Mengenal Yosepha Alomang Dan Aleta Baun Pahlawan Lingkungan dari Timur

Mengenal Yosepha Alomang Dan Aleta Baun Pahlawan Lingkungan dari Timur

Oleh: Diah Ayu Novitasari

SELAMA ini kita sering mendengar para perempuan Indonesia yang berjuang dan bekerja demi pembebasan dan kesetaraan seperti Kartini, Cut Nyak Dien, atau ibu-ibu Rembang yang dengan tangguh memperjuangkan kelestarian alam Kendeng. Namun, cukup jarang kita mendengar perjuangan-perjuangan perempuan adat dari Timur. Yosepha Alomang dan Aleta Baun, dua perempuan adat ini berhasil memimpin dan mengorganisir komunitasnya untuk memperjuangkan lingkungan.
“Kalau bapak bunuh saya sekarang, itu kehendak Tuhan, dan Ia akan terima saya. Bapak selamatkan saya pun itu kehendakNya. Bukan bapak,”
– Yosepha Alomang ketika ditangkap
Yosepha Alomang, perempuan dari suku Amungme di Timika, Papua, merupakan pendiri Yayasan Hak Asasi Manusia Anti Kekerasan (YAHAMAK) di tahun 2001. Perempuan yang kerap dipanggil Mama Yosepha ini sudah sejak lama memperjuangkan kelestarian lingkungan dan tanah masyarakat adat Timika. Mama Yosepha memimpin unjuk rasa di bandara Timika selama tiga hari dengan menyalakan api di landasan udara untuk menolak PT. Freeport yang telah melakukan perusakan lingkungan.

Aleta Baun, 2013 Goldman Prize Recipient for Indonesia.

