Editorial

Persekusi

MENGAPA di zaman ini, usia Indonesia yang sudah 72 tahun ini ada orang jahat. Maksud saya, parasnya kelihatan ramah dan baik, tetapi ternyata dia jahat atau berkelakuan buruk. Lihat foto atau video para penjahat melakukan kejahatan terhadap orang baik-baik. Mereka melakukan kejahatan atau persekusi secara sistimatis, massif dan terstruktu. Saat ini sedang kita saksikan atau rakyat Indonesia para penjahat ini menganiaya orang kecil, melakukan aksi kekerasan sampai membakar patung orang baik dan

Vicktor Laiskodat

5 SEPTEMBER 2018, tercatat dalam lembaran sejarah NTT, Vicktor Laiskodat seorang Putera Pulau Semau Kabupaten Kupang Nusa Tenggara Timur dan Jos Nae Soi Putera Langa Kabupaten Ngada dilantik oleh Presiden RI Jokowidodo. Rakyat NTT menaruh harapan besar kepada kedua orang ini membangun NTT lebih maju dan bermartabat. Rakyat NTT lebih sejahtera, sukacita dalam perjalanan hidupnya. Diharapkan Vicktor Laiskodat dan Jos Nae Soi membangun NTT lebih bermartabat. Martabat berarti, rakyat tidak

Ya, Meiliana. Nama ini disebut dan dikenang sepanjang hidup bagi mereka yang tidak bersala, berkisah tentang kebenaran dan fakta tetapi harus diadilai dan dipenjara. Dia tidak salah mengeluh ke tetangga soal suara toa di masjid yang terlalu keras. Tetangga adalah sahabat terdekat, tapi tak disangka tetangga ini jahat dan berniat mencelakakan Meiliana.  Berita sudah viral. Kita sangat sedih tetapi peristiwa ini sungguh terjadi, manusia yang tidak bersalah dihukum 1, 8 bulan demi mengungkap sebuah kebenaran. Kebenaran, bahwa suara dari masjid terlalu keras akan sangat mengganggu. Persolanan ini juga diimbau Wakil Presiden Jusuf Kala dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum Masjid di Indonesia. Kalau salah mohon diralat.  Orang benar dan tidak melakukan kesalahan sedang terjadi dari ibukota Negara sampai kepelosok tanah air. Kita mengenang Yesus wafat di Salib demi menebus dosa manusia. Dalam perjalanan dan hanya dalam tempo singkat si hakim jahat yang memvonis Meiliana di Medan sana ternyata juga penjahat kelas kakap. Hakim itu berstatus Wakil Ketua Pengadilan Negeri Medan. Namanya Wahyu Prasetyo Wibowo. Si Wahyu di tangkap bersama empat rekanya karena terlibat kasus suap. KPK menangkap hakim jahat ini dalam operasi tangkap tangan atau OTT. Ini bukan berita mengarang tetapi peristiwa dibenarkan Humas PN Medang Erintuan Damanik 28 Agustus 2018. Renungkan sendiri kasus ini.  Agar lebih paham, Wahyu Prasetio Wibowo adalah Hakim PN Medan yang memvonis Meiliana 18 bulan penjara. Meiliana terpidana 18 bulan penjara dituduh menista agama islam. Masalah awalnya dari keluhan Meilinana terhadap suara azan yang sangat keras. Kisah ini sampai di sini dulu. Tetapi bahwa falsafah jari sangat tepat. Satu jari menunjuk orang tetapi ada empat jari menunjuk diri sendiri. Benar adanya, si hakim ditangkap dengan cara sangat hina dalam OTT dan digiring memakai baju KPK oranye.  Peristiwa yang sangat memalukan juga dilakukan Neno Warisman. Si wanita ini bukan bernyaji, profesi awal tetapi memakai jilbab dan berkeliling deklarasi # 2019 Ganti Presiden#. Kini jadi ribut, ada orang yang tidak suka dengan tanda pagar ini. Beritanya viral tetapi tetap ngotot termasuk Wakil Ketua DPR RI Fadlizon dalam setiap omong di televisi maupun media sosial. Konon punya hak diatur undang-undang. Suasana jadi panas ada yang suka tetapi ada yang sangat benci dengan tanda pagar ganti presiden 2019.  Ada satu judul berita, penolakan terhadap Neno Warisman dan kemuakan terhadap gerombolan @ 2019 Ganti Presiden" membuah gadus di berbagai kota, Surabaya Jawa Timur, Riau dan berbagai kota. Ingin yang berkesempatan membaca persoalan ini sejak awal Agustus sampai 30 Agustus 2018.  Untuk kesekian kalinya, Neno Warisman ditolak. Setelah sebelumnya Neno Warisman ditolak di Batam, Depok dan beberapa tempat lainnya. Neno Warisman adalah pentolan Gerombolan Tagar 2019 Ganti Presiden. Kegiatannya murni politik praktis, tapi sering dibungkus dengan istilah pengajian, tabligh akbar dan ceramah.  Neno Warisman adalah jurkam Gerombolan Tagar 2019 Ganti Presiden untuk menipu publik, dia dikenalkan sebagai penceramah dengan sebutan ustadzah, yang kita tidak tahu dapat darimana gelar ini, meskipun Neno Warisman tidak punya latar belakang pendidikan agama. Kita masih muak dengan melakukan ustadz jadi-jadian seperti Evie Effendi yang menyebutkan Nabi Muhammad pernah tersesat. Gerakan ini, oleh lawan sebelah atau aparatur keamanan disebut makar.  Tetapi berita sangar dan menakut diisi dengan berita sukacita oleh atlet silat yang ketuanya adalah Prabowo juga calon presiden 2019. Di acara ini, Jokowo dan Prabowo terlibat saling memeluk setelah salah satu atlet peraih medali emas memeluk kedua di podium 29 Agustus 2018 yang juga dihadiri Megawati, Jusuf Kala, Puan Maharani dan semua pejabat tinggi. Peristiwa sukacita ini tersiar luas di seluruh Indonesia. Ini semua karena Allah berkehendak. r

