“Kita Harus Bersatu Membasmi Tindak Plagiat”

"Kita Harus Bersatu Membasmi Tindak Plagiat"

♦ Bunda Mezra Pellondou

 

KABUT di Lelenbala dan Teriakan dari Tanah Hawu Mehara merupakan Kumpulan Cerpen Siswa SMA Negeri 1 Kupang Hasil Pembelajaran Bersama Mezra E.Pellondou. Buku ini diterbitkan tahun 2012 oleh Carang Book Yogyakarta, setahun setelah para penulisnya melewati proses pembimbingan yang penuh suka duka bersama saya. Mereka terseleksi cukup ketat, selama satu tahun. Dari ratusan siswa di enam Kelas Menulis (masing-masing kelas 35 siswa) terpilih 12 terbaik untuk dibukukan. Para siswa yang mengikuti pembimbingan namun belum terpilih juga menyatakan rasa bangga dan sportifitasnya pada 12 orang siswa ini, dan mereka ikut bersatu mengusahakan dana untuk penerbitannya.
Walau akhirnya buku ini harus terbit dengan biayaku sendiri, namun tak ada kebanggaan yang lebih besar dari merasakan dan menikmati proses kerja kreatif juga kerja keras saya bersama siswa-siswa saya di Kelas Menulis SMA Negeri 1 Kupang. Semua kisah perjuanganku bersama siswa-siswaku ini kukisahkan pada pengantar buku ini.
Duabelas orang siswa saya yang menulis di buku ini sekarang sudah berstatus mantan siswa/alumni, namun untuk karya yang mereka hasilkan tidak ada istilah mantan karya. Kau harus tahu itu,hai perampok. Semua karya cerpen dalam buku ini tetap hasil karya mereka, jangan pernah dirampok ya.
Rata-rata 12 siswa ini, mereka menjadi orang yang sukses. Selepas SMA mereka kuliah di kampus dan tempat yang berbeda. Bahkan jalan Literasi telah membentuk mereka menjadi pribadi yang luar biasa. Rata-rata mereka lulus cumlaude dari kampus mereka kuliah,bahkan beberapanya lulusan terbaik dari kampus-kampus ternama semisal UGM dan ITB. Ada yang sudah bekerja, ada yang mendapatkan beasiswa melanjutkan studi ke luar negeri, ada juga yang lolos pertukaran dan sekarang mereka berada di Belanda, dan dua orang dari mereka kini sedang berada di Jepang. Ada yang jadi Duta Bahasa dan duta-duta lainnya. Ada pun dua belas orang siswa binaan saya di Kelas Menulis yang karyanya ada dalam dalam buku ini yaitu: Anggelina Panggabean, Arindah Djawa Rambadeta, Cantika Paramitha Retno Juwita Pello, Desy Elimanafe, Gabriela Nogo Retaningtyas Bunga Naen, Gallant Bradley Ratu Edo, Ida Sarlince Otemusu, Kezya Wabang, Martha Y. Sooai, Metryana Lasi, Thomas N.S Benmetan, Zulfatun Mahmuda.
Sudah lama memang kisahku dengan anak-anakku ini. Namun maraknya pemberitaan tentang Budi Setiawan yang melakukan tindak plagiat pada karya Agus C. Noor, serta tindakan-tindakan plagiat lainnya yang selalu terjadi di Indonesia, membuat saya memikirkan kembali nasib buku ini.
Beberapa bulan lalu, (awal tahun tepatnya sebelum wabah Covid19) orangtua dari salah seorang mantan siswa saya yang menulis di buku ini bertemu dengan saya secara kebetulan di mall Lippo Plaza. Kebetulan anaknya sekarang sedang berada di Jepang,dan judul Cerpen karya anaknya saya pakai sebagai judul buku yaitu Kabut di Lelenbala.
Salah satu “kejutan”yang disampaikan orangtua itu pada saya saat kita bertemu itu adalah, ” Bu cerpen anak saya dalam buku Kabut di Lelenbala dan Teriakan dari Tanah Hawu Mehara, telah diplagiat orang di medsos. Sungguh terlalu,orang itu cuma mengganti nama anak saya dengan namanya. Cerpen itu tetap utuh karya anak saya”
Sungguh sedih dan terpukul dengan informasi itu.Aku tak tahu harus bagaimana.
Hatiku sangat marah pada sang perampok itu.
Sungguh sangat sedih jika mengingat betapa berlikunya proses kreatif yang mereka jalani bersama saya. Namun hanya dalam sepersekian detik, cerpen yang telah mereka tulis delapan tahun lalu yang merupakan karya orisinal mereka dirampok jadi milik perampok.
Sayangnya,pembicaraan saya dengan orangtua mantan siswa saya itu belum sempat dilanjutkan karena setelah itu sang ibu tersebut mengunjungi salah seorang anaknya di Austria, dan pendemi Covid 19 mencengkram dunia. Semua orang sibuk dengan wabah ini. Kita belum berkontak. Kalau pun berkontak lantaran saya menikmati karya-karya sang ibu ini, menulis kisah-kisah Lockdownnya selama di Austria yang menurut saya layak dibukukan. Jadi saya lebih banyak menikmati tulisan ibu itu dengan rasa kagum dan memberi like,tanpa menyinggung sedikit pun soal lain. Kami belum membicarakan lagi soal plagiat itu.
Bagi rekan-rekan yang menemukan buku ini diplagiat orang, mohon bantuannya untuk diinformasikan dalam group ini ya. Atau diposting di medsos. Bisa dibayangkan, karya siswa saja bisa diplagiat orang?
Malu sama anak-anak….
Semoga tulisan saya ini dibaca orang, termasuk dibaca oleh mantan 12 orang siswa saya yang merupakan penulis dalam buku ini.
Namun besar harapan saya, tulisan ini dibaca oleh orang yang telah memplagiat karya siswa-siswa saya.
Bertobatlah..hai perampok… sekarang ambil pena mu dan mulai menulis, nikmati rasa sakit dan rasa sukacita saat kau menulis.
Jangan cuma merampok,sebab hanya satu yang dimiliki perampok yaitu rasa bersalah yang membunuh jiwamu perlahan-lahan seberapa banyakpun kau meminta maaf. ♦ akun fb mezra pellondou

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.