Lebu Raya atau Kristo Blasin?

Lebu Raya atau Kristo Blasin?

♦ PDIP Tetap Punya Paket Dalam Pilgub NTT

 

SENIN 13 November 2017, Frans Lebu Raya selaku Ketua DPD PDIP NTT jam 06.00 pagi bergegas ke Bandara El Tari Kupang. Ada tamu penting yang bertamu ke Kupang-NTT. Orang penting di Indonesia yang dijemput ialah Setya Novanto. Ketua DPR RI yang pada hari yang sama seharus memenuhi panggilan KPK terkait kasus hukum korupsi e-KTP. Selain mesra sambil senyum ria, Frans Lebu Raya mengalungi selendang tenun NTT ke bahu kanan Setya Novanto.
Pembicaraan serius dilanjutkan ke ruang tunggu. Frans Lebu Raya tidak menjelaskan isi pertemuan serius itu. Kepada EXPO NTT, di ruang kerjanya Senin, 13 November 2017 siang, Frans Lebu Raya enggan menjelaskan isi pertemuannya dengan Setya Novanto di Bandara El Tari. Saat pertemuan pun tamu lainnya menjauh.
Ketika ditanya, paket Cagub dari PDIP Frans Lebu Raya menjawab singkat, ya belum. Tetapi ada dua cagub yang akan keluar dari PDIP, Adinda Lebu Raya atau Kristo Blasin. Ya kemungkinan kedua sosok ini. Jadi tunggu sedikit. Pasti paket PDIP ada.” Sudah diwartakan media sosial, Adinda Lucia Lebu Raya dipridiksi akan berpasangan dengan Paul Mela, Bupati TTS aktif. Selain warta tertulis, juga dipampang foto Adinda berdampingan dengan Paul Mela.
Diberitakan antarantt.com, Frans Lebu Raya menyatakan optimistis bahwa partai yang dipimpinnya tetap akan mengusung salah satu pasangan calon dalam ajang pemilu Gubernur-Wakil Gubernur NTT pada 2018.
Ketua DPD PDI Perjuangan Nusa Tenggara Timur Frans Lebu Raya menyatakan optimistis bahwa partai yang dipimpinnya tetap akan mengusung salah satu pasangan calon dalam ajang pemilu Gubernur-Wakil Gubernur NTT pada 2018.
“Semuanya masih berproses. Pada saatnya nanti DPP PDIP akan mengumumkan paket calon yang akan diusung partai koalisi dalam ajang Pilgub NTT 2018. Semua akan indah pada waktunya,” kata Frans Lebu Raya yang juga Gubernur NTT dua periode itu kepada Antara di Kupang, Senin,
Dia mengemukakan hal itu berkaitan dengan kekhawatiran sejumlah kalangan bahwa PDI Perjuangan yang sudah berkuasa sepuluh tahun di NTT itu, bisa gagal mengusung paket calon karena kesulitan mencari mitra koalisi hingga saat ini.
Posisi PDI Perjuangan sampai saat ini dilukiskan bagai “telur di ujung tanduk” dalam menghadapi Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur NTT tahun depan. Sampai sejauh ini partai tersebut belum menentukan langkah koalisi serta siapa yang bakal dijagokan menjadi bakal calon gubernur periode 2018-2023.
Padahal, hampir semua partai politik yang memiliki kursi di parlemen sudah saling berkoalisi untuk mengusung pasangan calon.
Pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Kupang Dr Ahmad Atang berpendapat PDI Perjuangan bisa gagal mengusung pasangan calon karena hingga saat ini belum jelas menentukan siapa figur yang dijagokan dan arah koalisinya. “Dengan dibangunnya koalisi antara Partai Demokrat-Hanura untuk mengusung Benny Kabur Harman-Benny Litelnoni maka praktis hanya PDIP yang belum jelas figur dan arah koalisinya,” katanya, menjelaskan.
Menurut dia, sisa PKB, PKS dan PKPI dengan jumlah 10 kursi tidak otomatis menjadi milik PDI Perjuangan atau berkoalisi dengan PDIP.
Jika PDIP lambat menentukan pilihan koalisi maka tidak menutup kemungkinan partai yang tersisa itu akan menentukan langkah politik lain.
Lebu Raya yang juga adalah Gubernur NTT itu menambahkan, komunikasi dengan sejumlah partai politik terus dibangun dan sudah mulai mengerucut. “Masih ada waktu dan PDI Perjuangan masih tetap berkeyakinan akan menemukan mitra koalisi untuk mengusung paket calon dalam Pilgub 2018 mendatang,” katanya optimistis. ♦ wjr/antarantt.com

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.