Karo Humas: Nusa Tenggara Timur menuju Eko Wisata

Karo Humas: Nusa Tenggara Timur menuju Eko Wisata

KEPALA Biro Humas Dr. Marius Jelamu menegaskan,” Gubernur NTT Bapak Vicktpr Bungtilu Laiskodat sudah mengimbau semua pelaku pariwista Hotel, Biro Pejalanan Umum, Pelaku Pariwisata, para Bupati dan dinas terkait untuk merancang program Eko Wisata atau pariwisata yang berwawasan lingkungan. Pak Gubernur sangat gencar agar pembangunan tujuan wisata di NTT berorientasi lingkungan. Saat ini, dinas terkait sedang memprogramkan.”

Dalam obrolan singkat dengan EXPO NTT belum lama ini di ruangan kerjanya Marius mengharapkan dukungan dari semua pihak agar wko wisata bisa dijalankan. Di NTT menurus Marius, potensi alam sangat mendukung. Objek wisata yang sudah ternama seperti Danau Tiga Warna Kelimutu, Binatang Purba Komodo di Labuan Bajo, sejumlah taman laut yang indah di berbagai tempat mulai dari Labuan Bajo, Pesisir Utara Pantai Flores agar dikembangkan dengan konsep lingkungan.

“Itu sebabnya rencana Gubernur NTT menutup pulau yang ada binatang komodo perlu dibenah sehingga binatang purba itu tidak punah. Salah satu orientasi Gubernur dalam rangka supaya kawasan Komodo akan berwawasan lingkungan. Nanti kita diskusikan bersama dengan Kadis Pariwisata NTT dan kabupaten kota berthema eko wisata ini,” jelas Marius.

Di tegaskan Marius, di Amerika sudah lama kembangkan program pariwisata yang berwawasan lingkungan. Ekowisata atau ekoturisme, kata Marius, merupakan salah satu kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial budaya ekonomi masyarakat lokal serta aspek pembelajaran dan pendidikan.

Ekowisata dimulai ketika dirasakan adanya dampak negatif pada kegiatan pariwisata konvensional. Dampak negatif ini bukan hanya dikemukakan dan dibuktikan oleh para ahli lingkungan tetapi juga para budayawan, tokoh masyarakat dan pelaku bisnis pariwisata itu sendiri. Dampak berupa kerusakan lingkungan, terpengaruhnya budaya lokal secara tidak terkontrol, berkurangnya peran masyarakat setempat dan persaingan bisnis yang mulai mengancam lingkungan, budaya dan ekonomi masyarakat setempat.

Pada mulanya ekowisata dijalankan dengan cara membawa wisatawan ke objek wisata alam yang eksotis dengan cara ramah lingkungan. Proses kunjungan yang sebelumnya memanjakan wisatawan namun memberikan dampak negatif kepada lingkungan mulai dikurangi. NTT, tegas Marius,sangat pas sesuai alam dan lingkungan serta masyarakat lokal.

Seperti pernah diwartakan kompas.com,Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Pemerintah Provinsi NTT akan lebih menfokuskan wisata pada pengembangan pola ekowisata untuk menarik wisatawan dari luar negeri dan dalam negeri. “Pola ini mengacu pada kondisi lingkungan alam di NTT yang strategis,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Pemprov NTT, ketika itu Alexander Sena, di Kupang, Jumat 30 Januari 2015.

“Keindahan alam dan budaya yang kita miliki harus dijaga agar bisa menjadi tempat wisata yang menarik wisatawan,” ujarnya. Menurut dia, alam dan budaya yang dimiliki oleh NTT dapat menjadikan tempat pariwisata NTT sebagai tempat belajar sekaligus wisata. Oleh karena itu, mempertahankan keasliaan alam dan kebudayaan merupakan hal yang harus dilakukan untuk mewujudkan pola ekowisata tersebut. Alexander berpendapat pola tersebut adalah daya jual wisata di NTT, karena saat ini wisatawan dunia mencari tempat wisata yang berbasis wisata sekaligus pembelajaran. “Tren dunia sekarang adalah mengunjungi tempat-tempat ecotourism,” ujarnya. ♦ advetorial kerjasama biro humas setda ntt dengan mingguan expo ntt/wjr

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.