Gubernur NTT Pungut Sampah, Dimanakah Nurani Kita?

Gubernur NTT Pungut Sampah, Dimanakah Nurani Kita?

JUDUL tulisan ini terinspirasi dari lagu yang dinyanyikan Vocal Group (VG) Mulenoa. Judul lagu itu adalah “Gubernur Pilih Sampah, Rakyat Menonton”. Liriknya, begini: “Katanya Kota Kupang adalah Kota Kasih, tetapi penuh dengan sampah. Dimana mata kita? Dimana hati kita? Buanglah sampah pada tempatnya. Kemarin kumelihat, gubernur pilih sampah. Kemarin kumelihat, rakyatnya menonton. Dimanakah nurani kita? Ingatlah Kota Kupang Kota Kasih. Ingatlah buang sampah pada tempatnya.” Group yang belum dikenal masyarakat NTT, khsusnya Kota Kupang ini telah membuat Gubernur NTT, Victor B. Laiskodat dan Wakil Yosep Nae Soi tertarik dan kemudian memanggil mereka duduk semeja (Harian VN, 1 Februari 2019.

Sekilas VG. Mulenoa
Mari kita lihat, sekilas tentang VG. Mulenoa. Mulenoa didirikan pada tanggal 11 Maret 2009 di Oesapa, Kota Kupang oleh beberapa mahasiswa asal Pulau Pura, Kabupaten Alor. Kecintaan mereka terhadap tanah kelahiran, membuat group ini diberi nama Mulenoa. Dalam Bahasa Pura memiliki arti sehati sesuara atau menurut pengakuan beberapa anggota group memiliki arti ‘bersatu dalam kasih Tuhan’. Dalam perjalanannya, group ini mengalami kondisi jatuh – bangun. Group yang umumnya dihuni mahasiswa asal Pulau Pura Alor ini nyaris mandek, lantaran jika ada yang diwisuda, maka harus meninggalkan Kota Kupang dan otomatis mengurangi anggota grup.
Meski demikian, group ini terus eksis lantaran mahasiswa yang merasa diri berasal dari Pulau Pura maupunTernate, akan dengan suka rela bergabung dalam group ini. Kini banyak yang sudah selesai dan pulang ke Alor. Ada pula yang masih bertahan mengais rejeki di Kota Karang, sekaligus mempertahankan Group Mulenoa. Seorang teman saya yang dulu, pernah kami sama-sama bergabung dalam group ini mengaku kaget, karena dia berpikir group ini sudah mandek atau tidak eksis lagi. Padahal dimanapun, jika para anggota berkumpul, maka akan terus membawa nama Mulenoa. Hampir setiap Minggu, group ini selalu membawakan satu atau dua buah lagu di gereja. GMIT Diaspora Danau ina menjadi tempat ibadah awal group ini menyanyikan pujian. Dalam perjalanannya, Group ini pun kerap mengisi pujian di beberapa gereja di Kota Kupang. Jika dibilang, group ini sama dengan beberapa group-group lainnya di NTT, khsusnya di Kota Kupang yang hampir setiap minggu mengisi pujian di gereja.
Dari ketabahan dan ketekunan membangun VG, lagu berjudul “Gubernur Pilih Sampah, Rakyat Menonton” kemudian membuat nama group ini semakin meroket. Itu lantaran lagu tersebut sontak viral di media sosial dan rupanya sampai ke telinga sang Gubernur, Victor B. Laiskodat dan wakilnya Yosep Nae Soi. Siapa sangka, mereka pun akhirnya dipanggil untuk bertemu gubernur dan wakilnya di rumah pribadi gubernur, Kamis (31/1) malam. Beranggotakan empat orang kala itu, yakni Marthen Tonunglalang (Fynder), Imanuel Besituba (Mabez), Semuel Palinata (Achun) dan Petrus Dopongtonung (Obla). Mereka pun diminta gubernur untuk merekam ulang isi lagu itu dan dibagikan ke setiap instansi di Pemprov dan Pemkot/Pemkab di NTT. Luar biasa!

Memaknai Semangat Gubernur
Pada titik ini, saya mencoba menafsir semangat gubernur kita. Di berbagai kesempatan – selain mengajak agar disiplin – gubernur ingin agar anak-anak muda harus kreatif. Saya ingat, kala memberikan kuliah umum di di Aula Undana, Senin (3/11), gubernur mengaku, jarang bertemu orang NTT kerja 19 jam dan istirahat 5 jam. Sedangkan, ia mengaku, hanya menghabiskan 4-5 jam istirahat. Karena itu, ia meminta mahasiswa agar tidak banyak tidur. “Banyak anak muda yang produktif, tetapi tidur lebih banyak. Dia (anak muda) sangat cepat tidur tapi susah bangun. Seharusnya sangat susah tidur tapi cepat bangun,” katanya kala itu.
Hemat saya, semangat itu kemudian turut disampaikan oleh Group Mulenoa. Gubernur tak menyangka jika ada pemuda yang kreatif, lantas mendukung program pemerintah soal pariwisata, khsusnya soal pentingnya menjaga kebersihan. Tentu, gubernur paham benar bahwa dengan dukungan dan semangat pemuda akan memperlancar program dan kebijakannya. Apalagi, masyarakat NTT, khsusnya Kota Kupang sebagian masih apatis terhadap sampah, lalu membuang sampah sembarangan. Itu terbukti beberapa waktu lalu, Kota Kupang keluar sebagai salah satu kota terkotor di Indonesia sebagai kota sedang, diikuti Waikabubak dan Ngada sebagai kota kecil. Gubernur tentu merasa, Group Mulenoa telah berhasil menyuarakan apa yang ada di benak dan hatinya.
Soal kebersihan, lagi-lagi gubernur selalu punya ide-ide kreatif. Saya ingat, sosok yang akrab disapa VBL ini pernah menyebut, dari sekian banyak festival budaya di NTT, festival kebersihan toilet juga – ke depan – akan dilakukan. Bagi sebagian orang, tentu ide ini terasa aneh bahkan gila. Pasalnya, jika festival ini dilaksanakan, maka saya kira baru pertama kali dalam sejarah di belahan dunia mengadakan festival ini. Saya kemudian, berupaya menafsir maknanya.
Jika kebersihan dimulai dari bagian yang paling tersembunyi, maka tentu sudah pasti di bagian luarnya bersih. Berbeda, jika di luar bersih, belum tentu di dalam juga bersih. Ini yang dimaksudkan gubernur. Ternyata, maknanya sederhana, tapi luar biasa. Pada titik ini, saya lihat, gubernur ternyata tak hanya bicara kemudian di dianggap lip services belaka, karena memang karakter pejabat di Indonesia, umumnya lebih banyak bicara, ketimbang kerja.
Berbeda dengan VBL, ia kemudian rajin turun ke jalan-jalan, di pinggir toko, dan pantai untuk memungut sampah. Kader Partai NasDem ini kini selalu menyeimbangkan antara kata dan tindakan, karena itu seharusnya kita pun terpanggil untuk menjaga kebersihan. Karena bagaimanapun manfaat dari kebersihan akan kita rasakan, bukan semata-mata untuk gubernur tetapi bagi semua masyarakat NTT. Pada titik ini, kita karusnya malu dengan apa yang dilakukan pemerintah kita saat ini. Gubernur pilih sampah, rakyat menonton, di manakah hati kita, dimanakah nurani kita? Semoga. ♦ seword.com

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.