Endwin Lerick : Pemerintah harus siapkan armada laut untuk Flores Utara

Endwin Lerick : Pemerintah harus siapkan armada laut untuk Flores Utara

♦ Demi kemajuan pariwisata

 

Edwin Lerrick, pegiat pariwisata dan owner biro perjalanan umum Lavalon mendesak pemerintah NTT, dan Kabupaten untuk memprogramkan armada laut khusus jalur utama Flores.” Sesuai program yang sedang digencarkan Gubernur Kita Bapak Vicktor Bung Tilu Laiskodat agar wisata NTT harus maju, maka salah satu program sangat penting dan segera dilakukan yaitu pengadaan armada laut untuk lintas utara Flores. Berlabunya armada baik kapal laut maupun fery boleh di Labuan Bajo atau Komodo, atau di Marapokot Mbay Nagekeo atau di Maumere. Tetapi yang terpenting bahwa jalur ini segera di programkan secara intensi.” Penegasan ini disampaikan Edwin Lerick kepada EXPO NTT Rabu 17 Oktober 2018. Lerik berpedapat, sarana transportasi laut serta sarana dan prasarana pelabuhan yang tidak memadai akan menghambat program gubernur memajukan dunia pariwisata di NTT.
Mantan Kepala Dinas Perhubungan NTT Stef Ratuju kepada EXPONTT menjelaskan,” Semasa saya sudah diprogramkan berupa kapal dan kapal penyeberangan yang disubsi pemerintah. Jalurnya melayani sepanjang pesisir utara Flores melayani dari Laranuka, Maurole, Marapokot, Reo, Wodong sampai ke Labuan Bajo pulang pergi.Saya kurang tahu saat ini, karena saya tidak lagi di Dishub.”
Alasannya, transportasi laut di jalur Utara Flores lebih murah dan resiko kecelakaan lebih kecil dibandingkan dengan transportasi darat,” Jalur laut di utara Flores sangat penting. Pertama armada laut utara Flores bisa digunakan rakyat banyak. Mengakut hasil bumi atau hewan lebih efektif dan murah. Tetapi jangan dengan kapal besar seperti sekarang yang ditolak masyarakat atau LSM. Kapal besar sangat tidak efektif karena harus tunggu lama. Sementara rakyat butuh cepat misalnya angkut hewan dari Maumere atau larantuka ke Maurole, terus ke Riung, Marapokot, Reo atau Kendidi sampi Labuan Bajo lebih cepat. Kapal besar mesti tunggu sampai banyak orang atau sudah sampai 100 orang baru jalan. Gunakan perahu sedang agar lancar dan cepat.”
Hal ini disarkan pegiat pariwisata Edwin Lerick.
Selama ini tegas Edwin, sudah dilayani kapal-kapal kecil tetapi belum maksimal.” Kapal sedang tetapi bagus bisa juga ditumpangi para wisatawan.” Lagi pula kapal kecil berdampak karena sambil berlayar, wisatawan lokal maupun domestic bisa menyaksikan pemandang selam pelayaran. Jika lewat darat lebih mahal dan meletihkan. Ternak pun bisa mati jika pakai kapal besar.
“Saya kira karena ini program nasional yang dicanangkan Presiden perlu didukung pemerintah lokal dalam rangka memperlancar transportasi barang dan jasa serta manusia, kita dukung. Daripada lewat darat harus melintasi jalan yang berliku dan merusak jalan, lebih baik lewat laut. Bisa langsung dari Sape, Labuan Bajo, Riung, Nagekeo, Maurole masuk Maumere,” kata Bupati Nagekeo Elias Djo.
Dari kesiapan armada transportasi laut, kata Elias, juga masih minim. Selama ini, katanya, kapal penumpang yang singgah di Pelabuhan Marapokot hanya KM Wilis. Sedangkan kapal feri hanya satu melayani rute Makasar-Marapokot.
Selebihnya, hanya kapal-kapal kecil pengangkut semen dan ternak. Saya berharap dengan program tol laut yang dicanangkan Presiden Joko Widodo, akan ada peningkatan jumlah bantuan kapal ke NTT, satu di antaranya dialokasikan untuk melayani jalur Utara Flores,” harap Elias.
Elias juga berharap, program tol laut yang dicanangkan Jokowi diikuti dengan pembenahan sarana dan prasarana pelabuhan laut. “Pemerintah daerah juga akan memberi dukungan sesuai dengan kemampuan daerah,” kata Elias.
Elias mengungkapkan, sejak tahun 2017 pemerintah pusat mengalokasikan tambahan dana senilai Rp 20 miliar untuk menyelesaikan pekerjaan pembangunan lapangan penumpukan barang di lokasi bongkar muat Pelabuhan Marapokot.
Elias menjelaskan, di Kabupaten Nagekeo, saat ini ada dua pelabuhan laut, yakni Pelabuhan Aewoe di Selatan Nagekeo dan Pelabuhan Marapokot di Utara Nagekeo. Dua-duanya demikian Elias, masih pelabuhan perintis. Belum ada yang dikelola secara komersil oleh Pelindo. Pelabuhan-pelabuhan tersebut, lanjut Elias, masih berfungsi. Hanya di lokasi bongkar muat Pelabuhan Laut Marapokot yang sudah tidak bisa lagi disandari kapal. “Yang masih berfungsi bagus hanya pelabuhan penyeberangan. Sedangkan pelabuhan laut, khususnya di lokasi bongkar muat sudah tidak bisa disandari lagi oleh kapal. Kita masih terus berjuang mendapatkan bantuan dana dari pemerintah pusat untuk membenahi dan mengoptimalkan pemanfaatan pelabuhan yang ada. ♦ wjr/web

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.