Final ETMC Ricuh, Bupati Ngada Minta Pertandingan Ulang

Final ETMC Ricuh, Bupati Ngada Minta Pertandingan Ulang

FINAL Liga 3 Eltari Memorial Cup (ETMC) Tahun 2017 antara Perse Ende berhadapan dengan PSN Ngada yang berlangsung di Stadion Marilonga Ende, Rabu 9 Agustus 2017, berakhir ricuh. Bupati Ngada Marianus Sae menyebutkan mesti dilakukan pertandingan ulang di tempat netral.
Marianus Sae berada di Maumere untuk mengikuti Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Luar Biasa Bank NTT di Sikka Convention Center, Jumat 11 Agustus 2017. RUPS Luar Biasa Bank NTT ini dihadiri semua bupati se-NTT, termasuk Bupati Ende Marselinus Petu. “Buat saya itu final yang tidak boleh terjadi untuk masa-masa yang akan datang. Peristiwa itu menunjukkan potret suramnya sepak bola di NTT. Ini harus menjadi catatan bersama,” tegas Marianus Sae yang menonton pertandingan final dari Tribun VIP Stadion Marilonga.
Bupati Ngada dua periode ini mengatakan, mestinya pertandingan final itu tidak bisa dilaksanakan karena melubernya penonton sampai ke garis lapangan. Dalam pengamatannya, Stadion Marilonga dengan kapasitas kurang lebih 8.000 orang, tetapi malam itu bisa mencapai 30.000 lebih penonton. Situasi itu, kata dia, sangat tidak kondusif, karena akan sangat mengganggu jalannya pertandingan.
Selain penonton yang meluber sampai ke garis pertandingan, Marianus Sae juga menyebut beberapa indikasi yangn dirasakan janggal pada malam pertandingan final. Seperti pada babak pertama, waktu pada papan skor digital tidak ditayangkan. Dia menyebut babak pertama tidak dilaksanakan peneh 45 menit, tetapi hanya 33 menit saja. Terkait keputusan Pengawas Pertandingan yang memenangkan Perse Ende dengan alasan PSN Ngada meninggalkan lapangan pertandingan setelah terjadi ricuh pada menit-59, Marianus Sae menyayangkan sikap Pengawas Pertandingan. Keputusan itu, kata dia, sangat emosional dan tidak beralasan.
“Jadi PSN Ngada itu bukan walk out. Tetapi saat terjadi kericuhan, dan ribuan penonton sudah masuk ke lapangan, saya pikir siapa pun harus meninggalkan situasi itu. Karena pada saat itu semua sudah terancam, lemparan batu dan botol air mineral dari mana-mana. Saya dukung langkah yang diambil PSN Ngada untuk menyelamatkan diri dari situasi itu,” ujar dia.
Demi menyelamatkan wajah sepak bola NTT yang sudah tercoreng pada final Liga 3 ETMC, Marianus Sae menegaskan agar dilakukan pertandingan ulang di tempat netral. Karena itu, dia memberikan apresiasi kepada Manajemen PSN Ngada, yang akan mengajukan protes kepada PSSI untuk meninjau kembali keputusan Pengawas Pertandingan. Bupati yang gila bola ini mengatakan, jika melihat penyelengaraan Liga 3 ETMC 2017 di Kabupaten Ende, maka untuk penyelenggaraan ke depan banyak hal yang harus diperbaiki demi kemajuan sepak bola NTT. Kabupaten Ende selaku tuan rumah, katanya, sudah berupaya memberikan yang terbaik, meski pada puncaknya berkahir dengan ricuh. Sebagaimana diketahui, final Liga 3 ETMC berujung ricuh pada menit ke-59, ketika Perse Ende sedang unggul 1-0. Saat itu terjadi aksi seorang pemain PSN Ngada yang menyikut dan mendorong pemain Perse Ende hingga terjatuh. Spontan ribuan penonton pun langsung masuk ke dalam lapangan pertandingan. Suasana pun berubah chaos dan tidak dapat dikendalikan lagi. ♦ mediantt.com

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.