Mewujudkan NTT Bebas DBD

Mewujudkan NTT Bebas DBD

Oleh : Maria Trivonia Sema
Mahasiswa Fakultas Bioteknologi UKDW, Yogyakarta

 

NYAMUK merupakan salah satu hewan yang sangat sering kita jumpai di kehidupan sehari-hari. Nyamuk sangat senang berada di tempat yang lembab dan tergenang air.

Sebagian besar masyarakat mengenal nyamuk sebagai salah satu hewan yang sangat merugikan. Jenis nyamuk penyebab demam berdarah adalah Aedes aegypti. Sebagian besar habitat dari nyamuk tersebut berada di dalam rumah.

Hal ini menyebabkan rumah menjadi sarang penyakit demam berdarah. Nyamuk merupakan salah satu vektor yang dapat menginfeksi tubuh manusia sehingga menyebabkan manusia menjadi sakit ataupun dapat menyebabkan kematian.

Insiden DBD yang cukup parah di awal tahun 2019 telah terjadi di salah satu kabupaten di NTT, yaitu Sikka. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, sejak Januari 2019, jumlah penderita DBD terus bertambah.

Sejak Januari 2019 sampai hari ini, kasus DBD di Sikka bertambah jadi 102. Pada Januari 2019 terdapat 65 pasien DBD dan Februari 2109 ada 37 pasien DBD. Penyebab utama dari masalah di NTT adalah sebagian besar masyarakat NTT memiliki pola perilaku menampung air di ember ataupun bak tanpa melakukan kegiatan 3M (menutup, menguras, mengubur). Hal ini menjadi peluang besar bagi nyamuk Aedes aegypti untuk bertumbuh dan berkembang dan menyebarkan penyakit DBD.

Kasus DBD di Provinsi NTT dalam periode 4 (empat) tahun terakhir mengalami fluktuasi sejak tahun 2014-2017, pada tahun 2014 sebesar 487 kasus, pada tahun 2015 meningkat menjadi 665 kasus. pada tahun 2016 meningkat lagi menjadi 1.213 dan pada tahun 2017 mengalami penurunan jumlah kasus DBD sebanyak 542 kasus (Kemenkes NTT, 2017).

Penurunan di tahun 2017 ini menjadi hal yang baik bagi masyarakat NTT. Namun setelah mengalami penurunan kasus DBD di tahun 2017, berita buruk mengenai kejadian DBD mulai terjadi lagi di awal tahun 2019, dimana jumlah penyebaran kasus DBD hampir terjadi disemua kabupaten/kota dengan total jumlah kasus penderita banyak 2.191.

Jumlah kasus DBD dari 21 Kabupaten dan Kota di Nusa Tenggara Timur, tiga daerah telah menetapkan status DBD menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) yakni, Kota Kupang, Manggarai Barat, dan Sumba Timur.

Dari tiga daerah tersebut, jumlah kasus terbanyak terjadi di Kabupaten Manggarai Barat sebanyak 321 kasus per Februari 2019.

Sebagian besar kasus DBD di NTT disebabkan adanya pergantian musim. Pada bulan Desember, Januari dan Februari merupakan bukan dengan intensitas curah hujan yang tinggi di NTT.

Hal ini menyebabkan adanya banyak genangan air. Genangan air ini merupakan habitat yang sangat cocok untuk nyamuk bertumbuh dan berkembang.
Pencegahan demam berdarah sangatlah penting. Hal ini dikarenakan penyakit demam berdarah dapat merenggut jiwa seseorang yang sangat berharga.

Mencegah adanya perkembangan nyamuk di lingkungan sekitar, karena lebih baik adanya pencegahan awal dibandingkan menghabiskan uang yang banyak untuk mengobati. mencegah adnaya perkembangan nyamuk di lingkungan sekitar, karena lebih baik adanya pencegahan awal dibandingkan menghabiskan uang yang banyak untuk mengobati.

Upaya pemberantasan DBD difokuskan pada penggerakan potensi masyarakat untuk dapat berperan serta dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M plus (Menguras, Menutup, Mengubur dan Menabur larvasida), penyebaran ikan pada tempat penampungan air serta kegiatan-kegiatan lainnya yang dapat mencegah/memberantas nyamuk Aedes aegypti berkembang biak, juru pemantauan jentik (Jumantik) untuk memantau Angka Bebas Jentik (ABJ), serta pengenalan gejala DBD dan penanganannya di rumah tangga. Pengenalan gejala DBD harus menjadi pengetahuan dasar masyarakat umum agar tidak ada kata terlambat dalam pengobatan pasien DBD.

Pencegahan demam berdarah harus melibatkan banyak pihak, yaitu pemerintah, dinas terkait kesehatan masyarakat dan masyarakat sendiri. Koordinasi antara semua pihak sangat diperlukan untuk mengakhiri siklus dema berdarah ditengh-tengah masyarak.

Pemerintah dan instanasi terkai membantu membuat sebuah rencana pencegahan dan pengobatan bagi kasus demam berdarah sedangkan masyarakat yang menjadi pelaksana dari rencana tersebut yang akan mematikan nyamuk agar mencegah penyakit demam berdarah. Kegiatan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat mempunyai rencana yang keberlanjutan sehingga tidak akan ada kasus yang terulang kembali. ♦

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.