Fenomena Alam 2019

Fenomena Alam 2019

MANUSIA yang bermukim di bumi ini, termasuk kita sudah mengalami hari dan waktu 2019. Kita tinggalkan 2018, sebagai kenangan dan refleksi. Ada yang bersyukur karena sukses dalam keluarga maupun pribadi. Yang pastibahwa punya rencana, target yang harus di capai di tahun 2019 ini.
Kita di NTT sudah dipimpin oleh Vicktor Bungtilu Laiskodat dan Joseph Nae Soi. Sudah tiga bulan berlalu, kini memasuki tahap baru. Vicktor memimpin dengan gayanya. Semua sudah tahu. Memimpin NTT mesti dengan gaya gempa bumi. Bukan gemba bumi yang kita alami di beberapa kawasan di tahun 2018.
Yang dimaksud gempa bumi, harus dengan gebrak meja, masyarakat NTT di kaget dengan gaya suara seorang gubernur yang kuat dan punya tekad baja membangun NTT. Tag linenya,” NTT Bangkit dan Sejahtera”
Orang NTT harus paham. Paham dengan cara apa, dengan kerja keras dan berusaha keras. Jangan berdiam diri, dan sang gubernur sudah mengacam termasuk generasi muda. Di tahun 2019, tahun kerja Bungtilu dan Joseph Nae Soi untuk memenuhi janji selama masa kampanye.
Kita orang NTT masih dibawah ancaman. Ancaman pertama dari dalam diri sendiri, mau menjawab tantangan zaman atau pasrah pada nasib, situasi dan kondisi. Ikuti semangat gubernur dan wakil. Masih ancaman kedalam, generasi muda, tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, tidak dapat merawat sanak saudara yang sakit, walau sejumlah bupati sudah kampanye pengobatan gratis, sekolah gratis sampai ditingkat SLTA, namun masih miskin.
Miskin karena malas, miskin karena tidak mau mengejar ketertinggalan. Tetapi miskin masih berlanjut, karena program yang dijanjikan pemerintah pusat, propinsi maupun kabupaten tidak bisa terwujud. Infrastruktur, jalan yang rusak, menyebabkan sulit dijangkau dan hinggi kini, NKRI yang sudah berusia tua 73 tahun, pembangunan tidak merata.
Masyarakat di pedalaman masih miskin dari Aceh sampai Papua. Faktanya demikian. Janji desa-desa sampai kepelosok negeri sudah diterang listrik sampai Desember 2018 tak terwujud. Masyarakat hanya berpuas diri menyaksikan tiang-tiang yang ditanam. Kapan listriknya berfungsi agar orang desa lebih maju? Mengeyam pendidikan mulai dari bangku PAUD, TK, SD sampai SLTA masih pada wacana.
Seperti ditayangkan di berbagai media sosial, anak-anak masih belajar di bawah pohon atau gedungreyot yang dibuat dari daun gewang. Pajabat pasti bisa bantah dan batahannya masuk di logika kita. Anak-anak kesekolah harus menempuh jalan kaki berkilo-kilo, harus menyeberang sungai dan…ah… sangat banyak kisah kelam menimpah generasi kita. Kita masih miskin, tetapi, boleh-boleh saja miskin harta, tetapi jangan miskin karena malas, tidak kreatif, miskin karena malu bertanya kepada orang lain.
Di 2019, ancaman alam bisa menjadi kenyataan. Kita mesti waspada, kita mesti berdoa agar Tuhan tidak murka di tahun 2019 ini.
Tanda-tanda alam 2018 dengan bencana yang sangat dahsyat sudah terjadi di Palu yang menelan korban jiwa ribuan, dipenghujung Desember 2018, lagi-lagi terjadi di Selat Sunda Jawa Barat dan Sumatera selamat yang juga menelan korban jiwa dalam jumlah besar, ribuan, harta benda. Kita tangis dan sedih atas peristiwa alam yang memalangkan manusia di bumi.
Banyak dari kita beranggapan jika bencana alam atau pemanasan global akan menjadi penyebab akhir dunia. Kenyataannya, apa yang terjadi pada dunia akhir-akhir ini bisa menyebabkan kiamat. Mulai dari rekayasa genetika, kecerdasan buatan, dan gejolak politik sejak beberapa tahun terakhir. Jika diteruskan, dunia akan bergoncang dan berakhir dengan banyaknya kematian.
Sudah dilansir di media, termasuk media sosial, bahwa bencana mengancam nyawa manusia di tahun 2019 ini, Kita di Indonesia mendoakan agar Pemilu 17 April berjalan aman, tidak ada ancaman kaum radikalis, orang yang berambisi besar hanya mempertahankan ideology, golongan dan kepentingan diri maupun kelompok. Suasana kian memanas sebelum hari pencoblosa.
Ini say abaca dari berbagai sumber bahwa tahun 2019 akan menjadi tahun biasa yang diawali hari Selasa dalam kalender Gregorian, tahun ke-2019 dalam sebutan Masehi dan Anno Domini(AD), tahun ke-19 pada Milenium ke-3, tahun ke-19 pada Abad ke-21, dan tahun ke- 10 dan terakhir pada dekade 2010-an. Denominasi 2019 untuk tahun ini telah digunakan sejak periode Abad Pertengahan awal, ketika Era kalender Anno Domini (Tahun Masehi) menjadi metode lazim di Eropa untuk penamaan tahun.
