Editorial

Harmoni dan janji palsu

HARMONI bukan alat musik, tetapi singkatan dari Beny Kabu Harman dan Beny Litelnony. Harmoni adalah pasangan Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur NTT periode 2018-2013. Saat ini sedang berkampanye sampai batas waktu 23 Juni 2018. Tergelitik membaca berita yang sudah viral di media sosial. Judul berita itu,” Kredit Tanpa Agunan, Harmoni akan Bekerjasama dengan Bank NTT.” Berita ini diwartakan media karena paket ini membuat pernyataan.Berita ini dikritik, disindir dan dikecam

Derita Kita

PENDERITAAN, kemiskinan dan kemelaratan adalah takdir Sang Chalik. Saya mengalami penderitaan, saya pernah miskin dan melarat. Namun Tuhan masih memberi ruang dan waktu agar saya bisa melanjutkan cita-cita Tuhan membangun dunia ini. Tetapi, yang saya maksud dengan derita yang sedang kita alami bukan ditakdir, tetapi tidak ada orang baik yang mau menolong, tidak ada orang baik yang mau merubah nasib kaum papah. Dunia sudah maju, semua daerah terisolir sudah dibuka.

Berpolitik dengan Nurani?

BERPOLITIK dengan nurani? Bisakah? Saya tidak percaya. Mengapa, karena manusia BERPOLITIK dengan nurani? Bisakah? Saya tidak percaya. Mengapa, karena manusia  itu lemah, tetapi berambisi untuk mendapatkan kedudukan, untuk meraih cita-cita  menjadi gubernur atau bupati. Saya tidak menyebut presiden karena hanya satu orang. Walaupun dengan cara yang sama. Politik itu kotor, tetapi juga bersih, jika sang calon punya reputasi, berkarya dan melayani dengan nurani.Pada Pilkada serentak di 71 kota di Indonesia yang

“Politik Perut”

♦ Bacalah sampai selesai   JUDUL ini saya buat dalam rangka mengkritisi fenomena dukung mendukung pasangan calon setelah para calon tergusur oleh system politik partai yang sangat berkuasa. Saya mau menyoroti, beberapa politisi yang pada awalnya mencalonkan diri sebagai calon Gubernur NTT sebelum penetapan. Jauh sebelum penetapan, para cagub di antaranya Ibrahim Agustinus Medah, Kristo Blasin, Daniel Tagu Dedo, Soning Hani, Ray Fernandez dan masih banyak lagi. Ibrahim Medah tereleminasi

4 Cagub NTT Jujurkah?

PERHELATAN Demokrasi khususnya Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur serta Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati NTT tahun 2018 ini kurang kondusif. Ada yang kurang menyusul Operasi Tangkap Tangan atau OTT Cagub Marianus Sae di sebuah hotel di Surabaya 11 Februari 2018. Saya termasuk warga NTT yang sangat sedih dan prihatin dengan kejadian tak terpuji ini. Peristiwa pidana yang dilakukan Marianus Sae yang sudah dikenal dengan inisial MS ini, tentu saja mencederai

Tiga melawan Satu

ADA yang pincang tak berimbang pada musim kampanye empat pasangan Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur NTT yang dimulai 15 Februari 2018 sampai dengan 23 Juni 2018. Pasangan calon No.2 Marianus Sae-Emi Nomleni bersalah setelah Cagubnya Marianus Sae dicokok KPK di sebuah hotel di Surabaya Minggu 11 Februari 2018. Itu sebabnya, kampanye keempat pasangan ini menjadi tidak seimbang. Dari tiga pasang hanya pasangan No. 2 yang bermasalah. Calon Wagub Emi

Medan Laga NTT1

RAKYAT Nusa Tenggara Timur, harap-harap cemas. Ada yang mengharapkan agar idolanya memenangkan pertandingan 26 Juni 2018. Yang keluar sebagai pemenang akan duduk di kursi nomor 1 NTT atau akan menjadi Gubernur NTT selama 2018-2013. Ada pasang yang sejak 15 Februari 2018 yang akan terjun ke medan laga untuk bertarung. Ada pasangan Marianus-Emi Nomleni, ada pasangan Esthon Foenay-Christian Rotok, pasangan Beny Kabur Harman-Beny Litelnony dan pasangan fenomenal Vicktor Bung Tilu Laiskodat-Jos

"Memilih NTT 1"

RAKYAT NTT saat ini, tiada hari tanpa omong,” Pasangan siapa yang RAKYAT NTT saat ini, tiada hari tanpa omong,” Pasangan siapa yang  akan kita pilih?” Siapakah calon gubernur yang akan kau pilih? Yang  ditanya menjawab sekenanya. Akan memilih pasangan calon gubernur yang bisa memajukan NTT dalam kurun lima tahun ke depan. Ada yang bilang, wah saya tidak memilih calon itu karena sudah tua, ada pulang yang bilang, ”Kita mesti pilih pasangan