“Demokrasi Semu”

“Demokrasi Semu”

DEMOKRASI adalah bentuk pemerintahan di mana semua warga Demokrasi adalah bentuk pemerintahan di mana semua warga  negaranya memiliki hak setara dalam pengambilan keputusan  yang dapat mengubah hidup mereka. Demokrasi mengizinkan warga negara berpartisipasi, baik secara langsung atau melalui perwakilan, dalam perumusan, pengembangan, dan pembuatan hukum. Demokrasi mencakup kondisi sosial, ekonomi, dan budaya yang memungkinkan adanya praktik kebebasan politik secara bebas dan setara. Ini definisi yang sudah baku tak terbantahkan menurut wikipedia.Dalam pratek, tak lagi semurni pemerintahan dulu. Sekarang demokrasi tak murni lagi, yang diterapkan adalah demokrasi semu. Para calon kepala pemerintahan eksekutif maupun legisilatif menurut pendapat saya pribadi,tidak demokratis lagi. Yang diteriakan ketika kampanye, hanyala demokrasi semu. Rakyat seharusnya berkuasa penuh karena pemegang kedaulatan.Karena rakyat punya kewajiban memilih pemimpinnya agar sejahtera, maju dalam segala bidang. Fakta, rakyat masih dililit kemiskinan. Sandang, pangan dan perumahan belum semua rakyat memilikinya. Tetapi pemerintahan yang sedang berkuasa bilang,” Angka kemikisnan sudah turun, rakyat sudah sejahtera, generasi muda sudah bisa melanjutkan studi sampai ke jenjang yang lebih tinggi. Rakyat miskin akan kita bantu.”Saya mengangkat tajuk tulisan ini, berkenan dengan akan diselenggarakan pesta demokrasi yaitu pemilihan umum kepala daerah atau Pilkada serantak kepala daerah di seluruh Indonesia 27 Juni 2018. Waktunya sudah sangat dekat. Hari itu, rakyat berkuasa, rakyat yang akan menentukan siapa yang pantas dipilih sebagai gubernur, walikota atau bupati.Demokrasi itu inginnya menjadikan rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi. Rakyatlah yang menentukan maju mundurnya suatu negeri. Di tangan rakyatlah kedaulatan tertinggi berada. Akan tetapi, semuanya semu, palsu. Rakyat hanya berkuasa saat pemilihan, baik itu legisatif, Pilpres, maupun Pilkada. Selepas pemilihan, rakyat kembali ke baraknya masing-masing dan para petualang politik matanya memelototi angka-angka hasil pemilihan. Rakyat NTT dipastikan akan memilih akan memilih empat paket calon gubernur dan wakil gubernur pada 27 Juni 2018. Siapakah Gubernur dan Wakil Gubernur NTT yang akan pemimpin lima tahun, 2018-2013? Bergantung pada pemegang kedaulatan yaitu rakyat. Ada pasangan Esthon Foenay – Kristian Rotok, Beny Kabur Harman – Beny Litelnony, Marianus Sae berpasangan Emi Nomleni dan pasangan Vicktor Bung Tilu Laiskodat didampingi Jos Nai Soi. Mereka putera terbaik NTT. Nasib keempat pasangan ini, akan ditentukan pada perjuangan final, 27 Juni 2018. Pasangan mana yang berhasil merebut suara rakyat NTT? Kita menanti. Rakyat di sejumlah kabupaten di NTT juga memilih pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati. Adalah kabupaten Rote Ndao, Kabupaten Kupang, TTS, Alor, Sikka, Ende, Nagekeo, Manggarai Timur dan Sumba Barat Daya. Apakah benar, rakyat NTT akan menjunjung tinggi harkat dan martabatnya sebagai pemegang kedaulatan pada 27 Juni 2018? Bergantung pada kata hati.Ada kata hati rakyat, akan memilih pasangan calon yang memberi uang, ada rakyat yang memilih karena masih kerabat dan kenalan baik, da nada rakyat yang memilih pasangan calon, karena figure yang hebat, figure yang merakyat, figure yang punya empati terhdap persoalan rakyat yang bisa mengeluarkan rakyat dari kemiskinan, kemelaratan dan kebodohohan.Dan, ketika rakyat salah memilih, maka dosa ditanggung bersama aliasdosa kolektif. Sudah terbukti. Rakyat memilih pejabat yang hanya umbar janji muluk pada saat kampanye. Setelah duduk ditahta, si pejabat itu lupa akan janjinya.Usia Pemilu, merekalah yang selanjutnya berkuasa, bukan lagi rakyat. Apabila ternyata hasil pilihan rakyat itu tidak mampu mewakili keinginan masyarakat, rakyat tak bisa berkutik. Mereka harus menunggu Pemilu berikutnya. Rakyat mesti bersabar menderita sampai masa Pemilu. Jika Pemilu digelar lagi, rakyat tertipu lagi, ya harus bersabar menderita terus-terusan. Begitu seterusnya. Istilah Pesta Demokrasi pun sesungguhnya semu. Yang dinamakan pesta sudah barang tentu semua dalam keadaan senang bergembira melepaskan sejenak ketegangan yang ada sehari-hari. Apabila tidak diundang oleh kenalan kita yang mengadakan pesta, ada rasa kecewa dalam diri kita karena kita juga ingin bersenang-senang. Seluruh peserta pesta berhura-hura dan tak ada yang dirugikan. Adapun pesta demokrasi mengandung banyak kecemasan, tegang, penuh perhitungan untung rugi, pemilihnya pun dalam keadaan bingung milih ini salah milih itu salah, dan lain sebagainya yang bukan pesta penuh kemeriahan cerah ceria. Pesta itu hanya pesta bual-bualan.Seharusnya, rakyat itu berdaulat setiap hari, bahkan setiap saat. Rakyat harus diberi keleluasan hakiki untuk memberikan masukan dan memperbaiki keadaan yang ada dengan semangat kebersamaan, bukan kebencian. Demokrasi tidaklah menjamin rakyat menjadi penguasa sesungguhnya. Demokrasi hanya menjadikan rakyat sebagai alat para politisi untuk menjadi penguasa. Sudah saatnya kita menyadari bahwa sistem politik yang sekarang terjadi di Indonesia tak akan pernah mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat. Perilaku politisi, pengusaha, dan birokrat akan terus seperti sekarang ini, bahkan mungkin lebih parah jika diteruskan. ♦

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.