“Kau, Kau dan Kau”

“Kau, Kau dan Kau”

“KAU jangan intervensi pemerintah, kau jangan intervensi urusan kita dan kau jagna intervensi gubernur.” Kalimat sangat singat disampaikan Gubernur Vicktor Bung Tilu Laiskodat kepada salah seorang anggota dewan Novyanto Umbu Pati Lende dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa atau PKB. Anggota dewan yang ikut serta dalam paripurna hari pertama pembukaan sidang dan semua para hadirin kaget. Mengapa harus kaget? Pertama, perstiwa seperti ini, baru terjadi pertama kali dalam sejarah pemerintahan.
Baru pertama kali, seorang gubernur menyampaikan hal penting tanpa permisi terlebih dahulu kepda Ketua DPRD NTT H. Anwar Pua Geno, selaku pemimpin sidang paripurna pembahasan anggaran 2019. Kalimat dengan kata kau kasarkah? Biasa-biasa saja dan tidak ada yang luar biasa dalam sebuah dinamika sebuah persidangan, dalam sebuah forum resmi membahas belanja daerah. Ini rapat rutin yang digelar Pemerintah dan DPRD. Berita menjadi viral atau terseber luas. Menjadi perbincangan serius di kalangan anggota dan masyarakat NTT yang sempat membaca berita ini melalui harian, mingguan terutama media sosial seperti face book. Diperbincangkan sampai kapan. Tidak peril di polemik berkepanjagan. Ini hanya sebuah gaya seorang pemimpin seperti Bapak Gubernur NTT Viktor Bung Timu Laiskodat. Di Negara barat perdebatan dengan kalimat menyinggung perasaan seseorang biasa saja dan lumrah. Yang kaget hanya karena baru pertama dalam sejarah pemerintah di NTT atau mungkin di Indonesia seorang gubernur menegur dengan kalimat yang kurang enak di dengar.
Di Flores, kata kau bukan kata kasar. Orang Flores kerap bulang,” Ae kau ambil sirih pinang dulu ko,e kau ambil dulu dan kau, kau dan kau.” Mari kita samakan persepsi. Dan menurut gaya adat budaya kita orang Flores, Sumba, Timor, alor atau Rote Sabu hal biasa. Dan, ketika gubernur naik mimbar pidato juga telah menyampaikan permohonan maaf dan tidak alergi dengan kritikan.
Ada yang suka tetapi ada yang kurang suka dengan situasi seperti ini. Kita orang NTT mendapat seorang Gubernur yang tegas dan omong apa adanya seperti Viktor Bung Tilu Laiskodat. Gubernur baru menghendaki ada hal baru, jangan seperti gubernur-gubernur sebelumnya. Kita tentu saja sedang menanti dengan janji gubernur yang sudah dijanjikan melalui media.
Antaralain, menghentikan pengiriman Tenaga Kerja Indonesia atau TKI, ada ucapan akan patahkan kaki, orang yang menjual tenaga orang NTT, akan menjadikan NTT sebagai kawasan penghasilan daun kelor atau marungga, akan memanggangkan 2000 anak NTT kelua negeri, dan mendisiplinkan PNS atau saat ini disebut dengan Aparatur Sipil Negara ( ASN).
Kita mesti menanti dengan sabar, janji seorang Viktor, gubernur pertama NTT yang melakukan terobosan baru dengan menegur langsung anggota dewan dalam forum paripurna ini. Saya berpendapat bahwa rakyat NTT, khususnya anggota dewan dan ASN tidak perlu kaget apa lagi takut dengan gaya dan system pemerintahan yang diterapkan Viktor Laiskodat bersama Jos Nae Soi yang rendah hati dan bersahaja ini. Banyak hal yang diharapkan orang NTT dari seorang Viktor Laiskodat dan wakilnya Jos Nae Soi demi kemajuan NTT ke depan sebagai mana tagline gubernur,” Kita Bangkit, Kita Sejahtera.” Secara pribadi sekaligus berprofesi saya sebagai wartawan menyenangkan dan biasa-biasa saja. Gebrakan baru demi kemajuan itu sangat perlu, perlu dilakukan orang seorang pemimpin baru NTT. Kita menanti. ♦

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.