Caleg Dipilih?

Caleg Dipilih?
CALON Anggota Lesilatif yang terpilih pada Pemilu 17 April 2019 bersukaria bersama keluarga. Yang dipikir dalam benak sang caleg dan keluarga yaitu perubahan ekonomi, angan-angan membangun rumah baru, melancong ke luar kota dan yang paling penting dalam benak si caleg ketika sudah duduk di kursi empuk cara-cara jitu mengkruk uang APBD, atau APBN untuk menutupi ongkos yang sudah keluar pada masa kampanye. Ini sekadar asumpsi saya. Kita harapkan ini tidak terjadi di benak di anggota yang kelak sudah menyandang anggota yang terhormat.
Mereka yang bernasib tidak beruntung pada 17 April 2019, harus menelan pil pahit. Sedih, menyesal da nada yang menangisi diri, atau mengurung diri bahkan ada yang harus gila. Dirundung nasib malang, karena sudah mengeluarkan banyak uang namun tak berhasil. Ada caleg yang pasrah pada nasib, ada caleg yang berontak pada diri, karena harus menutup semua hutang pinjaman bank atau dari kerabat untuk menambah pemboyaan kampanye.
Nasib sudah menjadi bubur. Tapi jangan putus asah. Manusia hidup bukan dari menjadi anggota dewan, tetapi dari semua usaha dan kreativitas manusia.
Semua bisa dikerjakan asal jangan malas, jangan terlampau dalam memikirkan nasib yang lalu.
Waktu terus berjalan, manusia hidup butuh makan minum. Berpikirla positif bahwa usaha menjadi caleg namun gagal berarti sudah berbagai dengan sesama. Berkampanye butuh spanduk atau baliho, butuh iklan di media dan juga menjadi rakyat ketika mendatangi mereka untuk kampanye. Artinya, sangat berandil bagi sesama, berarti bagi pembuat spanduk, baliho atau stiker, membayar iklan bagi yang memasangnya di media.
Jadi untuk apa menyesali apa yang sudah terjadi.
Toh menatapla kebawa. Banyak sesama kita yang nasibnya kurang beruntung. Sangat banyak, namun anda diberi kesempatan Sang Pencipta untuk menjadi caleg yang artinya ada usaha untuk memperkenalkan diri, bahwa layak menjadi calon pejabat tetapi belum memenuhi syarat yaitu jumlah suara yang tidak memenuhi syarat.
Memulai usaha dengan pekerjaan halal, agar tidak tersandung kasus. Mereka yang rakus mendapat harta dengan cara tidak halal, mendapat imbalan masuk penjara. Kita saksikan dengan mata kepala, saat ini sudah sekian banyak kepala desa yang berususan dengan hukum. Digiring aparat ke meja hijau, dan manakala hakim memutuskan bersalah dan terbukti, maka dipastikan mendekam dibalik jeruji besi. Apakah ini yang dicita-citakan dalam kehidupan ini.
Ini yang namanya sukacita menjadi duka cita. Sebelum korupsi dana desa, sang kepala desa yang juga berstatus ayah, atau ibu bisa leluasa bercanda ria dengan suami isteri atau anak. Bahagia, walau uang pas-pasan, sukacita walau dibilang miskin. Miskinla harta daripada miskin hati ini. Psikologis didera juga fisik.
Jika sudah hidup dalam penjara,dipastikan ada kerinduan dijenguk isteri atau anak. Maka diingati janganla berbuat tidak baik. Kelolah uang Negara yang adalah dana rakyat melalui bayar pajak dengan bijak. Hidup hanya sekali diberi kesempatan oleh Penguasa Langit dan Bumi, maka gunakan kesempatan dengan sebaik-baik. Waspadala selalu, selagi masih diberi kesempatan menghirup udara bebas.
Khusus bagi mereka yang terpilih, jangan takabur,lupa diri dan punya rencana busuk dalam hati untuk korupsi. Ingat, bahwa kursi empuk yang diduduki adalah pemberian rakyat. Termasuk rakyat yang miskin dan papah. Ketika sudah duduk dikursi empuk hadiah dari rakyat, ingatla mereka, perjuangkan aspirasi mereka. Luangkan waktu reses menjenguk rakyat yang susah, perhatikan sarana dan prasarana yang dibutuhkan masyarakat. Sarana rumah sakit atau puskemas jika belum dibangun, perjuangkan kepada pemerintah agar merealisasikan. Generasi muda yang tidak mampu melanjutkan pendidikan, diupayakan, agar seorang anggota dewan yang gigih dan berani memperjuangkan nasib rakyat, mulia di mata Tuhan dan mata masyarakat. Anggota dewan jangan pernah bercita-cita menjadi penghuni dibalik jeruji besa. Tuhan berkati. ♦

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.