Eddy Ngganggus Berprestasi Tetapi Dinonjobkan Direksi Bank NTT

Eddy Ngganggus Berprestasi Tetapi Dinonjobkan Direksi Bank NTT

♦ Laba Sesuai Target Rp15 Miliar Naik menjadi Rp 25 miliar

MANTAN Kepala Cabang Bank NTT Kefamenanu TTU Edy Ngganggus mempertanyakan kebijakan Direksi Bank NTT yang menonjobkan dirinya dari jabatannya sebagai Kepala Cabang menjadi staf direksi di Kantor Pusat Bank NTT di Kupang. “Salah saya apa sehingga saya diberhentikan tanpa alasan, tanpa surat peringatan, tanpa diaudit atau memeriksa kinerja saya. Sejak saya pimpin Bank NTT Cabang Kefamenanu, meraih keuntungan besar dari target semula Rp 15 Miliar naik menjdi Rp 25 Milir. Sampai saat ini saya belum paham, dimana kesalahan saya, apakah kepemimpinan saya merugikan perbankan atau menguntungkan? Jadi saya telepon Direktur Kepatuhan Bapak Hilarius dimana kesalahan saya dan mengapa saya tidak dipanggil dulu atau diperiksa dulu. Saya belum pernah diaudit, tetapi tiba-tiba diberhentikan secara sepihak tanpa kejelasan terlebih dahulu. Saya tanya Pak Hilarius Mangu didijawab bilang sudah melalui rapat direksi dan menurut Pak Hilarius dirinya selaku Direktur Kepatuhan sudah bahas di rapat, bahwa yang bersangkutan harus dipanggil dulu, dan menjelaskan mengapa diberhentikan. Selain diberhentikan gaji saya juga ditahan selama Juli dan Agustus. Selain saya diberhentikan atau dinonjob secara sepihak juga rekan seperti Kacab Utama Bank NTT di Kupang dan Kacab Labuan Bajo. Tetapi saya hanya mempertanyakan dan mempersoalakan jabatan saya. Yang lain terserah mereka,” jelas Edy Ngganggus menjawab EXPONTT, expontt.com Minggu 16 Agustus 2020.

Edy Ngganggus diberhentikan berdasarkan Surat Keputusan Nomor 133/2020 tanggal 11 Agustus 2020.

Eddy Ngganggus sudah lebih dari 24 tahun berkarya di Bank NTT dan pernah memangku jabatan Kepala Seksi Kredit, Kepala Cabang Pembantu Borong Manggarai Timur, Anakalang Sumba Barat, Kepala Cabang Pembantu Iteng Manggarai, Kepala Sub Divisi Perencanaan Strategis dan Anggaran Pada Divisi Rencorsec pada kantor pusat Bank NTT, Wakil Kepala Cabang Ruteng, Wakil Kepala Sub Divisi, Kredit Usaha Kecil dan Menengah pada Divisi Pemasaran Kredit di Kantor Pusat Bank NTT dan kembali diangkat menjadi Kepala Sub Divisi Perencanaan dan Anggaran di Kantor Pusat Bank NTT dan jabatan terakkhir yaitu Kepala Cabang Kantor Bank NTT di Kefamenanu.

Eddy Ngganggus mengaku merasa perlu memprotes kebijakan direksi menonjobkan dirinya karena kondisi bank NTT sedang sakit. “Mengapa saya yang berprestasi tetapi malah dinonjobkan dan akan serahterima 24 Agustus mendatang. Jika saya bermasalah karena tidak memberi laba atau kredit bermasalah dan dana saya bersedia dinonjobkan. Selama saya memimpin Cabang di Kefa tidak pernah diaudit atau diperiksa,” pertegasnya.

Nasib serupa juga menimpa Kacab Utama Bank NTT di Kupang Saul Wenji. Saul mengaku belum memahami alasan mengapa direksi menonjobkan dirinya yang baru 7 bulan. Sebelum menjadi Kacab Utama Cabang Kupang, jelas Saul kepada EXPONTT NPL 7 dan turun menjadi 6.” Saya belum tahu kesalahan saya apa sehingga secara tiba-tiba dinonjobkan. Saya tidak pernah diperiksa atau diaudit. Intergritas saya sudah sesuai aturan,” jelas Saul.

Sementara Kacab Labuan Bajo Vincetius Roma yang juga dinonjobkan dan pindah ke Cabang Ruteng mengaku pasrah pada kebijkan direksi.

Plt. Dirut Bank NTT Aleks Riwu Kaho tidak memberi respons lewat WA. Hal ketika ditelepon EXPONTT Minggu 16 Agustus 2020 siang tidak mengangkat handphone. Sama halnya Direktur Kepatuhan Hilarius Mangu tidak merenspon telepon EXPONTT Minggua 16 Agustus 2020 siang.

Eddy Ngganggus mengaku NPL atau Non Performing Loanhanya 0,69 persen. “Kalau saya ada dosa misalnya makan uang atau merugikan perusahaan silahkan saya dipecat. Menurut Direksi katanya mutasi dan nonjob sudah terlebih dahulu konsultasi dengan pemegang saham pengendali yaitu Gubernur NTT. Dengan demikian saya menunggu, apa kata pemegang saham pengendali,” harapnya.

NPL (Non Performing Loan) adalah salah satu indikator kesehatan aset suatu bank. Indikator tersebut dapat berupa rasio keuangan pokok yang mampu memberikan informasi penilaian atas kondisi permodalan, rentabilitas, risiko kredit, risiko pasar, serta likuiditas.NPL yang biasa digunakan adalah NPL neto, yakni NPL yang telah disesuaikan. Penilaian kualitas aset sendiri merupakan penilaian terhadap kondisi aset bank serta kecukupan manajemen risiko kredit. Hal tersebut berarti NPL merupakan indikasi tentang adanya masalah dalam bank tersebut, yang apabila tidak segera diatasi, maka akan membawa dampak buruk bagi bank itu sendiri.Contoh sederhananya, NPL atau kredit bermasalah ini tentu akan berdampak pada berkurangnya modal suatu bank. Apabila hal tersebut dibiarkan, maka akan membawa dampak pada penyaluran kredit untuk periode berikutnya.

Menurut Peraturan Bank Indonesia No. 6 / 10 / PBI / 2004 tanggal April 2004 mengenai Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, menetapkan bahwa rasio kredit bermasalah (NPL) yakni sebesar 5%. Rumus perhitungan untuk NPL adalah sebagai berikut: Rasio NPL = (Total NPL / Total Kredit) x 100 %Contohnya, suatu bank mengalami kredit bermasalah sebesar 50, dengan total kredit sebsar 1000, maka rasio NPL bank tersebut adalah 5% (50 / 1000 = 0.005). Semakin tinggi nilai NPS (diatas 5 %), maka bank tersebut bisa dikatakan tidak sehat. Sebab seperti yang kami singgung di atas, NPL yang tinggi akan menyebabkan menurunnya laba yang akan diterima oleh bank.

Mutasi masal di lingkungan Bank NTT yang ditandatangani Kepala Divisi Sumber Daya Manusia atau SDM Paulus Stepen Messakh tertanggal 12 Agustus 2020 berjumlah lebih dari 200-an orang dari lewel atas, menengah sampai dengan staf lengkap dengan tempat kerja baru dan daerah baru Serahterima jabatan dilakukan serentak 24 Agustus 2020 berdasarkan surat edaran Kepala Divisi Sumber Daya Manusia tertanggal 12 Agustus 2020. ♦ wjr

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.