Sejak berdirinya perusahaan pertambangan PT. Freeport McMoran pada tahun 1967 atas izin pemerintah Indonesia, hutan menjadi hancur dan sungai pun juga tercemar. Freeport membuang setidaknya 200.000 ton limbah ke sungai-sungai setiap hari, menyebarkan polutan di wilayah tempat tinggal masyarakat setempat. Sementara itu, tentara Indonesia berulang kali secara brutal menekan demonstran yang secara damai menolak adanya perusahaan tambang tersebut. Selain itu, mama Yosepha juga mengorganisir Koperasi Kulakok bersama perempuan adat dengan bantuan dari Gereja Katolik untuk menjual hasil sayuran dan buah-buahan yang mereka tanam dan menghancurkan sayuran dan buah yang dibeli Freeport dari luar Papua.
Hal ini sebagai bentuk kekecewaan mama Yosepha dan masyarakat adat kepada Freeport yang seharusnya mendukung masyarakat lokal dengan membeli hasil tanaman dari mereka. Perjuangan mama Yosepha tidaklah mulus, pada tahun 1994 mama Yosepha ditangkap oleh tentara karena diduga membantu salah satu anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM). Mama Yosepha ditempatkan di tempat pembuangan tinja & urin selama sebulan, dengan makanan yang dilempar ke dalam tinja dan ia harus memakannya. Namun, mama Yosepha tidak menyerah, setelah bebas ia menuntut perusahaan Freeport di Amerika dan mengajukan ganti rugi atas eksploitasi lingkungan. PT. Freeport pada akhirnya memberikan ganti rugi sebesar $248.000. Lalu pada tahun 1999, mama Yosepha mendapatkan penghargaan Yap Thiam Hien dan Goldman Environmental Prize pada tahun 2001 atas jasanya dalam memperjuangkan hak asasi manusia dan lingkungan. Meskipun Freeport telah memberikan uang ganti rugi, perjuangan mama Yosepha tidak berhenti. Ia melakukan unjuk rasa di depan gedung DPRD Jayapura menuntut kerusakan bendungan Wanagon di Timika pada tahun 2000 dan menuntut Freeport keluar dari Indonesia. Setelah itu, mama Yosepha mendirikan YAHAMAK untuk menegakkan hak asasi manusia serta membebaskan rakyat Papua yang disiksa maupun ditahan oleh militer.
“Kalau tidak ada air, tidak ada tanah, tidak ada hutan, tidak ada batu, kami tidak bisa bertahan hidup”
– Aleta Baun di Mata Najwa
Mama Aleta Baun juga tidak kalah gigihnya memperjuangkan kelestarian alam Gunung Mutis bersama masyarakat adat Mollo di Nusa Tenggara Timur. Selama kurang lebih 13 tahun, mama Aleta bersama perempuan-perempuan suku Mollo bergerak melakukan protes dengan menenun kain di tempat-tempat penambangan marmer di Gunung Mutis. Bagi suku Mollo, Gunung Mutis adalah tempat yang sakral dan merupakan sumber air bagi pertanian, selain itu mereka juga mengumpulkan pangan dan serat untuk menenun kain. Struktur tanah Gunung Mutis yang tidak cocok bagi pertambangan justru akan menimbulkan erosi dan longsor besar-besaran apabila dipaksa untuk ditambang.
Sejak tahun 1993, mama Aleta aktif dalam Yayasan Sanggar Suara Perempuan (YSSP) di NTT, namun pada tahun 2004 ia memutuskan untuk keluar dan bergerak bersama masyarakat adat ketika para korporasi pertambangan mulai menjamah tanah mereka. Bagi mama Aleta, hidup perempuan tidak bisa dipisahkan dari tanah, air, dan tumbuhan. Ketika tiga sumber daya itu dirampas dari perempuan, maka kebutuhan pangan rumah tangga dan masyarakat tidak akan terpenuhi.
Dalam masa perlawanannya, mama Aleta mendapat banyak ancaman dan intimindasi dari perusahaan tambang. Kakinya pernah dibacok ketika ia hendak pulang ke rumah, rumahnya dikepung sehingga ia harus lari ke hutan bersama bayinya dan tinggal disana selama enam bulan, selain itu mama Aleta juga pernah dipukul di depan gedung pengadilan karena berani memprotes pemerintah daerah.
Setelah bertahun-tahun berjuang, pada tahun 2010 pertambangan pun resmi dihentikan. Pada tahun 2013, mama Aleta juga mendapatkan penghargaan Goldman Environmental Prize dan penghargaan Yap Thiam Hien pada tahun 2016. Bahkan sebelumnya pada tahun 2005, ia menjadi salah satu kandidat penghargaan Nobel. Mama Aleta meneruskan perjuangannya dengan menjadi anggota DPRD di Nusa Tenggara Timur.
Perempuan dan Lingkungan
Secara simbolik, perkembangan perempuan dan alam memiliki hubungan yang dekat. Keduanya adalah sumber penghidupan yang memiliki kemampuan reproduksi dan produksi. Candraningrum (2014) memaparkan bahwa kapitalisasi tubuh perempuan dan alam terjadi secara bersamaan, sebagai upaya untuk melanggengkan dominasi kekuasaan. Eksploitasi dan penindasan sebagai bagian dari politik penundukan karena pemilik kuasa berusaha melakukan kendali atas tubuh perempuan maupun alam.
Mama Yosepha dan mama Aleta serta para perempuan adat telah memberikan kita contoh bahwa manusia seharusnya memandang lingkungan sebagai bagian dari manusia dan bukan sebagi sesuatu objek yang patut dieksploitasi. Keberlangsungan hidup dan mata pencaharian mereka bergantung pada sumber daya alam. Namun perempuan adat di Indonesia seringkali tidak dilibatkan oleh negara dalam kontrol sumber daya alam dan tanah mereka. Akibatnya, konflik agraria dan krisis ekologi selalu menjadikan perempuan sebagai korban utama perampasan sumber penghidupan mereka.
♦ Diah Ayu Novitasari adalah mahasiswi Hubungan Internasional Universitas Kristen Satya Wacana yang tertarik pada isu pembangunan dan lingkungan. Penulis kadang menghabiskan waktu dengan menggambar. Kritik dan saran bisa kalian layangkan ke email pribadinya: diahanovitasari@gmail.com

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.