Gubernur Diminta Perhatikan Jalan Propinsi, Tak Hanya Urus Sophia

Gubernur Diminta Perhatikan Jalan Propinsi, Tak Hanya Urus Sophia

GUBERNUR NTT, Viktor Laiskodat diminta untuk tidak hanya sibuk mengurus hal-hal yang kurang penting seperti mempromosikan minuman keras Sophia. Tetapi juga harus memperhatikan pelaksanaan pembangunan jalan propinsi tahun 2019 yang menghabiskan anggaran hingga ratusan milyar rupiah.
Demikian dikatakan Ketua Satgas Anti Korupsi Partai Golkar NTT, Kasimirus Bara Bheri, SH saat dimintai komentarnya terkait realissi fisik yang rendah dan keraguan akan mutu jalan pada pembangunan jalan propinsi Bealaing-Mukun-Mbazang segmen 2 senilai Rp 14,1 M yang dilaksanakan oleh PT Agogo Golden Group (AGG).
Politisi partai Golkar ini mengingatkan kepada Gubernur NTT untuk serius memperhatikan kualitas pekerjaan dari setiap rekanan yang melaksanakan pembangunan jalan propinsi yang dibiayai dari APBD NTT tahun 2019 yang nilainya mencapai ratusan milyar rupiah dan hanya difokuskan pada daerah tertentu saja.
“Saya minta kepada Gubernur Viktor Laiskodat, jangan hanya urus hal-hal yang kurang penting seperti Sophia, kelor dan urus tinju melawan Cris Jhon. Tetapi perintahkan kepada stafmu yaitu kadis PUPR NTT untuk benar-benar mengawasi pelaksanaan pembangunan jalan. Jangan hanya mempromosikan minuman sophia melulu,” kritik Bheri.
Sebagai Ketua Satgas Anti Korupsi DPD Partai Golkar NTT, Bheri mengakui jika pihaknya telah mendapat laporan dari masyarakat tentang kdkuatiran kualitas jalan propinsi yang rendah. “Memang sudah ada laporan dari warga soal kekuatiran mereka soal mutu/kualitas pekerjaan jalan propinsi, khususnya di ruas jalan Bealaing-Mukun-Mbazang segmen 2. Maka saya tidak bosan-bosannya mengingatkan Gubernur NTT untuk lebih serius memperhatikan mutu pekerjaan rekanan karena pada tahun ini ada alokasi dana ratusan milyar rupiah untuk pembangunan jalan pada daerah tertentu,” tandasnya.
Menurut Bheri, realisasi fisik yang rendah di masa awal proyek jalan propinsi Bealaing-Mukun-Mbazang segmen 2, akan berdampak pada kualitas jalan. “Pelaksanaan proyek baru dikebut pada masa akhir proyek akan berdampak pada rendahnya kualitas jalan,” katanya.
Karena itu, Bheri meminta Direktur PT. Agogo Golden Group, Franky Ratutaga untuk melaksanakan pekerjaan sesuai kontrak. “Kalau saya tidak salah, rekanan ini pernah menjadi tersangka dan dihukum dalam kasus korupsi. Jadi harus belajar dari pengalaman dan kerja sesuai kontrak,’ tegasnya. Selaian itu, Bheri juga menguatirkan kualitas pekerjaan hotmix jalan Bealaing-Mukun-Mbazang sekitar 2 km di segmen 2 tersebut. “Jarak angkut aspal oleh PT Agogo Golden Group dari Asphalt Mixing Plan (AMP) yang terletak di Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende hingga ke lokasi pekerjaan sangat jauh. Ini berpengaruh pada renfahnya suhu aspal yang diangkut,” ujarnya. Padahal, lanjut Bheri, untuk pekerjaan hotmix harus menggunakan aspal dengan suhu minimal 95 derajat celcius. “Karena itu, pekerjaan ini harus benar-benar diawasi karena menyangkut suhu aspal yang akan digunakan minimal 95 derajat celcius,” paparnya sambil memperbaiki posisi duduknya. Seperti diberitakan sebelumnya, realisasi fisik pekerjaan jalan propinsi ruas Bealaing-Mukun-Mbazang segemen 2 sangat rendah. Fisik proyek senilai Rp 14,61 M yang dilaksanakan PT AGG tersebut baru berupa pekerjaan pelebaran jalan sekitar 100 meter. ‚ô¶¬†suaraflobora.com

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.