Gubernur akan panggil Wali Kota Kupang terkait sampah

Gubernur akan panggil Wali Kota Kupang terkait sampah

GUBERNUR Nusa Tenggara Timur Viktor B Laiskodat akan memanggil Wali Kota Kupang Jefry Riwu Koreh terkait dengan masalah sampah yang ada di ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur.
“Dalam beberapa hari di sini, saya keliling melihat Labuan Bajo, dan sudah ada perkembangan terkait dengan sampah. Artinya bahwa kebersihan kotanya sudah mulai ditata dengan baik jika dibandingkan dengan Kota Kupang,” katanya kepada wartawan di Kupang, Sabtu 1 Desember 2018
Hal ini disampaikannya berkaitan dengan sampah di Labuan Bajo yang sering dikeluhkan oleh sejumlah wisatawan yang berwisata di daerah itu.
Sebelumnya juga orang nomor satu di NTT itu mengatakan bahwa kota terjorok dan terkotor di NTT adalah di Kota Kupang dan Labuan Bajo.
Labuan Bajo sendiri, kata Viktor, mempunyai laut yang bau sehingga perlu ada perubahan dalam diri setiap masyarakat di kota wisata itu. “Namun, saya lihat masalah sampah sudah ditata dengan baik di kota ini,” ujarnya.
Ia mengatakan bahwa kebersihan sebuah daerah adalah cerminan dari masyarakat di kota tersebut. Pembuangan sampah sembarangan membuat sebuah kota menjadi jelek dan jorok.
Menurut dia. Kota Kupang, sebagai ibu kota provinsi harusnya lebih bersih dan tertata dengan baik, sehingga menjadi cerminan bagi daerah lainnya di NTT.
Gubernur NTT menyebut, setiap kota memiliki ciri khas bersih, terang, dan rapi, namun ciri khas itu tidak terlihat di dua kota tersebut.
Ia berharap agar kedepannya Kota Kupang sebagai ibu kota Provinsi NTT bisa semakin baik dipandang mata.Wali Kota Kupang Jefri Riwu Kore (kiri) menyerahkan cendera mata kepada Tomonori Kimura, Perwakilan Pemerintah Jepang di Indonesia saat berkunjung ke Kupang, Rabu 18 Juli 2018.

Artikel – Kisah Prajurit Oranye di Kota Kupang

“Apa pun risikonya, pekerjaan harus tetap dilaksanakan demi menjaga Kota Kupang agar tetap bersih,” ujar Paulus.

Sisa-sisa air masih tampak meluap dari gorong-gorong yang tersumbat sampah saat musim hujan datang melanda Kota Kupang, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur, seperti yang sedang terjadi saat ini.
Pemandangan seperti itu, menjadi biasa bagi warga Kota Kupang, karena sebagian warga kota masih berperilaku buruk yaitu membuang sampah di sembarang tempat.
Dalam keadaan seperti itu, para penyelam gorong-gorong hadir bagai pahlawan untuk membersihkan parit-parit yang tersumbat sampah agar aliran air lancar meski luapan banjirnya sangat besar sekali pun.
Hari-hari in, Kupang yang dijuluki Kota Kasih itu sedang diguyur hujan, sehingga membuat sejumlah ruas jalan dalam kota, seperti Jalan Timor Raya, Jalan Raya El Tari, Jalan Jenderal Soeharto, dan Jalan HR Koroh tak luput dari genangan banjir bercampur sampah.
Semuanya itu terjadi akibat perilaku buruk warga kota yang membuang sampah di bantaran kali dan di sembarang tempat, sehingga membuat jalan raya penuh dengan genangan air dan sampah yang berserakan saat musim hujan tiba.
Mulai pukul 05.00 pagi, para petugas kebersihan telah turun ke pasar-pasar untuk membersihkan sampah dari sisa jualan oleh para pedagang serta membersihkan gorong-gorong di sekitarnya yang tampak jorok dan menjijikan itu.
Setiap kali turun ke pasar atau tempat-tempat yang masih jorok, para petugas kebersihan mempunyai kebiahaan yaitu selalu mengucapkan “selamat pagi” pada kebersihan dan menyampaikan “selamat tinggal” pada sampah.
“Kebiasaan ini rutin dilakukan di kala hujan mulai turun,” kata Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah pada Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup Kota Kupang Paulus Dian Foenale.

