Berpikir dan Bertindak: “Out of the Box” Versus “Inside The Box”

Berpikir dan Bertindak: "Out of the Box" Versus "Inside The Box"

Oleh: Giorgio Babo Moggi

 

BUPATI Johanes Don Bosco Do langsung menggebrak Nagekeo dengan AKSI NYATA. Membersihkan sampah dan menata pasar Danga. Satu-satunya pasar di jantung ibukota. Di awal, dalam bathin, saya sempat bertanya dengan uang darimana ia membiaya seluruh pekerjaan itu? Apalagi pekerjaan tersebut dilakukannya di awal tahun. DPA saja mungkin belum jadi.
Penulis tak sendirian. Antonius Moti dan Yohanes K. Gore, Anggota DPRD Nagekeo pun mempertanyakan hal yang sama (Sergap.Id, 22/01/2019). Di satu sisi, mereka mengapreasi niat baik Bupati Nagekeo. Di lain sisi, mereka mempertanyakan sumber pembiayaan?
Anggota DPRD termasuk Antonius Moti dan Yohanes K. Gore sangat paham soal siklus perencanaan. Bahkan mereka tahu betul detail program dan kegiatan setiap tahun anggaran. Mungkin juga mereka menghafal semua program dan kegiatan SKPD. Hebat, khan? Dan, itu wajar. Mereka jua yang membahas anggaran, program dan kegiatan.
Penulis dan kedua anggota DPRD Nagekeo ini bertanya hal yang sama, tapi MUATAN atau NUANSA di dalam pertanyaan itu pasti berbeda tujuan. Pertanyaan dua orang anggota DPRD Nagekeo ini (mungkin) bernuansa politis, sedangkan pertanyaan saya lumrah. Tanpa kepentingan apapun, selain penasaran dengan gebrakan bupati yang akhirnya menuai kritik ini. Kok, bisa ya dana belum cair Bupati berani bikin terobosan penataan pasar, misalnya. Langkah kepemimpinan yang inspiratif, khan?
Posisi dr. Don memang menghadap situasi sulit di awal kepemimpinan. Dirinya dan Wakil Bupati, Marianus Waja, hanya melaksanakan program dan kegiatan yang sudah dirancang. Harapannya, pada perubahan anggaran nanti, mereka dapat menyisip program dan kegiatan untuk memenuhi janji kampanye mereka. Tapi, apakah kedua pemimpin harus menunggu masa perubahan anggaran agar visi dan misi dieksekusi? Pasti tidak!
Salam perubahan yang didengungkan tak sekedar salam. Salam yang harus diwujudkan dengan aksi cepat tanggap. Soal darimana uangnya, ya itu tugas pemimpin mencarinya. Kita tak boleh berpikir soal administrasi yang normatif apalagi mengajarkan orang tentang siklus perencanaan. Bupati Don tahu itu, dia mantan birokrat.
Persoalan sampah dan pasar Danga merupakan persoalan serius. Danga itu serpihan wajah ibukota. Jika serpihan wajah itu buruk, maka buruklah seluruh wajah ibukota. Jika wajah ibukota buruk, maka buruklah rupa Nagekeo di mata dunia luar. Jujur saja, setiap kali bertugas ke sana, sejak kabupaten ini berdiri, saya belum merasa “kekotaan-nya” Mbay. Gang-gang gelap gulita. Sampah berserakan. Pasar bau pengap air ikan. Sebenarnya kotanya dimana? Tanya sahabat seperjalanan suatu ketika.
Persoalan sampah ada di depan mata. Kami pun menyaksikan itu. Pertanyaan, apakah anggota DPRD Nagekeo tak melihat itu? Apakah mereka melihat tapi menganggap hal itu biasa-biasa saja? Toh, mereka berpikir yang namanya pasar pasti pasti kumuh.
Cara pandang Bupati Don berbeda dengan kedua anggota DPRD ini. Kebersihan dan keindahan adalah yang utama. Tak terlalu mengherankan jika ia turun langsung membersihkan sampah dan berusaha menata pasar Danga lebih manusiawi. Habitusnya (asalnya) memang begitu. Beliau seorang dokter. Paham betul tentang kesehatan. Berdasarkan mulutgram, rumah sakit dimana dr. Don pimpin selalu bersih dan tertib. Pendapat ini mungkin saja salah. Jika saya salah memberikan informasi, mohon dikoreksi, ya?
Penulis melihat dua hal yang berbeda antara tindakan Bupati Don dan pertanyaan dua anggota DPRD. Dari reaksi mereka, saya melihat para anggota legislatif ini masih berada dalam kerangka atau pola pikir NORMATIF-BIROKRATIF. Sementara Bupati Don sudah BERPIKIR dan BERTINDAK “OUT OF THE BOX”, beberapa anggota dewan ini masih berpikir “INSIDE OF THE BOX”. Kadang ribut hal-hal yang remeh temeh. Kadang pula menegaskan sesuatu yang seolah-olah orang lain tidak tahu. Pikiran dan tindakan “OUT OF THE BOX” hanya dimiliki oleh orang yang berjiwa VISIONER. Orang yang VISIONER berani menciptakan TEROBOSAN atau mencari ALTERNATIF yang mungkin selama ini orang belum pernah gunakan atau tempuh.
Sebagai contoh, AHOK menggunakan dana CSR untuk membangun fasilitas publik dan mengakibatkan serapan APBD rendah (paling kembali ke khas negara). Banyak orang ribut. Kritik sana-sini. Setelah melihat hasilnya, orang baru sadar. Ternyata masih ada cara lain membangun tanpa menggunakan dana APBD. Begitu pun dengan apa yang dilakukan Bupati Don. Jika ada sumber atau cara lain, mengapa kita risaukan dan pertanyakan dan menggurui. Tanpa dijelaskan pun panjang lebar, bupati pun sudah tahu. Saya tak bermaksudkan untuk menyamakan Bupati Don dengan Ahok. Hal yang dibandingkan adalah CARA BERPIKIR dan BERTINDAK yang DILUAR DARI KEBIASAAN. Dan, pemimpin harus seperti itu. Dokter sudah memulainya. Memulai dari yang dipunyai (kesadaran, latarbelakang dan habitus – kebiasan hidup bersih).
Kembali ke pertanyaan Antonius Moti dan Yohanes K. Gore, maka saya simpulkan bahwa masalah sampah dan penataan pasar Danga luput dari perhatian legislator Nagekeo. PERTANYAAN mereka adalah KEJUJURAN mereka yang patut kita apresiasi. Artinya, masalah sampah dan pasar Danga tidak diperjuangkan oleh para legislator terhormat melalui POLITIK ANGGARAN. Jawaban Bupati Don telah membungkam mulut mereka.
“Mereka itu manusia, dengan keadaan pasar dan terminal yang kotor dan jorok itu, apa wajar bagi mereka untuk melakukan aktivitas (jual-beli)? Karena itu kita melakukan pembenahan dan penataan, biar lebih rapih, indah dan sehat. Saya sendiri yang mencari dana sebagai bentuk kepedulian saya kepada warga saya sendiri (penulis, termasuk anggota DPRD).”
Ya, mereka terlanjur umbar di media, menyesal tiada berguna. Akhirnya mereka menjadi bulan-bulanan warga media sosial. Sakit, khan? Entahlah, mereka rasa atau tidak? Salam Perubahan

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.