Gubernur: Wajib tuntaskan Masalah Batas Ngada dan Matim 14 Mei 2019

Gubernur: Wajib tuntaskan Masalah Batas Ngada dan Matim 14 Mei 2019

♦ Keputusan tidak bisa diganggugugat siapapun
♦ Jangan ada provokator baru dari Manggarai Timur maupun Ngada

 

PERSOALAN tapal batas antara Manggarai Timur dan Ngada terkatung-katung sejak 47 tahun lalu. Dari gubernur ke guber, bupati ke bupati tidak juga selsai. Sejak 1973 kasus ini bak masalah misteri. Puncaknya pada 14 Mei 2019 Gubernur NTT Vikcktor Bungtilu Laiskodat mengambil sikap tegas peserta rapat yang tediri dari Gubernur, Bupati Ngada Paulus Soli, juga dihadiri Bupati Manggarai Timur Ande Agas, utusan Mendagri serta tokoh pilihan dari Ngada dan Manggarai Timur berada dalam satu ruangan rapat Gubernur NTT untuk membahas masalah perbatasan ini.
Ini penegasan Gubernur Laiskodat, “Hari ini harus kita putuskan masalah batas antara Ngada dan Manggarai Timur. Semua yang hadir rapat dalam ruangan ini, tidak boleh tinggal ruangan. Pintu akan saya kuci. Bahas masalah ini sampai tuntas dan kita harus bersepakat bersama. Jika masi a lot dan tidak dijadikan putus bersama, maka semua yang hadir terutama bupati Ngada dan Manggarai Timur, para tokoh adat yang hadir harus menanggung dosa. Hari ini saya tegaskan, dan para tokoh segera pulang dan sosialisasikan kepada masyarakat.”
Ditegas Laiskodat, apa yang telah diputuskan, jangan lagi diributkan. ”Saya tegaskan tidak boleh ada provokator baik di Manggarai Timur maupun di Ngada. Kita akan ambil tindakan tegas. Sebarkan surat kesepakatan dan peta yang sudah kita putuskan bersama hari ini. Ini keputusan kita bersama dan jangan pernah ada orang yang mengucapkan itu tokoh ke Kupang itu abal-abal. Yang paling penting, tolong dicatat, pengambilan keputusan ini, tidak akan merugikan orang perorang. Kita harus bangun daerah perbatasan ini agar rakyat tidak sengsara dari tahun ketahun. Waktunya sangat lama 47 tahun. Jadi hari ini final,” janji Vicktor Laiskodat disambut tepuk tangan para hadirin.
Menurut Gubernur, bicara tentang masalah batas di dunia ini tidak akan pernah pas atau beres. “Seperti di Timor Leste. Dapur ada di Timor Leste dan ruang tamu ada di Indonesia. Sama seperti di Kalimantan Utara, dapur di Malaysia dan ruang tamu ada di Indonesia. Saya tidak mau rapat lama-lama. Karena sekarang ini saatnya kita kerja. Kalau rapatnya lama maka kita semua ini orang bodoh. Saya tidak ingin masuk dalam ketegori orang bodoh.”
Dijelaskan, kalau mengurus batas negara itu terkait dengan kedaulatan negara tetapi mengurus batas provinsi dan batas kabupaten yang masih di dalam wilayah NKRI tidak boleh lama-lama. “Hari ini harus tuntas dan saya tidak tertarik dengan konflik. Kita dorong pertumbuhan ekonomi yang hebat di kedua kabupaten ini. Kalau pemahaman seperti ini maka tidak ada masalah,” kata Gubernur sembari berharap agar ada model penyelesaian batas daerah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Kalau batas administrasi jelas, sebut mantan Ketua Fraksi Nasdem DPR RI ini, maka akan ada pelayanan pemerintahan yang terjamin dan program-program pro rakyat akan didorong untuk peningkatan ekonomi kerakyatan. “Ngapain kita ribut? Saya tidak tertarik untuk ribut dan rapat yang lama-lama. Saya mau kerja. Saya tidak mau dituduh sebagai orang bodoh. Saya mau hari ini selesai. Kita mau urus manusia. Karena itu, yang duduk rapat di sini kepalanya harus lurus dan utuh untuk urus manusia,” ujar Gubernur dan menegaskan, ciri khas daerah maju adalah adanya keragaman di daerah tersebut. Usai mendengar penjelasan tim Kemendagri RI, respons Bupati Matim dan Bupati Ngada serta para tokoh adat dan masyarakat dari kedua kabupaten akhirnya dapat disepakati tiga hal. Pertama, sepakat dengan penarikan garis batas pada bagian utara (wilayah Buntal) sampai dengan bagian selatan dengan titik koordinat sebagaimana gambar terlampir.
Kedua, sepakat bahwa garis batas kedua kabupaten sebagaimana gambar terlampir. Dan ketiga, sepakat bahwa batas Kabupaten Matim dengan Ngada diproses lebih lanjut untuk ditetapkan menjadi peraturan Mendagri.
Usai dibacakan nota kesepakatan masing-masing pihak menandatanganinya bersama Bupati Matim, Bupati Ngada, dan Gubernur VBL juga pihak Kemendagri RI. Usai tandatangan dilanjutkan foto bersama. Nampak semua pihak saling berjabat tangan, senyum sumringah dan saling berpelukan dalam spirit NTT Bangkit mewujudkan masyarakat sejahtera dalam bingkai NKRI. ♦ wjr

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.