Pada minggu lalu, para petugas kebersihan dari Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup Kota Kupang turun ke sejumlah titik untuk membersihkan sampah dari bekas kiriman banjir.
Salah satu titik lokasi yang menjadi sasaran pembersihan adalah gorong-gorong di dekat Markas Polda Nusa Tenggara Timur di Jalan Jenderal Soeharto serta Gereja Kemah Kesaksian Sikumanah di Jalan HR Koroh.
Senjata mereka adalah sekop dan linggis, sedang masker, sarung tangan, dan sepatu boot adalah alat pelindung bagi mereka agar terhindar dari kuman.
“Dengan kelengkapan apa adanya, mereka terjun ke gorong-gorong dan membersihkannya,” ujar Paulus dan menjelaskan pembersihan dilakukan dengan cara penyedotan air terlebih dahulu dengan menggunakan tangki milik Dinas Kebersihan, kemudian para petugas turun ke dalam selokan untuk mengeruk lumpur dan sampah.
Selain harus bekerja di dalam gorong-gorong yang kotor dan bau tak sedap, petugas juga menghadapi risiko mengalami “musibah” seperti penuturan Paulus atas peristiwa pada suatu subuh pada pekan lalu .
Saat itu ada tiga orang anggota pasukan orange (baju seragam kerja berwarna jingga) sedang membersihkan gorong-gorong di sekitar Markas Polda NTT, tiba-tiba salah satu tanki penampung air yang baru disedot dari gorong-gorong jebol sehingga air menyemprot para petugas.
Suara tanki yang jebol mengagetkan petugas, sehingga dua orang petugas kebersihan berhasil menghindar, tetapi seorang lainnya terkena hantaman air kotor pada tubuhnya.
“Saya hanya bisa mengelus dada saat kedua rekan kami menampakkan diri di permukaan gorong-gorong sambil menghela napas,” kata Paulus dan menambahkan setiap pekerjaan pasti ada resikonya.

Seorang petugas lain akhirnya bisa selamat juga. Kondisi itulah yang tergambar dalam diri petugas kebersihan Kota Kupang.
“Apa pun risikonya, pekerjaan harus tetap dilaksanakan demi menjaga Kota Kupang agar tetap bersih,” ujarnya.
Pada hari itu petugas mengumpulkan hingga lima truk sampah plastik yang dikeruk dari dalam gorong-gorong di sekitar Markas Polda NTT.
Penyedotan dan pengerukan sampah pun terus dilakukan para petugas kebersihan pada sejumlah pasar dalam Kota Kupang, seperti Pasar Oeba, Pasar Kasih Naikoten, Pasar Oebobo, dan Pasar Kuanino.
Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup Kota Kupang memiliki 247 sopir dan awak kebersihan serta 62 penyapu yang siap membersihkan Kota Kupang dari genangan banjir di jalanan serta membersihkan gorong-gorong.

Prajurit oranye

Pasukan Oranye di tengah tumpukan sampah (ANTARA Foto/istimewa)

Berseragam oranye adalah identitas di lapangan bagi para petugas kebersihan dari Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup Kota Kupang. Sehari-harinya mereka keluar-masuk pasar di kota yang merupakan ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk membersihkan pasar dari tumpukan sampah yang ditinggalkan oleh para pedagang.
Saat hujan turun dengan derasnya, berbagai macam sampah dengan aroma tak sedap hanyut terbawa banjir dan masuk ke dalam gorong-gorong yang membuat saluran air buangan itu meluap dan menggenangi jalanan umum.
Yatni, salah seorang penjual di Pasar Kasih Naikoten mengaku di kala hujan tiba, sampah-sampah di pasar akan semakin berserakan ke bahu jalan.

Gorong-gorong menjadi tersumbat dan airnya meluap hingga ke badan jalan. Sampah-sampah dalam pasar akan dibawa air keluar dari pasar. “Jadi, kami yang berjualan dengan beralas tikar ini harus mencari tempat lain,” kata Yatni.
Para petugas bertugas memmbersihan kota secara berkala sesuai jadwal yang ditetapkan, namun dalam cuaca yang buruki pasukan oranye harus setiap saat turun lapangan untuk membersihkan pasar dari noda-noda sampah.
Pada saat warga kota yang lain masih lelap atau baru bangun dari tidur mereka, sekitar pukul 05.00 pagi, para petugas kebersihan dari Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup Kota Kupang telah sibuk mengangkut sampah dari tong-tong sampah yang ditebar di berbagai ruas jalan dalam Kota Kupang.
Meskipun sampah seringkali memancarkan aroma yang tidak sedap, pasukan oranye tetap setia untuk menghadapinya dengan 38 kendaraan operasi yang tertampaksebar ke beberapa lokasi untuk menciptakan lingkungan kota Kupang yang bersih dan asri.
Tugas mulia mereka adalah menjaga agar kota tetap bersih dan membuat warga kota dapat hidup lebih sehat. Aktivitas kerja mereka akan sangat terbantu apa bilawarga kota ikut menjaga kebersihan antara lain dengan tidak membuang sampah secara sembarangan. ♦ antaranews.ntt.com

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.