Gubernur NTT Hukum Staf

Gubernur NTT Hukum Staf

GUBERNUR Nusa Tenggara Timur Viktor Laiskodat menghukum staf. Doeloe, guru sekolah dasar menghukum anak murid kalau membuat kesalahan. Kali ini, tepat Kamis 24 Oktober 2019 Gubernur memberi tindakan tegas terhadap aparatur sipil negara, dengan sanksi fisik berupa squat jump kepada Kepala Biro Tata Pemeritahan Setda NTT bersama sejumlah stafnya karena system suara kurang bagus atau gangguan teknis saat menggelar rapat kerja Gubernur Nusa Tenggara Timur bersama Wali Kota, Bupati, Camat, Lurah dan Kepala Desa se-Nusa Tenggara Timur, di GOR Oepoi Kupang.
Mendengar perintah Viktor Laiskodat, Karo Tata Pemerintahan yang juga ketua panitia rapat kerja, Doris Rihi langsung turun dari podium dan mengajak stafnya untuk melakukan “Squat Jump” sebanyak 10 kali. Aksi Karo Tata Pem beserta stafnya ini, mendapat tepuk tangan dan teriakan ribuan hadirin.
Menurut Gubernur Viktor Laiskodat, sanksi yang diberikan itu bukan karena rasa benci, namun untuk melatih kesiapsiagaan para stafnya agar menuju kesuksesan. Rapat kerja itu dihadiri 1.976 kepala desa, 194 lurah, 268 camat, 6 wakil bupati dan 16 bupati se-Nusa Tenggara Timur.
Apakah tindakan Gubernur VBL logis ataukah biasa-biasa saja layaknya seorang ayah menghukum anak dengan hukuman fisik? Tindakan Gubernur VBL harus menjadi pelajaran sangat berarti agar seluruh Aparatur Sipil Negara di NTT bekerja dengan sungguh-sungguh dan professional sesuai bidang tugas.
Sikap yang diperlihatkan Gubernur VBL menurut saya sangat positif dan menjadi pelajaran bagi seluruh ASN dari pimpinan sampai staf. Dan tindakan tegas gubernur kali ini, sangat tepat karena disaksikan pejabat penting di daerah ini, semua bupati,walikota,semua camat dan kepala desa dan semua orang NTT yang hari ini hadir dalam Raker.
Kita patut apresiasi kepada Gubernur VBL yang melakukan kebijakan tegas agar ASN yang tidak sigap dalam melayani masyarat sadar. ASN harus bersyukur karena mendapat tempat terhormat dibanding dengan rakyat yang harus bersusahpaya dalam mengarungi kehidupan ini. Bahwa Gubernur VBL bilang, hukuman ini karena sayang, tetapi kita yang menonton peristiwa ini malu.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa ASN tidak sungguh-sungguh menjalani tugas seperti sudah digaris aturan tetapi kerap lalai. Mungkin perlu tulisan bersambung tentang ASN yang dalam keseharian kerap lupa akan tugas pokok. Pertama dalam melayani masyarakat lalai, jam keluar masuk kerja kerap terlambat, korupsi misalnya dan masih banyak kelalai yang perlu diawasi secara rutin. Omong tentang sikap ASN memang sangat panjang.
Kita mengharapkan tindakan Gubernur VBL memberi hukuman terhadap stafnya dengan squat jum sebanyak 10 kali tidak akan terjadi di waktu-waktu mendatang.
Ada web site pemerintah lapor.go.id bisa dijadikan saluran bagi masyarakat yang kedapatan ada ASN yang lalai dalam tugas pokok. Di lobi Kantor Gubernur NTT Gedung Sasando ada papan pengumuman yang mengimbau siapa saja yang menemukan sikap dan perilaku ASN yang melanggar aturan untuk melapor.
Seorang Gubernur seperti VBL juga tidak luput dari kesalahan. Semua yang diucapkan kepada rakyat NTT juga tercatat sebagai ‘perbuatan’ dalam tanda kutip seperti janji membangun NTT agar lebih sejahtera. Tetapi tidak semua yang dijanjikan dilakukan seorang Gubernur NTT bersama staf kemakmuran. Jika janji tidak ditepati mesti mendapat sangsi seperti janji bangun infrastruktur APBN atau APBD NTT, pembiayaan Investasi Non Aggaran (PINA) dan Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) melalui pelaksanaan secara bertahap. Dan, masih banyak lagi. Semoga Gubernur VBL merealisasikan semua janji. ♦

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.