Enam Kisah Tragis TKI NTT: Mereka yang Selamat dan Pulang Tanpa Nyawa

Enam Kisah Tragis TKI NTT: Mereka yang Selamat dan Pulang Tanpa Nyawa

“Saya dipukul, ditendang seperti binatang. Kuku saya dicabut, hidung saya patah dan telinga saya tidak berfungsi dengan baik,” kisah Mariance

HINGGA kini rakyat Nusa Tenggara Timur (NTT) masih dalam bayang-bayang kasus perdagangan manusia atau (human trafficking). Bagaimana tidak riuhnya tangisan dan tetesan air mata kematian nyaris tak mau terusir dari provinsi Cendana ini. Ini tentang kematian yang terhina, kala lapak menginjakkan kaki di negeri seberang. Ya, Jiran adalah tempat asal dari peti-peti mati itu. Dari laporan BP3TKI Kupang dalam data lima tahun terkahir kematian TKI/TKW asal NTT kian meningkat.
Tahun 2013 sebanyak 31 orang meninggal dunia (11 orang TKI/TKW legal dan 20 orang illegal), tahun 2014 sebanyak 21 (8 orang legal dan 13 orang illegal), tahun 2015 sebanyak 28 orang (5 orang legal dan 23 orang illegal), tahun 2016 sebanyak 49 orang (7 orang legal dan 42 orang illegal), tahun 2017 sebanyak 63 orang (8 orang legal dan 55 illegal) dan tahun 2018 hingga bulan Agustus sebanyak 73 orang.
Kepulangan mereka tak hanya membawa tangan hampa tetapi kehilangan nyawa.

Berikut enam kisah tragis TKI asal NTT:
Kisah Petronela

Peti jenazah Linda Bunu saat tiba di Kargo Bandara Eltari Kupang (Foto: VoxNtt.com)

Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, Petronela Malena (34) berhasil lolos dari rumah majikannya setelah menelepon KJRI di Malaysia. Berkat koordinasi KJRI dengan pihak rohaniwan, Petronela akhirnya dipulangkan dan tiba di Bandara El Tari Kupang, Jumat, 2 Maret 2018. Petronela mengaku direkrut oleh PT Putera Jabung Perkasa yang beralamat di Kupang tanpa izin orangtuanya pada Mei 2009. Dari Kupang Petronela diterbangkan ke Jakarta, setelah menunggu dua bulan, ia dikirim ke Malaysia.
Di sana, Petronela bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah seorang pengusaha bernama Tante Poh. Sembilan tahun bekerja, Petronela dilarang majikannya untuk menghubungi siapapun, termasuk orangtuanya. Permintaan cuti pun tak disetujui sang majikan, apalagi kirim uang ke uang ke orang tua. Beban kerja yang berat, membuat Petronela sering jatuh sakit. Meski demikian, dia tak diizinkan untuk istrahat. “Yang paling menderita itu, setiap hari saya angkat makanan anjing dengan berat 18 kg antar ke toko makanan anjing milik majikan,” ujar Petronela.

Kisah Adelina Lisao

Potret Adelina Lisao saat sedang tidur di teras rumah majikannya

Nasib Petronela tak sekejam Adelina Lisao. Tenaga Kerja Indonesia (TKI), asal Desa Abi, Kecamatan Oenino, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), NTT ini mengehembuskan nafas terakhirnya di salah satu rumah sakit yang ada di Malaysia.
Adelina Lisao hampir tidak mengucapkan sepatah kata pun, bahkan ketika dirinya hendak diselamatkan. Kondisinya lemah, terduduk lesu di teras rumah majikannya ditemani seekor anjing Rottweiler. Sudah sebulan lamanya Adelina dipaksa tidur di teras rumah majikannya dengan anjing itu. Ketika ditanya polisi, Adelina hanya mampu mengucapkan satu kata yaitu: “balik.” Dalam autopsi, ia diketahui mengalami anemia yang menyebabkan kegagalan multi-organ. Luka-luka ditubuhnya disebut karena gigitan anjing.

Kisah Mateus Seman
Tak hanya kaum hawa, paras adam pun kehilangan nyawa di negeri Jiran. Kali ini, kisah piluh dialami Mateus Seman. TKI asal kampung Mbeling, desa Gurung Liwut, Kecamatan Borong, Manggarai Timur, NTT. Mateus mengembuskan nafas terakhirnya pada (5/3/2018) di Tawau, Malaysia.
Demi membahagiakan kelurga, Mateus rela meninggalkan istri dan lima orang buah hatinya. Namun sayang, Sang Khalik berkehendak Mateus justru meninggalkan lembaran kenangan bersama keluarga untuk selamanya. Ia sempat berjanji akan mengirimkan uang untuk istrinya pada 5 Maret 2018, tetapi sungguh mengejutkan bukanlah pundi-pundi rupiah yang diterima, melainkan derai air mata. Mateus meninggal dunia.
Dini hari Selasa (13/3/2018), sekitar pukul 02.00 Wita, jenazah Mateus tiba di rumah duka di kampung Mbeling. Jenazah itu diterbangkan dari Tawau sejak (9 /3/ 2018) lalu. Siang sekitar pukul 12.00 Wita, jenazah mateus dimakamkan oleh keluarga. Dalam surat keputusan konsulat Republik Indonesia di Tawau-Malaysia nomor 450/kons/III/2018 yang salinannya diterima beberapa media cetak pada Selasa (13/3) dituliskan bahwa penyebab kematian Mateus adalah Coronary Artery Thrombosis.
Pihak keluarga Mateus mengakui bahwa mereka ikhlas dengan kematian Mateus.

