenaga honor mendatangi Gubernur NTT Viktor Bung Tilu Laiskodat. Bisakah Gubernur Viktor Laiskodat menolong? Jawabannya bisa. Guerbernur menyarankan para guru honor itu untuk berwira usaha. Usaha sendiri.Apakah bisa memulai? Bisa. Kalau para guru honor tidak menilai tenaga honor adalah perbuatan yang kurang terpuji, ngemis sana ngemis sini. Ngemis pada lembaga swasta tetapi ngemis juga kepada Negara.
Di sisi lain, guru honor mencerdaskan anak generasi. Pertanyaannya, kalau guru tidak mengajar apakah anak murid bisa pintar? Bagaimana guru honor bisa mengajar kalau perut tidak terisi. UUD isinya, salah satu butir bahwa manusia Indonesia, termasuk mereka yang terlantar menjadi tanggungan Negara.
Faktanya Negara kewalahan menanggungi bencana kemanusiaan ini. Seluruh anak Indonesia di selurug pelosok negeri mengeluh. Namun keluahatan mereka tak terjawab karena berdomisili di hutan-hutan, pelosok yang tak dapat dingkau oleh pemerintah. Tetapi mereka yang tak terjamah masih hidup dan menyaksikan fakta ziarah kehidupan ini. ♦

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.