Mangrove Litianak Surga Kecil Desa Holulai Rote Ndao

Mangrove Litianak Surga Kecil Desa Holulai Rote Ndao

PEMERINTAH telah Sukses Menyelenggarakan Festival Mulut Seribu Pada Tahun 2019 dan Tahun 2020 Akan Digelar Lagi Festival Laut Mati dan Mulut Seribu, Komitmen Ini Merupakan Wujud Dukungan Terhadap Pengembangan Kawasan Mulut Seribu Sebagai Kawasan Pariwisata Estate Dari 7 (Tujuh) kawasan pariwisata estate yang di tetapkan oleh pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur demikian diungkapkan Bupati Rote Ndao Paulina Haning-Bullu,SE saat mengelar Syukuran HUT I Tahun Kepemimpinan Bupati Rote Ndao di pelataran rumah Jabatan Bupati Rote Ndao dibilangan Desa sanggaoen Kecamatan Lobalaian, selasa 14 Februari 2020.
Inilah salah satu Destinasi wisata Mangrove yang dikembangkan Pemerintah Provinsi mengadeng pemerintah Desa untuk mensukseskan sector pariwisata program Gubernur NTT dan Bupati Rote Ndao.
LITIANAK. Demikian masyarakat desa Holulai Kecamatan Rote Barat Laut menyebutnya sudah sejak lama. Kononnya, nama Litianak sendiri diambil dari nama pohon tempat menggantung jasad musuh, korban perang pada jaman dahulu. Karena letaknya tak jauh dari pantai, tempat ini kemudian dikenal sebagai pantai Litianak.
Kawasan ini dipenuhi oleh tumbuhan mangrove jenis soniratia. Dengan luasan mencapai 2 hektar, kawasan ini masuk dalam kawasan yang dilindungi.
Selain tumbuhan mangrove, pantai ini memiliki bentangan pasir putih yang cukup panjang. Sehingga perpaduan ini semakin menambah pesona alam yang begitu indah.
Pantai ‘Litianak’ yang sangat potensial ini, mulai dikembangkan menjadi objek wisata pantai. Melalui UPT KPH Provinsi NTT, tahun 2019 lalu, Rp. 459 juta dikucurkan dalam APBD 1 untuk penataan wilayah ini.
Hasilnya, telah terbangun 263 meter jembatan (trayek), 3 unit gazebo, 3 unit menara pemantau, 1 unit gapura, 1 unit pos tiketing dan 2 unit toilet umum.
Pembangunan objek wisata pantai ini masih terus berlanjut. Mengingat wilayah ini memiliki banyak spot yang belum tersentuh, sehingga UPT KPH telah menetapkan pembangunan lanjutan. “Konsepnya tetap konservasi. Sehingga tidak merusak habitat alam di sekitarnya. Apalagi ini hutan mangrove yang perlu dijaga kelestariannya. Dan pembangunannya masih dilanjutkan, pada awal Maret tahun ini”, demikian Nick Laheroi Ndolu, kepada EXPO NTT di pantai Litianak, Minggu 23 Februari 2020
Pembangunan lanjutan yang direncanakan kata Nick adalah, menambah panjang jembatan (trayek), menyiapkan wahana bermain, dan membangunan fasilitas penunjang aktifitas kuliner serta lapak-lapak penjualan bagi pedagang kaki lima. Rencana lanjutan ini kembali dibiayai oleh APBD 1 senilai Rp. 388 juta untuk tahun 2020.
Selain panorama alamnya yang begitu indah, sarana yang terbangun tersebut kini telah dinikmati masyarakat untuk berekreasi. Ramainya pengunjung paling banyak terlihat saat akhir pekan.
Melani Lesiangi dan Lindra Lesiangi misalnya. Kedua pengunjung yang berasal dari desa Lidabesi Kecamatan Rote Tengah ini, mengaku tak heran dengan keramaian di pantai Litianak. Kedua bersaudara yang lebih dari sekali mengunjungi tempat ini mengungkapkan kepadatan pengunjung yang pernah dialaminya. Saking ramainya, mereka juga kesulitan untuk menjangkau tempat dimana mereka ingin berselfi ria.
“Tempat ini sangat ramai. Pernah kami harus desak-desakan untuk sampai di sini hanya untuk berfoto, karena spotnya keren”, kata Melani dibenarkan Lindra
Melani yang kemudian ditanya terkait kesannya terhadap pantai Litianak, dia tak banyak berkomentar. Dia hanya mengungkapkan rasa kagumnya terhadap keindahan alam yang dititipkan Tuhan di desa Holulai.
“Tempat ini sangat keren. Indah, pokoknya wow. Dengan pembangunan seperti ini, menambah kecintaan terhadap kekayaan alam Indonesia”, kagum Melani.
Semakin ramainya pantai Litianak yang dikunjungi, berdampak pada peningkatan perekonomian warga sekitar. Pedagang yang secara dadakan berjualan di lokasi itu mengaku ada tambahan penghasilan.
“Ya, cuma sekedar kopi dengan cemilan. Tapi cukup memenuhi kebutuhan lainnya. Kedepan pasti lebih dari ini, karena pengunjungnya semakin banyak”, ungkap Eduard Ndolu yang berjualan di lokasi Litianak.
Lokasi Litianak yang terbuka itu, pernah digunakan warga untuk menggelar acara. Beberapa acara yang sudah digelar adalah acara ulang tahun, syukuran dan kegiatan gerejawi.
Sebagaimana yang terpantau wartawan, Minggu, 23 Febaruari 2020 pengunjung yang memadati tempat itu paling banyak berasal dari luar Kecamatan Rote Barat Laut. Puluhan kendaraan roda empat, bahkan jenis truck pun terparkir di lokasi itu. Belum lagi kendaraan roda dua yang memadati area parkir yang belum ditata.
Bahkan ada pengunjung yang rela membawa peralatan sound systemnya. Sehingga dentuman musik itu kian menambah semarak berpiknik di pantai Litianak. ♦ advetorial pemda rote ndao kerja sama dengan expontt

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.