Konon, akan terjadi fenomena alam secara global tahun 2019 ini.
NASA, prediksi akan terjadi gerhana mata hari cincin.
Kalau pada 2018, kita disuguhi dengan fenomena super blood moon dan beberapa kali gerhana.
Pada 2019, gerhana kembali terjadi dan bisa dilihat di wilayah Indonesia.
Dilansir dari akun Instagram resmi BMKG, Kamis 27 Desember 2018,
berikut daftar fenomena langit yang akan terjadi pada 2019 seperti pada 12 atau 13 Januari 2019 pukul 06.30 WIT, Matahari akan tepat berada di antipoda/’balik’ Ka’bah. Hal ini mengakibatkan bayangan Matahari pada waktu tersebut juga mengarah ke Ka’bah.
Februari, Supermoon Heathrow London (Daily mail). Tak bisa menyaksikan fenomena Supermoon yang terjadi pada akhir Januari lalu karena terhalang kondisi cuaca? Maret, pada bulan ketiga, akan ada fenomena Ekuinoks vernal di Bumi belahan utara dan autumnal equinox di Bumi bagian selatan.
Ekuinoks vernal atau titik Musim Semi Matahari menandai dimulainya musim semi astronomis.
Sebaliknya, autumnal equinox atau titik Musim Gugur Matahari merupakan kebalikannya dari titik Musim Semi Matahari masing-masing.
Titik ini tejadi pada 21 Maret 2019 pukul 05.00 WIB. Mei, bila pada Januari lalu, Matahari berada di ‘balik’ Ka’bah, maka pada 27/28 Maret, Matahari akan berada tepat di atas Ka’bah. Fenomena ini akan terjadi pukul 16.18 WIB. Dikutip dari laman nu.or.id, fenomena tersebut merupakan kesempatan bagi umat Islam di berbagai belahan dunia untuk meluruskan arah kiblat melalui bayang-bayang matahari.
Pada 21 Juni 2019, akan terjadi fenomena Summer Solstice di Bumi bagian utara dan Winter Solstice di Bumi bagian selatan. Fenomena ini mencapai puncaknya pada pukul 22.55 WIB. Dikutip dari laman langitselatan.com, Summer Solstice sekaligus menandai dimulainya musim panas di belahan Bumi utara dan dimulainya musim dingin di belahan Bumi Selatan.
Istilah Summer Solstice lebih dikenal lantaran keberadaan Matahari di titik paling utara menandai berlangsungnya siang yang panjang di belahan utara atau malam terpendek sepanjang tahun.
Pada saat itu, Matahari tidak akan terbit tepat di timur tapi agak lebih ke utara dari arah timur dan akan terbenam juga lebih ke utara dari arah barat.Juli akan terjadi Gerhana Bulan Parsial (tadst.com)
Pada Juli 2019, setidaknya ada dua fenomena yang akan menghiasi langit.
Pertama, padad 15/16 Juli 2019, Matahari kembali akan berada tepat di atas Ka’bah, pukul 16.26 WIB.
Kedua, pada 17 Juli 2019, akan terjadi fenomena Gerhana Bulan Parsial.
Melansir dari Infoastronomy.org, gerhana bulan parsial akan berlangsung selama 5 jam 34 menit, dengan fase parsial selama 2 jam 58 menit.
Proses gerhana bisa diamati mulai pukul 01.34 WIB. Fase parsial akan dimulai pukul 03.01 WIB dan puncaknya akan terjadi pada pukul 04.30 WIB.
Gerhana akan berakhir pada 05.59 WIB.
Pada September, fenomena Ekuinoks vernal dan autumnal equinox akan kembali terjadi pada 23 September 2018, pukul 14.51 WIB. Fenomena Ekuinoks vernal akan menjadi spesial karena akan momen Hari Tanpa Bayangan. Saat fenomena tersebut terjadi bayangan kita dan benda-benda sekitar seolah terlihat menghilang. Faktanya, bayangan kita atau benda di sekitar tidaklah hilang, melainkan bertumpuk dengan tubuh atau benda itu sendiri.
Bulan November dipridiksi akan terjadi fenomena Matahari tepat berada di ‘balik’ Ka’bah akan kembali terjadi pada November. Tepatnya pada 28 November 2019 pukul 06.08 WIT dan bulan Desember terjadi Gerhana Matahari Cincin (abcnews.com)Pada akhir tahun, kita akan kembali menyaksikan dua fenomena spesial. Pada 22 Desember 2019, fenomena Summer Solstice (Selatan) dan Winter Solstice (Utara) kembali terjadi. Empat hari kemudian, akan ada fenomena Gerhana Matahari Cincin atau tepatnya pada 26 Desember 2019. Lama fase Gerhana Matahari Cincin sekitar 3 menit 40 detik dengan durasi global 5 jam 35 menit 58 detik. Korona matahari tidak terlihat selama gerhana cincin terjadi. Jalur gerhana akan dimulai di Arab Saudi dan bergerak ke timur melalui India selatan, Sri Lanka utara, Samudra Hindia, dan Indonesia sebelum berakhir di Samudera Pasifik. Inila secuil catatan saya sekadar mengingatkan kita semua agar berhati-hati dan berdoa kepadaNya supaya kisah yang sedikit menyeramkan ini, tidak menimpa kita. ♦

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.