Kejati Tahan Tersangka Korupsi Kredit Macet Bank NTT Rp 149 Miliar

Kejati Tahan Tersangka Korupsi Kredit Macet Bank NTT Rp 149 Miliar

 

BELUM seminggu menjabat Kajati NTT, Dr. Yulianto sudah membuat gebrakan dalam penanganan perkara korupsi. Bagaimana tidak, perkara dugaan korupsi kredit macet dan investasi jangka panjang di kantor Cabang Bank NTT Surabaya tahun 2018 senilai Rp 149 miliar berhasil dikembangkan penyidikannya dan menetapkan 6 tersangka.
Salah satu tersangka bernama Yohanes Ronal Sulaiman telah ditahan, setelah menjalani pemeriksaan selama 6 jam, dari pukul 16.00-20.00, Jumat 19 Juni 2020.Yohanes sebelumnya memenuhi panggilan untuk diperiksa sebagai saksi, kemudian langsung ditetapkan sebagai tersangka.
Usai diperiksa sebagai tersangka, Yohanes menjalani pemeriksaan kesehatan dan oleh dokter dinyatakan sehat dan dapat ditahan. Kajati NTT Yulianto kepada wartawan mengatakan, sesuai estimasi kerugian negara dalam perkara ini mencapai Rp 126 miliar.”Estimasi kerugian negara sementara mencapai Rp 126 miliar dari Rp 149 miliar yang diajukan kredit dan investasi jangka panjang,” jelas Yulianto.Selain Yohanes Sulaiman, lanjut Yulianto, Kejati NTT juga menetapkan 6 orang debitur sebagai tersangka dalam kasus itu diantaranya Stef Sulaiman, Lomelin, Wiliam, Siswanto, Muhamad Ruslan dan Ilham Nurdianto.
Prestasi Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Timur yang berhasil menangkap delapan tersangka kasus dugaan korupsi kredit fiktif Bank NTT Cabang Surabaya senilai Rp 100 miliar patut diberi apresiasi.Dua dari delapan tersangka merupakan Kepala Cabang Bank NTT di Surabaya dan karyawan analis Bank NTT cabang Surabaya.
Penetapan tersangka dilaksanakan pada Kamis 18 Juni 2020 setelah pengusaha yang merupakan debitur pada Bank NTT Cabang Surabaya itu menjalani pemeriksaan sejak siang. Sekira pukul 23.00 Wita, tersangka Yohanes Ronald Sulaiman akhirnya ditahan di Polres Kupang Kabupaten.
Saat akan ditahan, pengusaha itu tidak mau mengenakan rompi pink sebagaimana tahanan Tipikor di Kejaksaan. Namun, ia langsung di borgol sebelum meninggalkan ruang Ruang Koordinator Bidang Pidana Khusus menuju mobil tahanan yang membawanya ke Polres Kupang Kabupaten. Kejati NTT Dr. Yulianto dalam keterangan pers kepada wartawan menyebut, dari proses penyidikan terhadap dugaan tindak pidana korupsi di Bank NTT Cabang Surabaya itu, diketahui total Rp 149 miliar dikucurkan terhadap tujuh debitur. Dari keseluruhan angka tersebut, kredit macet mencapai Rp 126 miliar.
Seperti wartakan Harian Pos Kupang,Victorynews, penatimor.com dan voxntt.com, Dr. Yulianto menegaskan, sebenarnya pihak Kejati NTT telah melakukan panggilan kedua terhadap tujuh debitur tersebut namun, diakuinya, hanya Yohanes Ronald Sulaiman yang memenuhi panggilan tersebut sehingga langsung menjalani pemeriksaan dan ditetapkan tersangka.
Tersangka Yohanes Ronald Sulaiman, kata Kajati, telah mengajukan kredit modal kerja Rp 44 miliar dan kredit investasi jangka panjang Rp 5 miliar lebih. “Hari ini kita langsung tetapkan tersangka dan kita tahan,” ujar Kajati Dr. Yulianto. Terhadap enam debitur lain yang tidak mengindahkan panggilan kedua Kejati NTT pada hari ini, pihak Kejati NTT juga langsung menetapkan mereka sebagai tersangka. Bahkan, pihak Kejati NTT telah mengeluarkan surat pencekalan kepada mereka. Keenam debitur tersebut terdiri dari Stefanus Sulaiman, Lu Mei Lee, Wiliam Kondarata, Siswanto Kondarata, Mohamad Ruslan dan Ilham Nurdianto. Terkait tindak pidana korupsi dengan estimasi kerugian tersebut, Kejati Dr Yulianto menegaskan, titik tumpu penanganan perkara pada bagaimana memulihkan keuangan kerugian negara yang timbul dari kasus itu. Hingga hari ini, ungkap Kajari Dr Yumianto, pihak Kejati NTT telah mendapat izin penyitaan 26 bidang tanah tersebar di beberapa kabupaten di NTT. Untuk lahan di Kabupaten Kupang, dikatakannya, telah dilakukan penyitaan terhadap bidang tanah seluas 44 ha.
