“Hati Nurani 17 April 2019”

“Hati Nurani 17 April 2019”
INGAT suara rakyat ada suara Tuhan. Itu sebabnya hayati dari hati terdalam dan laksanakan bukan karena dipengaruhi harta duniawi yang hanya sementara di dunia ini. Catatan ini, sekadar ingatkan sesame saudara yang tinggal di kota sampai ke pelosok kampung agar hari penceblosan 17 April 2019 menusuk pada gambar atau foto calon presiden dan caleg yang dikenal karena oranya baik, orang yang suka berbagai kekayaan nuraninya, sedikit berbagi sedikit harta yang dimilikinya berbagai dengan sesame yang kurang mampu yaitu rakyat yang saat ini dalam kondisi prihatin.
Rakyat sebagai pemilih, bukan menusuk pada nomor calon yang pernah memberinya selembar uang kertas pecahan Rp 10.000 atau Rp 20.000.Uang si calon DPR II, DPRD I, DPR RI atau calon DPD (Dewan Perwakilan Daerah) boleh saja diterima, namun ketika di bilik suara, bukala lembaran kertas suara, baca dan lihat dengan cermat lalu tusukla pada gambar orang atau nomor yang dikenal aklaknya baik dan akan bergina bagi masyarakat banyak.
Belajarla dari pengalaman masa lalu. Setiap lima tahun, negeri ini menggelar Pemilu. Lihatla dan cemarla pengalaman pemimpin atau caleg yang kita pilih. Apakah sudah membelas jasa dan kebaikan belas kasih rakyat. Kali ini, pada 17 April 2019, kita memilih Calon Presiden. Ada Jokowi yang bernomor urut 01 dan Prabowo nomor urut 02. Jokowi sudah pernah memimpin lima tahun,sudah kita lihat hasilnya bagi rakyat. Saya membaca pujian sambil ancung jempol kanan Mahatir Muhamad, Perdana Menteri Malaysia yang memuji Jokowi. Prabowo juga orang baik, tetapi tidak pernah menjadi Presiden, sudah dua kali mencalonkan dirinya sebagai Capres, tetapi tidak terpilih. Jadi kita termasuk saya belum tau sepak terjangnya.
Ya, saya sekadar mengimbau agar rakyat memilihlah sesuai hati nurani, bukan berdasarkan hasutan atau kampanye propaganda sekelompok orang yang hanya demi kepentingan diri sesaat. Nurani Anda menentukan masa depan bangsa ini lima tahun ke depan.
Dikutip dari Wikipedia, hati nurani adalah suatu proses kognitif yang menghasilkan perasaan dan pengaitan secara rasional berdasarkan pandangan moral atau sistem nilai seseorang. Hati nurani berbeda dengan emosi atau pikiran yang muncul akibat persepsi indrawi atau refleks secara langsung, seperti misalnya tanggapan sistem saraf simpatis. Dalam bahasa awam, hati nurani sering digambarkan sebagai sesuatu yang berujung pada perasaan menyesal ketika seseorang melakukan suatu tindakan yang bertentangan dengan nilai moral mereka. Nilai moral seorang individu serta ketidaksesuaiannya dengan penafsiran pemikiran moral keluarga, sosial, budaya, maupun sejarah, dipelajari dalam studi relativisme budaya dalam bidang dan praktik psikologi. Sejauh mana peran hati nurani dalam menggerakkan penilaian moral seseorang sebelum bertindak dan apakah penilaian moral tersebut memang atau sebaiknya didasarkan pada akal budi, telah memercik perdebatan yang sengit antara filsafat Barat melawan teori-teori romantisme dan gerakan reaksioner lainnya setelah berakhirnya Abad Pertengahan.
Pandangan keagamaan tentang hati nurani umumnya mengatakan bahwa hati nurani terkait dengan suatu moralitas yang melekat dalam diri semua manusia, melekat dengan sebuah alam semesta yang baik, atau melekat kepada pengada yang bersifat ketuhanan. Berbagai sifat agama, yaitu sifat ritualistis, mitis, doktrinal, institusional, dan material, mungkin tidak selalu sejalan dengan pertimbangan pengalaman, emosional, spiritual, atau kontemplatif mengenai asal mula dan cara kerja hati nurani.[1] Pandangan sekuler atau ilmiah umumnya menyatakan bahwa hati nurani mungkin ditentukan secara genetis, sementara subjek-subjek hati nurani kemungkinan dipelajari atau merupakan hasil imprintingsebagai bagian dari budaya.
Contoh orang yang berbuat dengan hati nurani baik hati yaitu orang Samaria yang dikisahkan dalam kitab suci Nasrani.” Bahwa adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; maka jatuhlah ia ke tangan penyamun, yang merampas pakaiannya serta memukul dia, lalu pergi meninggalkan dia hampir mati. Kebetulan turunlah dengan jalan itu juga seorang imam; apabila dilihatnya dia, maka menyimpanglah ia melintas dia.
Sedemikianpun seorang suku bangsa Lewi, apabila sampai ke tempat itu serta terpandang akan dia, maka menyimpanglah ia melintas dia. Tetapi seorang Samaria, yang sedang berjalan datang ke tempat ia terhantar; apabila terpandang akan dia, maka jatuhlah kasihannya, lalu ia menghampiri dia serta membebatkan lukanya, sambil menuang minyak dan air anggur ke atasnya; setelah itu ia pun menaikkan dia ke atas keledainya sendiri, lalu membawa dia ke rumah tumpangan, serta membela dia. Pada keesokan harinya dikeluarkannya dua dinar, diberikannya kepada tuan rumah tumpangan itu sambil katanya: Belakanlah dia, dan barang apa yang engkau belanjakan lebih daripada itu aku ganti, apabila aku datang kembali.”
Orang Samaria adalah orang yang dimusuhi dan dibenci oleh orang Yahudi. Karena itu, si korban dalam kisah Yesus ini sama sekali tidak mengharapkan pertolongannya, namun dari ketiga orang yang melihatnya, justru orang inilah yang turun tangan dan bersedia menolongnya.
Frase “orang Samaria yang murah hati” menjadi ungkapan sehari-hari bagi seseorang yang bersedia menolong orang lain – bahkan yang tidak dikenal sekalipun. Orang Samaria ini lebih mendengar nuraninya, dari pada omongan orang. ♦

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.