Kisah Miris Maria Ursula adal Maumere Idap Tumor Lidah hingga Tak Bisa Mengunyah

Kisah Miris Maria Ursula adal Maumere Idap Tumor Lidah hingga Tak Bisa Mengunyah

SEORANG ibu rumah tangga, Maria Ursula (46), warga RT 13, RW 006, Kampung Baosak, Dusun Kloangaur, Desa Heopuat, Kabupaten Sikka, sudah lebih dari 8 bulan lamanya hanya bisa terbaring di rumahnya karena menderita penyakit tumor lidah.
Akibat sakit tumor lidah yang dideritanya, sehari-harinya Mama Maria Ursula hanya mengkonsumsi bubur bayi yang dicampur susu sebagai pengganti nasi. Lidahnya yang sudah membengkak dan rusak, tidak mampu menguyah makanan yang keras. “Setiap hari Mama Ursula hanya terbaring tidur. Mau kerja juga lemas dan kepala pusing. Kalau makan hanya bubur bayi SUN dicampur segelas susu. Tidak bisa kunyah, jadi kami hanya kasih bubur bayi itu saja sejak bulan April lalu,” ungkap Tomianus Moa Buluk, adik kandung Mama Ursula.
Sabtu 23 November 2019 sore, florespedia menemui Mama Maria Ursula di rumah kecilnya di Kampung Baosak, Desa Heopuat, Kecamatan Hewokloang.
Kepada kami, Toamianus Moa Buluk menuturkan akibat sakit yang dideritanya, berat badan Mama Maria Ursula turun drastis. Tampak kurus seperti penderita busung lapar. Tulang tangan dan tulang pipi pun terlihat jelas. Sebelum sakit, berat badan Mama Maria Ursula mencapai 60 kilogram (kg), sekarang turun drastis kurang lebih 20 kg. Mama Maria Ursula sudah lebih dari 8 bulan lamanya terbaring karena sakit. Tidak mampu beraktivitas lebih. Padahal, sebelum menderita sakit, Mama Maria Ursula adalah seorang pedagang di Pasar Alok Maumere. Karena sakit yang diderita, sejak Desember 2018, Mama Ursula sudah berhenti berjualan sirih pinang dan hanya terbaring tidur di rumah. Lanjut Tomianus Moa Buluk, pihaknya mengetahui Mama Maria Ursula menderita sakit tumor lidah saat pada September 2019. Tanggal 21-26 September ia menjalani rawat inap di RS Kewapante. Saat itu barulah didiagnosa oleh dokter bahwa Mama Maria Ursula menderita penyakit tumor lidah.

Setiap harinya Mama Maria Ursula mengkonsumsi bubur bayi untuk asupan makanan.

Tomianus Moa Buluk mengisahkan sesuai rekam medis, riwayat penyakit Mama Maria Ursula awalnya hanya berupa luka bintik di lidah. Lalu bertambah besar lebih dari 1 sentimeter sehingga lidah menjadi hancur dan terbelah. Hasil diagnosa dokter menunjukkan kalau ia menderita tumor lidah. “Pertama kali dengar sakit tumor lidah. Kami keluarga kaget tidak percaya. Karena pikirnya hanya sariawan biasa dan bisa sembuh. Kami sebelumnya hanya obat di dukun saja dengan ramuan tradisional,” ungkap Tomianus Moa Buluk. Ia menjelaskan, saat perawatan medis, Mama Maria Ursula juga mengalami muntah darah sehingga perlu transfusi golongan darah A sebanyak 3 kantong. Setelah 6 hari dirawat, ia pun pulang. Dokter menyarankan untuk menjalani kemoterapi di rumah sakit di luar Kabupaten Sikka, tetapi karena terkendala biaya, saran dokter ini tidak mampu kami sanggupi. Terkait stadium tumor yang diidap Mama Maria Ursula, kata Tomianus Moa Buluk, tidak diketahuinya. Lanjutnya, sebagai seorang ibu rumah tangga dengan lima anak dan ditinggal pergi sang suami yang memilih hidup dengan perempuan lain, Mama Ursula praktis tidak memiliki pendapatan. Sehingga hanya berharap dari penghasilannya sebagai seorang guru honorer di SMP Hewerbura Watublapi. Mereka juga membuka sebuah kios kecil di halaman rumah tetapi lebih sering tutup karena modal usaha dipakai untuk biaya berobat dan biaya hidup sehari-hari. “Kalau terima gaji, saya langsung sisihkan beli bubur SUN dan susu Entrasol. Karena Kaka Ursula tidak bisa makan nasi. Dalam sebulan saya 4 kali beli bubur SUN dan susu,” ungkap Toamianus Moa Buluk. Di tengah keterbatasan dengan sakit langkah yang diderita ini, Tomianus Moa Buluk berharap ada pihak yang peduli sehingga bisa membantu pengobatan Mama Ursula yang mesti melakukan kemoterapi. Jika terus dibiarkan, maka tidak menutup kemungkinan bertambah parah menjadi kanker lidah.
Sementara itu, Erista Vivianti (20) anak sulung Mama Maria Ursula mengatakan setiap harinya ia merawat sang mama karena hanya bisa terbaring tidur. Untuk makan sang mama, ia menyiapkan bubur SUN, menyeduh dengan air panas dan menyuapi makan. “Setiap kali makan, mama saya hanya sanggup minum 1 gelas bubur SUN. Kami tidak kasih makanan lain karena lidahnya sakit sekali. Tidak bisa kunyah makanan,” ungkap Erista Vivianti. Ia menjelaskan, dengan hanya terbaring sakit, untuk buang air kecil dan besar pun harus dibantu oleh dirinya. Sehingga setiap harinya, Erista hanya di rumah. “Saya sudah tamat SMK. Tetapi karena mama sakit dan tidak ada biaya, saya pendam impian untuk kuliah. Sekarang saya rawat mama dulu. Semoga Tuhan kasih sembuh saya punya mama,” ungkap Erista Vivianti. ‚ô¶¬†kumparan.com/mario wp sina

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.