Ngada

Fenomena Korupsi, Premanisme dan Kumpul Kebo Di Era Pemerintahan Marianus Sae

PASCA diborgolnya Marianus Sae oleh KPK bulan lalu Minggu 11 Februari 2018 ibarat gunung es mencair terkait masalah masalah yang dibungkus rapi oleh para pendukung dan simpatisan yang fanatik, seolah olah Bupati Ngada itu kebal hukum. Terlihat di permukaan pemerintahannya sangat spektakuler, namun mulai paradoks setelah terkuak fakta suap menyuap yang dituduhkan KPK kepadanya. Permintaan Ketua BARA JP Ngada Maksimus Makmur kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui media ini, agar

Anggota DPRD Ngada Dipanggil KPK

ANGGOTA DPRD Kabupaten Ngada, Hermens Fua dari partai Golongan Karya (Golkar) dipanggil Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Hermens dipanggil untuk menghadap kepala penyidik KPK, Budi A. Nurgroho di kantor kepolisian Resort Manggarai Barat pada Jumat (16/3/2018) pukul 09.00 wita. Surat panggilan KPK untuk Hermens didapat dari salah satu sumber yang dikirim melalui pesan WhatsApp pada Minggu 11 Maret 2018. Surat panggilan KPK Seusai isi surat, Hermens dipanggil KPK untuk diperiksa dan

Izin Tambang di Ngada Ikut Jadi Target Penyidikan KPK

Upaya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengusut tuntas kasus dugaan korupsi yang dilakukan Bupati Ngada, Marianus Sae (MS) bakal menyentuh izin tambang yang pernah diterbitkan bupati dua periode itu. Ketua KPK, Agus Rahardjo mengatakan, kasus suap yang menjadi alasan penangkapan MS pada Minggu, 11 Februari lalu, hanyalah pintu masuk untuk mengusut kasus-kasus lain MS, termasuk pelangggaran dalam penerbitan izin tambang. “Pasti itu akan jadi tujuan kami untuk menuntaskan kasus suap,” kata

JATAM Ungkap Bupati Ngada Permulus Izin Tambang Setnov di NTT

♦ Marianus Sae bukan sosok yang bersih   JARINGAN Advokasi Tambang (Jatam) menilai Bupati Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur Marianus Sae yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi dalam operasi tangkap tangan bukan sosok yang bersih. Marianus jadi bupati sejak 2010. Kepala Kampanye Jatam, Melky Nahar mengatakan kasus dugaan suap terkait proyek jalan dan jembatan di lingkungan Pemerintah Kabupaten yang menjeratnya menjadi tersangka hanya salah satu korupsi Marianus selama menjabat. Sebab di

KPK Tangkap Marianus Sae dan Ambrosia Tirta Santi di Hotel

BUPATI Ngada Marianus Sae terjaring bersama seorang wanita bernama Ambrosia Tirta Santi di sebuah hotel di Surabaya dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Minggu (11/2) pagi. Selain menangkap Marianus dan Ambrosia, pada hari yang sama, KPK juga menangkap tiga orang lainnya yakni Dionesius Kila (DK) di Kupang, serta Wilhelmus Iwan Ulumbu (WIU) dan Petrus Pedulewari (PP) di Bajawa. “Sebelumnya kami telah menerima

Oknum Pegawai Pemkab Ngada NTT Ikut Kena Ciduk OTT KPK

KPK kembali membawa salah seorang yang diduga pegawai Pemerintahan Kabupaten, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Diduga, Ia terlibat kasus yang sama dengan Bupati Ngada Marianus Sae. “Satu orang yang dalam perjalanan ke kantor KPK adalah dari unsur pegawai Pemkab,” kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Minggu, 11 Februari 2018.Pantauan Okezone di lokasi, pegawai Pemkab tersebut yang diduga korupsi tiba di gedung Merah Putih KPK sekira pukul 20.14 WIB

Diduga Hamili Pembantu, Cagub NTT MS Dilaporkan ke Komnas HAM

PERWAKILAN  masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Penegak Integritas Bangsa Indonesia untuk NTT (AMPIBI NTT) melaporkan Bakal Calon Gubernur (Bacagub) NTT Marianus Sae (MS) ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Menteng, Jakarta, Kamis 18 Januari 2018. Marianus Sae dilaporkan oleh AMPIBI NTT karena diduga telah melakukan tindakan asusila dan amoral terhadap pembantu rumah tangganya, sebut saja Bunga, sampai melahirkan anak. Sehingga, Marianus dianggap tidak

Menanti kejujuran moral, Marianus Sae

SEJAK tahun 2013 lalu, kasus skandal sex Marianus Sae (MS) terus menyulut simpati publik. MS menjadi satu-satunya bupati di NTT bahkan mungkin di seluruh Indonesia yang melampiaskan nafsu seksual kepada pembantunya sendiri, Natalia. Publik NTT terus bertanya, bagaimana mungkin seorang bupati tega melakukan aksi sebejat itu? Peristiwa ini dapat dilihat dari berbagai sudut pandang berbeda, namun yang jelas, melalui kasus ini terkuak suatu pola baru dalam relasi kekerasan terhadap perempuan.