Pihak Kejati juga menginventaris dan mengajukan permohonan izin penyitaan 12 bidang tanah di Provinsi Jawa Timur, 2 bidang tanah di Jakarta, 4 bidang tanah di Jawa Barat, 1 bidang tanah di Banten. Selain itu juga dilakukan penyitaan terhadap uang sebesar Rp 90 miliar. “Kami akan kejar terus sampai pemulihan kerugian keuangan negara yang dialami oleh Bank NTT sebesar 126 miliar diupayakan untuk dikembalikan. Bagi kami, Bank NTT harus sehat kembali,” ujarnya.
Kajati Dr. Yulianto juga menegaskan, arah kebijakan penindakan kasus korupsi di Kejati NTT bukan penekanannya pada jumlah perkara tetapi bagaimana kerugian keuangan negara dipulihkan. Selain itu, setelah penindakan, dengan Datun juga akan diupayakan untuk memperbaiki sistem di bank NTT sehingga dapat memulihkan kepercayaan terhadap Bank NTT. Seperti diwartakan sebelumnya, Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Kupang menahan empat tersangka kasus dugaan korupsi kredit fiktif pada Kantor Cabang Utama (KCU) Bank NTT Tahun 2018 senilai Rp 5 miliar.
Keempat tersangka yang ditahan Kejari yakni Mantan Kepala KCU Bank NTT Bone Ola Masan, Tri Johanes, Johan Nggebu dan Yohana M. Bailao. Tiga tersangka laki-laki ditahan di Rutan Kelas IIB Kupang. Sedangkan Yohana Bailao ditahan di Lapas Wanita Kupang.
Kajari Kota Kupang Max Oder Sombu melalui Kasi Intel Januarius Boli Tobi menegaskan, keempat tersangka ditahan karena diduga kuat terlibat dalam kasus dugaan korupsi kredit fiktif pada KCU Bank NTT Tahun 2018 senilai Rp 5 miliar.
Sebelum dilakukan penahanan oleh Kejari Kota Kupang, demikian Januarius, para tersangka terlebih dahulu diperiksa sebagai tersangka sejak pukul 10.00 Wita hingga pukul 16.00 Wita. Mereka diperiksa oleh tim penyidik Tipidsus Kejari Kota Kupang. Ia menjelaskan, dalam kasus dugaan korupsi kredit fiktif pada KCU Bank NTT negara mengalami kerugian mencapai Rp 4.136.165.672,66. Menurut Januarius, dua tersangka lain, Linda Liudianto dan Hadmen Puri tidak ditahan karena saat ini sedang menjalani masa tahanan dalam perkara korupsi lainnya.
Tersangka lain, Tri Johanes oknum pegawai Bank NTT. Ia juga berada dalam pusaran kasus dugaan korupsi kredit fiktif pada Kantor Cabang Utama (KCU) Bank NTT. Johanes terpaksa ditangkap oleh Kejari Kota Kupang, Kamis (06/02), karena tidak memenuhi panggilan tim penyidik Tindak Pidana Khusus (Tipidsus) untuk diperiksa sebagai tersangka.
Januarius Boli Tobi, Kamis sore membenarkan adanya penangkapan terhadap tersangka Johanes. “Iya benar. Salah satu tersangka Tri Johanes terpaksa ditangkap berdasarkan surat perintah penangkapan (Sprinkap) yang dikeluarkan oleh Kajari Kota Kupang,” ujar Januarius.
Tersangka ditangkap, kata dia, karena tidak memenuhi panggilan tim penyidik Tipidsus Kejari Kota Kupang untuk diperiksa sebagai tersangka. “Hingga waktu yang ditentukan tersangka tidak mampu menunjukan surat keterangan dari medis yang menyatakan bahwa sakit. Dengan alasan tersebut, tim penyidik Tipidsus Kejari Kota Kupang melakukan pemeriksaan kesehatan oleh dokter Tiara Sarambu. Berdasarkan hasil pemeriksaan, ternyata tersangka dinyatakan sehat dan layak untuk dilakukan penahanan,” ujar dia. ‚ô¶¬†berbagai sumber

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.