Ya, Meiliana. Nama ini disebut dan dikenang sepanjang hidup bagi mereka yang tidak bersala, berkisah tentang kebenaran dan fakta tetapi harus diadilai dan dipenjara. Dia tidak salah mengeluh ke tetangga soal suara toa di masjid yang terlalu keras. Tetangga adalah sahabat terdekat, tapi tak disangka tetangga ini jahat dan berniat mencelakakan Meiliana. Berita sudah viral. Kita sangat sedih tetapi peristiwa ini sungguh terjadi, manusia yang tidak bersalah dihukum 1, 8

Tiang Bendera dan Moge

♦ 17 Agustus 2018 PERAYAAN 17 Agustus 2018 pada peringatan RI ke 73 sangat fenomenal dan luar biasa. Ada dua sosok yang mencatat sejarah sangat fenomenal dikenang sepanjang sejarah perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara Republik Indonesia. Siapa kedua orang itu? Pertama seorang anak SMP namanya Yohanes Ande Kala disapa Joni dan kedua Presiden RI Jokowidodo. Keduanya menciptakan peristiwa sangat fenomenal. Anak kecil dari Motain perbatasan Timor Leste dan Belu Atambua dan yang

"Merdeka?"

17 Agustus 2018 Rakyat dan segenap bangsa Indonesia merayakan kemerdekaan yang ke-73. Bertanya,” Sudah aku dan kau” merdeka? Saya menjawab untuk aku pribadi,” Belum Merdeka”. Ya aku belum merdeka karena dijajah bangsaku sendiri. Siapa itu? Pejabat Negara atau yang saat ini disebut dengan istila ASN (Aparatur Sipil Negara), para politisi menjajah rakyat jelata dan termasuk aku ketika berurusan dengan oknum ASN. Tidak semua ASN terlibat dalam praktek KKN, atau Korupsi,

Saran untuk Caleg

HATI ini masih terusik di tahun politik 2018-2019. Terusik, ya terusik. Mengapa? Ya. Ya, soal para caleg yang sudah resmi tercatat sebagai bakal calon anggota dewan, dari pusat sampai daerah. Yang ikut caleg apakah karena menganggur atau karena berambisi agar namanya tercatat dalam lembaran Negara? Yang berstatus sebagai ibu rumah tangga, berstatus pelacur tercatat pula di KPU sebabai bakal caleg. Saya kaget, ketika sseorang wanita menyodorkan stiker kepada saya. Benar

“Caleg gangguan jiwa”

CALON Legisilatif atau Caleg 2019 harus berjuang keras jiwa dan raga, harta serta benda agar bisa menang. Jika pengorbanan membuahkan hasil, maka kursi panas bisa diraih, kehormatan dan kemuliaan bisa dinikmati. Berita media cetak, online, televisi dan media sosial menjadi rebutan untuk memperkenalkan diri. Dulu, ketika masih orang biasa, si Caleg tidak rajin masukan nama dan foto cantik atau ganteng di media terutama media sosial seperti face book, instagram atau twiter.

“Caleg Hitam”

SAYA menyebut “ Caleg Hitam” dalam tanda kutip. Mengapa, karena mereka yang sudah jelas-jelas pernah melakukan tindakan pidana seperti konsumsi dan Bandar narkoba, pelakukan tindakan kekerasan terhdap anak bawa umur, menelantarkan isteri atau mencerai dan menikah sirih misalnya, terlibat kasus korupsi atau mencuri uang Negara, nekad maju sebagai Caleg. KPU sudah mengeluarkan peraturan Nomor 20 Tahun 2018 supaya warga Negara Indonesia yang pernah melakukan tindakan kejahatan seperti konsumsi narkoba, Bandar narkoba, korupsi