Di Kabupaten Kupang Sudah 60 Desa Yang Miliki BUMDes

Di Kabupaten Kupang Sudah 60 Desa Yang Miliki BUMDes

HINGGA saat ini seluruh desa di Kabupaten Kupang, NTT sudah 60 desa yang memilki Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dari 160 desa di Kabupaten itu.
Hal ini diungkapkan Tenaga Ahli (TA) Pengembangan Ekonomi Desa Kabupaten Kupang, Maria Kornelia Parera kepada Wartawan usai pembukaan Rapat Koordinasi Program Inovasi Desa Tingkat Provinsi NTT Tahun 2019 di Hotel Sasando Kupang, Jumat 5 April 2019. “Untuk penghasilan asli desa baru 60 desa. Memang kita sangat mengharapkan untuk tahun 2019 ini bisa memberikan penguatan intsrumen, penguatan ekonomi dimana desa bisa membangun desanya sendiri berdasarkan PAD yang didapat dari BUMDes itu sendiri,” kata Maria.
Menurut Maria, Usaha BUMDes di Kabupaten Kupang bermacam-bacam. Usaha itu kata dia, berangkat dari potensi desa, masalah di desa dan kebutuhan yang ada di desa. “Nah rata-rata di Kabupaten Kupang itu lebih mengarah kepada kebutuhan desa dan potensi,” ujarnya.
Potensinya itu kata dia, mengangkat potensi untuk bisa mendorong sebuah produk unggulan desa. “Kemudian mengatasi masalah itu seperti masalah air bersih. Contohnya di Desa Tablolong, itukan kesulitan air bersih. Pemerintah desa menyerahkan dalam bentuk sumur bor kemudian Bumdes mengambil alih dengan memberikan jalur perpipaan dengan menjadikan pamdis desa dan hasilnya lumayan sebesar Rp 42.000.000 hasil bersih dan memberikan pendapatan asli desa (PAD) itu sebesar Rp 8. 517.000,” ungkapnya.
Di Kabupaten Kupang BUMDes yang aktif kata dia, semua aktif hanya aktif untuk berusaha sambil memberikan kontribusi untuk PAD baru sekitar 60 desa yang teridentifikasi. “Makanya kita sekarang lagi menggenjot untuk seluruh hasil dari BUMDes itu harus masukan PAD pembagian hasil usahanya itu, harus masuk di dalam pembiayaan Asli Pendapatan Desa (APDES) sehingga kita juga mendorong BUMDes-BUMDes dan pemerintah desa untuk selalu memberikan kontribusi pendapatan terhadap kontribusi penyertaan modal terhadap desa,” tuturnya.
Untuk Kabupaten Kupang lanjut dia, rata-rata penyertaan modalnya bervariasi karena berdasarkan kebutuhan dari BumDes itu sendiri. “Yang paling berkembang dari BUMDes itu ada di Mata Air, Kupang Barat ada di Tablolong, kemudian Amarasi selatan ada Bumdi Desa Nekamese, kemudian di Nekamese ada di Desa Oemasi, di Amarasi Barat itu di Babaun, di Anfoang Barat Laut, di Semau dengan BUMDes Daekbanan Oenetan. Jadi bervariasi, ada yang mengelola sewa menyewa kursi tenda, mengakomodir hasil pertanian, pariwisata ada yang produk-produk unggulan seperti ini,” tandasnya. Hasil BUMDes per bulan juga kata dia, bervariasi karena berdasarkan hasil keuntungan. “Jadi pembagian hasil usaha keuntungan mereka itu dibagi berdasarkan anggaran di rumah tangga dan itu tidak diatur sendiri di dalam desa. Jadi bervariasi berdasarkan hasil usaha mereka,” jelasnya. ♦ VoxNTT.com

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.