Kisah Perawat Charolin di Pulau Palue, Nikmatnya Mabuk Laut hingga Naik Turun Gunung

Kisah Perawat Charolin di Pulau Palue, Nikmatnya Mabuk Laut hingga Naik Turun Gunung

MENGABDI selama kurang lebih lima tahun di Pulau Palue punya kesan tersendiri bagi Maria Mahendra Charolin. Dara 28 tahun ini adalah seorang perawat PTT Provinsi NTT yang sejak lulus dari Poltekes Kupang langsung mengabdikan diri bagi warga masyarakat Palue, Kabupaten Sikka. “Saya percaya bahwa sebagai perawat yang bertugas di pulau yang jauh dari hiruk-pikuk kota tugas ini sungguh mulia. Kadang-kadang saya merasa jauh sekali dari keluarga apalagi sejak tahun 2015. Saya bekerja di sini jadi segala suka-duka saya alami,” ujar Charoline. Satu hal yang jadi tantangan tersendiri adalah medan yang berat. Selama empat tahun bertugas di Puskesmas Tuanggeo, Charoline mengakui kalau tidak jalan kaki berarti harus melintasi lautan lagi agar dapat masuk ke pemukiman warga. “Mau tidak mau harus dijalani. Naik turun gunung, kaki sakit. Kalau lewat laut, saya mabuk laut. Ya, saya nikmati saja,” imbuhnya.
Selain medan dengan topografi yang sulit, kendala lainnya adalah sarana penerangan berupa listrik dan sinyal komunikasi. Charoline mengemukakan bahwa mabuk laut sampai naik turun gunung, listrik dan sinyal hp yang susah adalah sesuatu yang tak bisa ia hindari selama mengabdikan diri sebagai seorang perawat di Palue. “Sinyal hp itu selalu hilang muncul jadi ya hadapi saja dengan lapang dada kalau ada hal-hal yang mendesak saya harus lekas bergerak mencari daerah yang ada sinyal supaya bisa saling kontak dengan sesama kawan perawat atau pihak RSUD Maumere untuk urusan rujuk pasien misalnya,” ujar Maria dengan tertawa.
Empat tahun bertugas di Puskesmas Tuanggeo di pegunungan Palue sama sekali tanpa kendaraan bermotor. Ke Puskesmas atau ke pemukiman warga ditempuh dengan jalan kaki setiap hari. Kalau menggunakan sepeda motor hanya melewati daerah-daerah tertentu saja. Bulan Juli 2019, Charolin berpindah tugas di Puskesmas Palue. Wilayah kerja ini masih juga di Pulau Palue. Kini di Puskesmas Palue jangkauan wilayah kerjanya empat desa yakni Maluriwu, Reruwairere, Kesokoja, dan Lidi.
Di wilayah kerja Puskesmas ini, desa yang lumanyan sulit dijangkau adalah di wilayah Puskesmas Pembantu (Pustu) Lidi. Pustu Lidi berada di pegunungan dan ujung timur Palu. Di Pustu ini Charoline wajib melaksanakan imunisasi rutin dua kali sebulan. Untuk mencapai Pustu Lidi bisa dilalui lewat laut maupun darat. “Kalau berjalan kaki menyusuri tebing dengan bebatuan dan di bawahnya air laut. Kalau air laut pasang berarti harus kembali walau sudah setengah perjalanan,” katanya.
Medan sulit dan gelombang laut tidak menjadikan gadis yang murah senyum ini putus asa. Kalau ke Pustu Lidi, menurutnya ada kegembiraan tersendiri. Jika menggunakan perahu motor kecil itu sungguh menguji nyali. Merasakan gelombang yang besar, kaki yang basah menyentuh air laut.
Dan juga tambahnya lagi ketika berjalan kaki menyusuri tebing suasananya seperti piknik. Profesi perawat menurut Charolin profesi yang sangat mulia. Hanya satu kata dalam tugas yakni “siap”. Cuaca baik atau buruk, siang atau malam jika pasien dalam kondisi tertentu dan membutuhkan pertolongan harus siap untuk rujuk ke RSUD lewat Mausambi atau ke Maumere. “Pengalaman pernah lewati gelombang tinggi sampai air laut masuk bodi motor”. Mabuk laut dan naik turun gunung lewati medan berat adalah konsekuensi pengabdian yang sampai saat ini dijalankannya dengan sungguh. ♦ ekorantt.com

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.