Kisah Milka Boimau

Jenazah Milka dikirim dengan kondisi perut terjahit

Kisah kematian Milka Boimau Kerja Indonesia (TKI), asal Desa Kotabes, Kecamatan Amarasi, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur ( NTT), sungguh memprihatinkan. Kakak kandung Milka, Saul Boimau seolah tak rela saudarinya meninggal dengan cara yang tak wajar. Ini bukan tanpa alasan, kondisi jenazah Milka, penuh jahitan mulai dari leher, hingga perut bagian bawah serta bagian telinga berwarna hitam seperti bekas pukulan. Padahal, surat yang diterima pihak keluarga dari KJRI Penang, tertulis bahwa penyebab Milka meninggal karena sesak napas akibat infeksi paru-paru. Sungguh kematian yang misteri. Hingga kini belum diketahui akhir dari peristiwa keji itu.

Kisah Santi Yatni
Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Desa Laob, Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT) Santi Yatni Asmada Bahan dipulangkan ke kampung halamannya dengan tangan hampa. Karena selama dua tahun bekerja di Malaysia, Santi tidak pernah dibayar majikannya. Santi mengaku diberangkatkan secara ilegal oleh salah satu jaringan human traffiking Yanto Nalle pada 2015. Semua dokumen termasuk paspor di urus di Medan selama 2 hari dan setelah itu langsung diberangkatkan.
Santi berangkat melalui jalur laut pelabuhan Port Klang, setelah itu dibawa ke penampungan dan agensi Agensi pekerjaan Prestij Bistari. Dari agensi tersebut, Santi mendapat majikan bernama Lee Kwok Siang beralamat di No. 19 Jl. Wira Height 3 Bandar Sungai Long Kajang, Selangor, Malaysia.
Santi juga menandatangani kontrak kerja sebagai PRT dengan gaji RM 750/bulan dengan potongan selama 5 bulan. Namun majikan telah menyerahkan RM 20.000 ke Agency. Santi mendesak agar gajinya diperkirakan sebesar Rp25 juta lebih dibayarkan, akibatnya majikan mengembalikan Santi ke agency tanpa dibayar sepeserpun.
Santipun di kantor agency sejak April-Desember 2017 dengan gaji RM 1500, namun uang gaji itu dikirim langsung ke orang tua di kampung halamannya. Pada 29 Desember 2017, agency mengantar Santi ke bandara untuk dipulangkan, karena lalai, sehingga tiga TKI berhasil kabur dari agency itu.

Kisah Mariance Kabu
Mata Mariance Kabu (35), wanita asal Desa Poli, Amanuban Selatan, Kabupaten TTS tampak berkaca-kaca. Suaranya seperti tak mampu menahan tangis saat mengingat kembali penyiksaan yang diterima dari majikannya 4 tahun silam. Awalnya dia rekrut oleh dua tenaga lapangan dari PT Malindo. Keduanya yakni TM, warga Maulafa Kota Kupang dan PB warga Amanatun Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Di Malaysia, ibu Mariance diberikan jadwal untuk kerja dari pagi sampai malam mulai dari urus rumah, bersih-bersih, masak, hingga menjaga seorang Nenek. Nenek yang merupakan ibu dari majikannya itu sudah berusia 92 tahun. Serena, majikan Mariance adalah pekerja kantoran. Dia tidak memiliki suami dan anak. Belakangan dikabarkan kalau majikannya itu ternyata seorang lesbian. Satu bulan pertama, belum ada tanda-tanda kekerasan yang akan terjadi. Mariance bekerja seperti layaknya pembantu rumah tangga di apartemen murah Blok M10 itu.
Namun pada bulan-bulan berikutnya, perlakuan kasar mulai bertubi-tubi datang. “Saya dipukul, ditendang seperti binatang. Kuku saya dicabut, hidung saya patah dan telinga saya tidak berfungsi dengan baik,” kisah Mariance. Mariance beruntung karena dirinya berhasil diselamatkan oleh sepucuk surat yang dia tulis lalu dilempar ke luar apartemen. Jarak apartemen mereka dengan tetangga tersebut sekitar 5 meter dengan pintu yang berhadapan. “Pokoknya saya tulis bahwa saya di sini mandi darah setiap hari, tolong saya,” kisah Mariance.
Mariance menulis surat itu saat majikannya berangkat ke kantor. Secarik surat itu selesai ditulisnya kira-kira jam 11 siang pada 20 Desember 2014.
Surat itu lalu dia sembunyikan dalam saku celana. Menjelang jam 6 sore, dia mendengar ada orang yang lewat di luar apartemen. Dia cepat-cepat meremas surat itu dan melemparnya lewat fentilasi sambil berteriak minta tolong. Dalam pikirannya surat harus tepat sasaran karena saat itu adalah waktu majikannya pulang dari kantor. Beruntung surat yang tulis dalam bahasa melayu mencapai target. Tetangga apartemen mendapatkan surat kusut itu dan segera melapor ke Kepolisian Ampang. Satu jam kemudian, kepolisian Ampang, Malaysia datang. Saat itu, sang majikan sudah tiba di apartemen. ♦ voxntt.com

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.