El Asamau,” Belajar Mengasihi dari Mone, Putra Sulung Kami”

El Asamau," Belajar Mengasihi dari Mone, Putra Sulung Kami"

♦ Kisah Mone dan Pria Tua di Lampu Merah Wheaton

 

SETELAH tidur seharian di ruang isolasi karena mual, saya coba membuka album foto lama di icloud. Sambil tiduran, saya mulai bernostalgia bagaimana kami sekeluarga kecil menghabiskan waktu selama dua tahun di Washington D.C, Amerika Serikat. Mata saya tertuju pada beberapa potongan video pendek, tentang Mone yang menangis histeris sepanjang jalan karena saya tidak punya uang tunai untuk diberikan kepada seorang pria tua di lampu merah.
Seperti biasa, setelah jemput mone dari sekolahnya jam 12 siang, jam 1 kami berdua lalu menjemput mamanya Wany Here Wila yang volunteer membantu anak cacat di Olompya Camp, Maryland. Setelah itu barulah saya bersiap-siap kuliah sore hingga malam hari. Hanya, hari itu sedikit berbeda karena di lampu merah depan perumahan, Mone melihat seorang pria tua yang sedang mengemis. Sontak Mone meminta uang untuk diberikan kepada pria tersebut, tapi sayang sekali saya tidak membawa uang tunai karena selalu menggunakan ATM. Dengan usianya yang baru 3 Tahun, bicara yang masih cadel dan terbata-bata, dia pun menangis marah sepanjang jalan menjemput mamanya. Dia sangat sedih karena pria tua itu harus membeli makan. Berbagai bujukan dan rayuan tidak mempan, seharian dia menangis. Bahkan permen M&M favoritnya tidak mau dia sentuh.
Besoknya, saat menjemput dia di sekolah seperti biasa, dia langsung bertanya: “Bapa El sudah ada uang tunai?”. Saya sudah siapkan, dan ketika sampai di lampu merah, saya membuka jendela mobil dan si Pria tua mendekat. Mone memberikan uang yang dia pegang kepada pria itu sambil tersenyum senang. Sejak itu, mereka kemudian menjadi kawan baik karena setiap hari lewat lampu merah, pasti mereka saling menyapa hangat. Pria tua itu menderita diabetes, dan kehilangan tempat tinggal dan pekerjaan karena sakit. Sebelum kembali pulang ke Indonesia, saya sempatkan diri untuk pamit ke Pria Tua itu. Dia tersenyum haru.
Sebelumnya, saya tidak begitu memperhatikan si pria tua ini. Saya sibuk dengan tugas harian dan kuliah saya. Apalagi terbawa dengan gaya hidup di Amerika yang cukup individualistik., sebagian besar orang dengan urusannya masing-masing.
Tetapi bersyukur Mone memperkenalkan kami dengan pria ini, sehingga setidaknya ada orang yang di sapa, dan menjadi teman berbicara saat menyebrang ke mall depan perumahan.
Belajar mengasihi tidak harus dengan hal-hal besar, sebuah sapaan dan uluran tangan sekecil apapun itu mungkin bisa membantu mencerahkan hari, jam, atau bahkan menit seseorang.
Sejak saat itu saya berusaha untuk selalu mengasihi, dari hal-hal yang sederhana.
Terimakasih Mone.” ♦ akun el asamau

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.