Ketika kita beragama tapi tak menaruh iman di dalamnya

Ketika kita beragama tapi tak menaruh iman di dalamnya

“Lihatlah Anak domba Allah!” (Yohanes 1:36)

 

Misa belum lama usai ketika sekonyong-konyong sebuah keributan terjadi di areal parkir yang ada di pinggir gedung Gereja.
Seorang pria seumuran mahasiswa bermata merah menyala menyerang pria yang lainnya. Helm yang harusnya dipakai untuk melindungi kepala digunakan untuk memukul kepala lawannya. Sementara itu, dua perempuan yang sepertinya adalah pacar mereka hanya mampu berteriak-teriak entah karena takut sang pacar terluka atau karena menyesal berpacaran dengan manusia-manusia yang temperamental.
Usut punya usut ternyata sebabnya sederhana, saudara-saudara! Dua motor yang dikendarai dua pria itu parkir saling membelakangi. Ketika seorang mundur, seorang lain juga sedang mundur, slebor kedua motor bertabrakan. Tak kencang memang tapi cukup membuat kencang emosi mereka.
Apa pantas mereka berlaku seperti itu padahal misa baru saja digelar?
Dalam perayaan, seperti halnya aku, kuyakin mereka juga ikut mengangkat wajah dan tangan menyembah saat Pastor berseru, “Inilah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia, berbahagialah kita yang diundang ke perjamuanNya!” Kenapa seruan itu seolah tak berguna dan tak membuat mereka mengubah perangai-perangai buruk itu?
Ketika kita mendengar atau melihat imam berseru “Inilah Anak Domba Allah…” yang harus kita lakukan adalah sama seperti yang dilakukan kedua murid Yohanes Pembaptis yang diceritakan dalam Kabar Baik hari ini.
Waktu itu Yesus lewat di muka Yohanes Pembaptis dan iapun berseru, “Lihatlah Anak Domba Allah!” Kedua murid itu (Andreas dan kemungkinan salah satunya adalah Yohanes Rasul, penulis Kabar Baik hari ini) lantas mengikutiNya.
Kata ‘mengikuti’ diartikan sebenar-benarnya. Mereka mengikuti Yesus, menaati aturannya, menjalani hidup sesuai dengan apa yang dikehendaki Yesus bahkan hingga Yesus dibunuh, hingga Yesus naik ke surga, hingga mereka sendiri akhirnya juga mati.
Seruan “Lihatlah Anak Domba Allah” bukanlah seruan ceremonial saja, bukan pemanis liturgi. Seruan itu adalah penyemangat jiwa kita untuk mengikutiNya.
Seperti halnya dua murid itu, kita telah menemukan Mesias di dalam hidup. Tapi apalah gunanya ‘penemuan’ itu kalau mengendalikan emosi yang tiba-tiba meletup hanya gara-gara slebor saling beradu saja tidak bisa?
Apalah gunanya dandan rapi-rapi, mengajak pacar untuk beribadah dan beragama kalau imanmu tidak berada di sana?. ♦ dv.fyi

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.