Derita Warga Detupau sama dengan orang Papua

Derita Warga Detupau sama dengan orang Papua

SANGAT menderita, istilah ini sangat tepat ditujukan kepada warga Detupau hingga Indonesia berusia 73 tahun. Ke kampung Detupau, yang berjarak sekitar 65 Km dari Kota Ende atau dai Wolowaru ke Desa Likanaka 5 Km dan dari Likanaka ke Detupau harus ditempuh melewati jalan setapak sejauh 3 Km.
Menuju Detupau harus siap mental, tenaga dan pikira. Warga kampung ini Bung Sila melakukan operasi Pancasila Sakti beberapa pekan lalu. Bung Sila mengendara sepeda motor yang harus dikawal warga kampung. Agar sampai di kampung ini, sejumlah warga mendorong sepedanya. Di beberapa tempat, katanya, warga harus memikul sepeda motor. Dengan derita panjang, Bung Sila yang sudah lama merantau ingin desanya dapat di lewati kendaraan motor.
Bung Sila berkisah,” Soal harga barang-barang yang tinggi di Tanah Papua pasti semua kita memakluminya karena topografinya wilayahnya yang bergunung-gunung sehingga akses mobilisasi arus barang-barang sangat sulit selain jalur udara dengan pesawat.
Namun soal harga barang, nasib warga dusun Detupau desa Likanaka Kecamatan Wolowaru Kabupaten Ende Flores tidak jauh berbeda dengan Papua. Bayangkan saja, satu sak semen jika sampai di kampung Detupau makan ongkos Rp 125.000/sak. Dengan rincian harga semen jika belinya di pasar Wolowaru berkisar Rp 55.000-60.000, ongkos ojek Rp.50.000, biaya makan dan rokok bagi tukang ojek Rp. 15.000. selain ongkos ojek yang mahal, juga siapkan tenaga(orang) untuk bantu tolak motor saat melintas jalan poros Detupau. Jalan poros Detupau berjarak +3 km dari jalan poros desa Likanaka. Namun Kondisi jalannya sangat sempit, terjal dan licin. Bahkan ada satu jembatan darurat yang menggunakan bambu.
Menurut Vichar Laka pejuang Literasi Rimba Raya “Illa One Nua” Detupau, bahwa Negara belum menjamah penderitaan kami terkait pembangunan jalan poros Detupau sejak negara RI belum terbentuk hingga sekarang . Padahal di kampung ini berhunikan 82 KK atau sekitar 400-san jiwa lebih. Kami tidak tau mengapa Negara tidak peduli dengan nasib kami, ujar Vichar Laka dengan penuh harapan.”
Detupau merupakan salah satu dusun dari 3 dusun dari Desa Likanaka. Dimana Dusun Detupau merupakan dusun dengan jumlah pendduk terbanyak yakni 82 KK. Poros jalan ke Detupau masih murni jalan manusia atau transportasi angkutnya dengan kuda sebelum dipaksakan dengan motor yang ukiran cc kecil. Menurut bapa Titus Mbete, kepsek SDN Wolondopo Detupau bahwa sejak seumuran baru baru melihat dua sepeda motor ukuran besar bisa masuk ke Detupau.
Tenaga bidan pun tinggalnya di Wolowaru, kalau ada jadwal posyandu baru datang. Sehingga kalau ada warga yang sakit berat terpaksa warga gotong dengan kain sarung bawa ke puskesmas Wolowaru.
Dari letak geografis, Dusun Detupau terletak di lembah puncak Detubadi dan di kelilingi pegunungan. Jaraknya pun paling berjauhan dengan dusun lainnya, yakni 3 km dari poros jalan desa. Topografi  kampung Detupau lebih dominan hamparan bukit dan pegunungan. Ada sekitar 82 KK atau 400 san jiwa yang menghuni kampung Detupau. Daerah ini cukup potensial dgn hasil pertanian seperti kopi, kakao dan sayur-sayuran seprti pucuk labu.
Kalaupun ada sepeda motor ke kampung itu pun sudah dalam kondisi dipaksakan karena medan jalannya sangat berbahaya. Selain sempit dan terjal juga harus ada orang lagi ntuk bantu dorong motor. Sepeda motor yang di gunakan pun meski yang ukuran cc kecil  seperti Honda Revo  atau supra Fit. Sepeda motor ukuran besar sangat sulit melintas dan berbahaya jatuh ke jurang jika tidak punya nyali.
Sebagaimana di utarakan pemuda Detupau, Vichar Laka bahwa kampung Detupau seperti dilupakan oleh negara untuk membangun akses jalan. Apabila ada warga yang sakit berat misalnya terpaksa kami pake gotong di kain sarung baru pikul. bawa ke puskesmas wolowaru(8 km). “Semua yang datang pernah kami usul, termasuk dua tahun lalu pernah dikunjungi 2 orang anggota DPRD Ende tapi semuanya kosong”, ucap Bapa Titus Mbete. Bagaimana dgn dana desa? Menurut Sebastian, warga Detupau, kami ini tidak tahu apakah desa Likanaka pernah menggangarkan jalan ke Detupau. ♦ bung sila

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.