Gubernur NTT Tantang Pemkab Persiapkan Pariwisata secara Baik

Gubernur NTT Tantang Pemkab Persiapkan Pariwisata secara Baik

TANTANGAN bagi Pemkab Rote Ndao adalah bagaimana mempersiapkan diri secara baik dalam rangka mensinerginakan dan mengkolaborasi program-program di Bidang Pariwisata yang sudah dicanangkan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi NTT. Untuk itu, diperlukan langkah-langkah terobosan, kecepatan dan ketepatan kerja, dalam rangka untuk membangun pariwisata karena menurut hasil penelitian, lompatan pendapatan pariwisata itu experencial (lompatan berganda) yang diyakini mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi masyarakat. Hal tersebut disampaikan Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat saat membuka Festival Mulut Seribu di Desa Daiama, Kecamatan Landu Leko, Kabupaten Rote Ndao, Sabtu 26 Oktober 2019 lalu.
Dikatakan Viktor, pariwisata mampu melakukan lompatan yang luar biasa, sehingga membuat pariwisata menjadi salah satu sektor ekonomi terbesar dan tercepat di dunia. Industri pariwisata merupakan pilihan termudah dan termurah dalam rangka meningkatkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB), menghasilkan devisa, dan mampu menciptakan lapangan kerja.
Menurut Viktor, wisatawan mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk berkunjung ke Rote dengan harapan untuk mendapatkan pelayanan tempat tinggal (hotel) yang baik dan nyaman, makan-minum yang enak dan memenuhi standar jaminan kesehatan, pelayanan hospitality yang baik, akses ke objek wisatanya baik, dan rantai pasok kebutuhan food and bevarage semuanya dari Rote.
Dikatakannya, beras, jagung, ubi, pisang, daging, ikan, telur, dan bahkan para pelayannya harus berasal dari Rote sendiri. Ini semua harus dipersiapkan dengan baik dalam rangka membangun pariwisata kita. Namun, kalau tidak ada beras, jagung, ubi, dan pisang atau masih didatangkan dari Kupang, maka itu tandanya Kadis Pertanian harus diganti. Ikan, udang, cumi, dan teripang tidak ada Kepala Dinas Perikanan harus istirahat. Kalau telur, ayam, daging sapi, babi tidak ada maka Kadis Peternakan pindah ke laut. Kalau jalannya buruk Kadis PUPR ganti. Kalau tariannya jelek, jualan pariwisatanya jelek Kadis Pariwisata diistirahatkan saja. “Kita bikin festival yang hebat dan besar seperti ini kalau makanan minuman tidak ada dan tidak seuai selera wisatawan, maka mereka tidak nyaman dan tidak akan datang kembali, Kita membangun pariwisata harus semua ini terpanuhi, sehingga semua OPD terkait harus bertanggung jawab secara kolaboratif dan bersinergi mendukung pariwisata,” katanya.
Ia optimistis langkah maju yang sudah ditunjukkan Bupati Rote Ndao dan jajarannya melalui pelaksanaan Festival Mulut Seribu ini dipertahankan dan ditingkatkan di tahun-tahun mendatang, maka Festival Mulut Seribu akan menarik banyak wiasatawan dan dengan sendirinya akan meninkatkan pendapatan masyarakat dan PAD.

Dua Fokus Utama
Bupati Rote Ndao Paulina Haning Bullu yang diwawancarai wartawan di ruang kerjanya, Senin 28 Oktober 2019 terkait tantangan yang diberikan Gubernur NTT tersebut mengatakan, sejalan dengan visi-misi dalam RPJMD 2019-2024, pariwisata ditempatkan sebagai leading sektor dan didukung oleh sektor pertanian, peternakan, dan perikanan.
Menurut Paulina, Pemkab Rote Ndao fokus pada dua hal yang menjadi titik berat penanganan bersama seluruh masyarakat, yakni pertama pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) dan infrastruktur, serta hal yang kedua adalah sektor ekonomi kreatif dengan memperbanyak event dan promosi kunjungan wisatawan sebagai daya tarik pariwisata. Dikatakannya, untuk SDM pihaknya akan berupaya step by step memberikan pemahaman pentingnya pariwisata kepada masyarakat.
Ia juga menyampaikan terima akasih kepada Gubernur NTT yang telah mengirim 10 orang anak Ladu Leko ke Kampung Bahasa Inggris di Pare, Kediri. Harapan kami, setelah kembali dari pelatihan di Kediri, mereka bisa menjadi SDM periwisata (guide) yang handal. Selain itu juga Pemkab melalui instansi teknis akan bekerja sama dengan Pemprov NTT untuk meningkatkan kemampuan masyarakat menghadapi perkembangan pariwisata di Rote Ndao.
Sementara untuk infrastruktur, kata Paulina, secara bertahap Pemkab akan memperbaiki infrastruktur untuk menunjang pariwisata. Tahun 2019 sudah dalokasikan untuk pembangunan jalan akses ke lokasi Mulut Seribu sepanjang 1,5 kilometer yang sementara dikerjakan. Ke depan dengan dukungan DPRD akan diprogramkan perbaikan infrastruktur jalan dan infrastruktur penunjang lainnya. “Khusus untuk sektor ekonomi kreatif Pemprov NTT melalui Dinas Pariwisata dan Parekraf telah membantu Rote Ndao dengan pelatihan bagi masyarakat di sejumlah objek wisata. Selain itu kami juga akan memperbanyak event dan promosi seperti pengembangan objek wisata Laut Mati di Landu Leko dan Pantai Oesosole, Kecamatan Rote Timur. Harapannya, dengan sejumlah kegiatan ini dapat membantu untuk mencapai target kunjungan wisatawan di Rote Ndao, yang pada akhirnya dapat meningkatkan taraf hidup ekonomi masyarakat,” katanya. Wakil Bupati Rote Ndao Stefanus Saek menambahkan, hal-hal yang sudah pasti akan terjadi dalam pengembangan pariwisata Rote Ndao, di antaranya menjadi stimulan dalam upaya pemeliharaan monumen-monumen budaya yang dapat dinikmati oleh penduduk setempat dan wisatawan.
Selain itu, kata Saek, pemerintah mendorong upaya melestarikan dan menghidupkan kembali budaya tradisional yang sudah mulai mengalami degradasi baik itu kesenian, kerajinan tangan, tarian, musik, upacara-upacara adat, dan tata cara berpakaian. “Juga dengan pengembangan pariwisata ini kami memberi dorongan kepada masyarakat untuk memperbaiki lingkungan hidup yang bersih dan asri, serta memperluas lapangan kerja, bertambahnya kesempatan berusaha, meningkatkan pendapatan masyarakat,” katanya. Saek juga berharap dukungan seluruh lapisan masyarakat dan DPRD sebagai mitra pemerintah untuk bahu-membahu membangun pariwisata Rote Ndao untuk mewujudkan mimpi besar Rote Ndao menjadi salah satu destinasi wisata unggulan yang menjadi tujuan utama para wisatawan mancanegara dan domestik. ♦ ido

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.