Kapan Lagi Hadir Seorang Negarawan?

Kapan Lagi Hadir Seorang Negarawan?

Oleh Djamal Humris

SUKA dan tidak suka kita harus jujur mengatakan bahwa saat ini kita ketiadaan negarawan yang menjadi panutan. Kita memiliki banyak politikus. Tetapi kita defisit negarawan. Sehingga di tengah bangsa sedang mencurahkan segala potensi dan energy untuk mengangkat harkat dan martabatnya, di sisi yg lain ada pejabat negara yang begitu tega mengeruk keuangan negara, baik secara sendirian maupun secara berjamaah.
Lalu pertanyaan yang hadir di benak kita, apa yang salah dengan bangsa ini, sehingga tidak ada lagi yang bisa kita percaya? Setelah direnungkan, ternyata bangsa ini krisis figur-figur yang mempunyai jiwa kenegarawan atau negarawan. Seorang tokoh bangsa, yakni Buya Ahmad Syafii Ma’arif pernah menulis sebuah artikel yang dipublikasi oleh sebuah Majalah, beliau mengatakan bahwa seorang negarawan itu, orang yang bersedia larut dalam membela kepentingan bangsa dan negaranya secara total atau secara keseluruhan.
Fakta membuktikan bahwa karena langkanya negarawan telah menghadirkan berbagai gesekan di tengah masyarakat yang mengikis nilai-nilai persatuan. Kita rindu figur-figur seperti Bung Karno dan Bung Hatta atau figur-figur lain yang punya sikap dan prinsip hidup tidak ingin dijajah oleh bangsa-bangsa lain dalam bentuk apapun. Untuk menemukan lagi negarawan yang memiliki sikap dan prinsip seperti Proklamator (Bung Karno dan Bung Hatta) di antara politisi nasional saat ini masih sulit didapat. Mengingat hampir semua politisi lebih mengutamakan kepentingan politik dari kepentingan bangsa dan negara. Memang harus diakui bahwa seorang politisi belum bisa berperan sebagai negarawan.
Tetapi seorang negarawan bisa menjadi politisi handal yang mampu mengatasi persoalan bangsa karena memiliki kelebihan dalam dirinya. Artinya, seorang negarawan memiliki seperangkat kecerdasan, baik kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional maupun kecerdasan spiritual. Yang ada saat ini politisi yang mudah tergoda dan tidak memiliki sikap yang konsisten dan mampu menjaga integritasnya. Artinya mudah berubah sikap politik dan kerap sangat emosional. Misalnya mudah meninggalkan teman seperjuangan tanpa merasa bersalah atau malu.
Contohnya seperti ketika Pilpres 2019 yang lalu. Ada yang tanpa malu-malu dan terkesan mengemis jabatan dengan menemui lawan politik di Istana berulang kali di saat teman lain masih berjibaku untuk memperjuangkan kemenangan dengan menempuh berbagai jalur hingga MK dan MA setelah merasa dirugikan lawan tanding secara sistematis dengan berlaku curang. Inilah yang disebut krisis negarawan. Lucunya, ada politisi senior begitu mudah tersinggung dan “ngambek” terhadap teman yang tadinya sama-sama dalam satu koalisi. Terkesan seperti kanak-kanak yang ketika bertemu tidak mau lagi tersenyum, apalagi menyapa. Selain yang digambarkan di atas, ada perilaku lain yang tidak terpuji dengan mentolerir kesalahan, bahkan kejahatan secara berjamaah yang merugikan uang negara.
Seperti yang terjadi belum lama ini, ada yang terang-terangan berbuat salah (korupsi), ketika mau diperiksa dihalang-halangi tanpa merasa berdosa. Inilah yang terjadi hari-hari ini di negara yang kita selalu banggakan sebagai negara yang memiliki idiologi paling unggul dan paripurna. Dipastikan mereka yang menjadi bagian dari kelompok yang menghalalkan segala cara dalam mengelola negeri ini tidak akan perduli dengan seruan moral dalam bentuk apapun, termasuk yang sedang kita bahas dalam Diskusi Publik wawasan kebangsaan ini. Bagaimanapun, kita harus tetap optimis bangsa ini tidak akan terpecah selama masih ada yang berpikiran jernih dan berkemauan baik menjaga bangsa ini seperti tokoh-tokoh agama dan akademisi.
Semoga bangsa ini tetap eksis di mata dunia, kendati banyak hal yang mesti kita lakukan bersama. #Salam Persatuan dari Beranda Selatan Kota Pancasila, Ende, NTT. ♦ akunfb djamal humris

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.