Konsep ‘Dapur Kita’ dari Detusoko Barat Jadi ‘Role Model’ Pengelolaan Bumdes

Konsep 'Dapur Kita' dari Detusoko Barat Jadi 'Role Model' Pengelolaan Bumdes

 

KONSEP ‘Dapur Kita’ yang dikembangkan Bumdes Au Wula di Desa Detusoko Barat, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende jadi role model pengelolaan Bumdes-Bumdes lain di level nasional.
Kepala Desa Detusoko Barat, Ferdinandus Watu dihubungi Ekora NTT belum lama ini mengatakan, konsep ‘Dapur Kita’ juga mendapatkan dukungan penuh dari Kementerian Desa, melalui Dirjen Kemendes.
Program ‘Dapur Kita’ itu sendiri muncul karena dilatarbelakangi situasi sulit di tengah pandemi Covid-19.
“Saat pandemi semua aktivitas lumpuh. Sementara petani memasuki musim panen. Para petani kesulitan memasarkan produk mereka, tidak mau jual ke mana, karena pasar ditutup. Kita akhirnya mencari solusi untuk menjualnya secara online,” ujar Kades Nando.
Semula, kata Nando, mereka menjual produk petani lewat facebook dan bekerja sama dengan tim relawan Covid-19 Keuskupan Agung Ende dengan menyiapkan template sebagai market place produk petani.
“Hal ini ditanggapi positif oleh Kementerian Desa. Akhirnya dalam perjalanan sebulan itu kita mendapat dukungan dari Kementerian Desa berupa template dapurkita.bumdesmart.id, satu market place lokal seperti shopee, lazada, berbasis online. Tapi konsepnya kita bisa menjual sayur-sayuran berbasis WhatsApp store,” terang Nando.
Setiap pelanggan yang akan membeli, sebut Nando, akan terhubung melalui nomor WhatsApp pengelola Bumdes Au Wula. Untuk sementara ini, pasarnya dibuka dua kali seminggu yakni pada hari Rabu dan Sabtu.
“Dan marketnya itu selain di Ende juga di Maumere. Artinya yang menjadi tempat sasaran jualan sayur-sayuran ini,” ujarnya.
Ada berbagai macam jeni sayuran yang dijual seperti brokoli, wortel, sayur kol dan taman hortikultura lainnya. Harga per paket bervariasi, mulai dari Rp50.000 hingga Rp100.000.
“Ada yang dijual per paket. Ada juga yang dijual per item seperti brokoli atau kol saja. Sejauh ada 40 paket produk yang dijual,” kata Nando.
Demi mendukung program Dapur Kita, Bumdes Au Wula bekerja sama dengan 60-an petani dari delapan desa di tiga kecamatan di Kabupaten Ende. Setiap desa berkolaborasi dan saling melengkapi setiap permintaan pelanggan.
“Untuk memperlancar, kita memberdayakan teman-teman ojek. Sayur dari petani lalu diantar oleh mereka. Ya, untuk peningkatan ekonomi mereka. Itu ada 15 orang yang kita pakai untuk antar sampai ke tangan pelanggan,” jelasnya.
Nando pun berharap bahwa Dapur Kita mampu mendekatkan petani di desa dengan pelanggan di perkotaan. Petani bisa menyiapkan sayuran yang sehat untuk saudara-saudara di wilayah perkotaan. ♦ ekorantt.com

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.