Menghina Presiden

Menghina Presiden
ADA manusia berwatak binatang yang terang-terangkan menghina Presiden aktif seperti Jokowidodo. Manusia tidak berperikemanusiaan. Seorang Jokowi tokoh nasional, orang baik, membangun negeri ini secara adil dan merata dihina. Yang dhina bukan hanya orang-orang muda tetapi juga para cendekiawan, politisi, dan yang mengaku ulama berbusana putih.
Yang paling kini dilakukan seorang politisi Ferdinan Hutahaen dari Partai Demokrat yang Ketua Umumnya SBY. Kalimat Presiden anjing… begitu aja tersebar luas melalui akun twitter. Tetapi, Ferdinan Hutahaen mengaku bukan akun miliknya, tetapi akun palsu. Pernyataan Huhaten melalui video, ucapan langsung bahwa akun itu dan palsu. Konon Hutahaen sudah melapor ke polisi. Saya sendiri kurang ikuti, apakah benar Hutahaen sudah melapor karena tiada gambarnya di televisi.
Sungguh miris hati ini, menyaksikan drama di tahun politik ini, yang demi jabatanan dan kekuasaan melakukan dengan berbagai cara dan salah satu cara yang dilakukan adalah memfitnah dengan kata-kata keji terhadap seorang Presiden aktif. Penghinaan keji terhadap orang baik dan benar sangat terbuka melalui kata-kata lewat media sosial, viral video dan bahkan wawacara live di televisi. Seakan manusia di dunia ini, hidup hanya dari jabatan Presden. Itu saya dan anda saksikan melalui media sosial dan televisi.
Di catatan saya kali ini menyertakan pernyataan Hutahaen melalui #twitternya. Sungguh sangat menghina, tidak mendidik rakyat agar memilih cerdas menggunakan hati nurani terdalam. Saya mengharapkan kita orang NTT tidak terpengaruh ikut mengubar kata-kata hina. Seorang ibu di Medan, menghardik seorang ustad yang pada setiap ceramahnya menghina Presiden Jokowi. Sedemikian banyak tak bisa dihitung dengan jari orang-orang menghina Presiden. Tokoh nasional sekelas Jokowi, mantan walikota, mantan Gubernur DKI dan kini Preseden Indonesia aktif dihina seperti orang yang telah melakukan kejahatan.
Pada era media sosial, ungkapan “jarimu harimaumu” sama pentingnya dengan ungkapan aslinya, “mulutmu harimaumu”. Saya mengharapkan. kita orang NTT mulai berhati-hati mengungkapkan pendapat di akun masing-masing setelah kasus penghinaan atau kerap disebut penerbaran kebencian di media sosial bermunculan, termasuk terhadap pemerintah. Saya membaca di media sosial sangat banyak orang yang menghina Presiden. Paling Ahmad Dani, ditangkap dan dipenjarakan. Malu hati ini, ketika menyaksikan orasinya yang viral melalui video. Dengan suara lantang seorang Ahmad Dani menghina dengan kata ajing, babi dan kata-kata kotor lainnya.
Ada yang ditangkap karena statusnya diduga menghina presiden, pelajar mengaku iseng diduga menghina presiden Joko Widodo di akun media sosial, seorang pelajar di Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara, berinisial SR (Tengah), ditangkap polisi. Di dalam aku media sosial facebooknya, SR yang merupakan warga Kelurahan Bonemarambe, Kecamatan Mawasangka Timur, Kabupaten Buton Tengah, menulis dengan kata yang tak pantas terhadap seorang kepala Negara.
Di akhir kalimatnya, SR menulis kalimat yang tak pantas untuk kepala Negara. “Dari pemeriksaan, yang bersangkutan iseng, kemudian ingin menunjukkan punya sikap tertentu terhadap pemerintah. Secara keseluruhan, dia lakukan itu karena iseng saja.
Ada pula seorang remaja bercanda tetapi diduga menghina Presiden Jokowi berinisial SD (20) dan FZ (16) ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan melakukan penghinaan kepada Presiden Joko Widodo melalui aplikasi bertukar pesan WhatsApp. Video rekaman tersebut sempat viral hingga akhirnya dilaporkan warga ke kantor polisi. Ini hanya salah satu contoh kasus manusia yang dalam pergaulan perilakunya sangat kotor. Yang membaca atau menonton video, termasuk saya pribadi sangat malu. Pihak penegak hukum saatnya bertindak dan berlaku adil. ♦

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.