Namkak

Namkak
NAMKAK, dalam bahasa Orang Timor Tengah Selatan atau TTS artinya ‘nganga’, banyak bengon, mengelamu tiada tujuan arahnya. Tak hanya nganga, menurut Gubernur Viktor Bung Tilu Laiskodat juga tolol. Vicktor atau dikenal dengan VBL menyebut dengan istilah, TTS Tidak Maju karena Pemimpin “Namkak” dan Tolol. Ucapan ini disampaikan Gubernur di depan para pejabat TTS Minggu 27 Januari 2019. Sebelum ke TTS, Gubernur mengakat sampah dengan tangannya sendiri bersama masyarakat di Kupang.
Vicktor berjanji, jika ke depan pemimpin TTS tidak mampu melakukan terobosan dan perubahan, dirinya mengancam akan mengambil alih pemimpin dengan berkantor di TTS sampai ada perubahan di TTS. Ini kekecewaan seorang Vicktor. Saya jadi ingan peristiwa ketika Piet Tallo menjadi Bupati Timor Tengah Selatan 1983-1988. Selama lima tahun memimpin TTS, rakyat setempat masih mencintainya sehingga melalui DPRD setempat dipilih kembali menjadi Bupati TTS untuk periode 1988-1993. Ketika memimpin TTS 1983 – 1993, Piet Tallo menjadi sangat populer tatkala ia mencetuskan Program Cinta Tanah Air.
Di TTS yang terkenal sebagai penghasil kayu cendana di NTT itu, popular dengan program Piet Tallo,” warga wajib cinta tanah air, dan tiga batu tungku.” Gara-gara masyrakat tidak patuh pada kedua program Piet Tallo ini, warga diberi, ’makan lumpur’ akibat malas bekerja, lahan kosong dan luas dibiarkan kosong. Seharusnya lahan kosong dan subur dimanfaatkan untuk bercocok tanam.
Kini, di tahun 2019, ketika VBL sebagai Gubernur, berkunjung ke TTS, memarahi masyarakat, sebenarnya masih pada ucapan di depan pejabat yang bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyat agar jangan ‘namkak’ jangan menganga saja dan tolol. Ucapan ini dalam rangka memacu pejabat untuk rajin ke lapangan melihat masyarakat yang malas dan tolol agar jangan malas dan nganga.
Beda dengan Piet Tallo beda pula Vicktor Laiskodat. Ketika itu, Piet Tallo dikecam banyak kalangan bahkan pejabat dari pusat mendatangi TTS untuk dengan langsung, kebenaran tindakan seorang Bupati Piet Tallo. Tetapi dengan hati dingin menampik hujatan itu dengan menyebutnya sebagai “lumpur kasih sayang kepada rakyat TTS”.
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) ketika itu, Soepardjo Rustam (Alm) turun langsung ke SoE, Ibukota Kabupaten TTS untuk mendengar langsung kisah “Operasi Cinta Tanah Air” sampai membuat Piet Tallo harus memberi makan lumpur kepada rakyatnya yang malas bekerja. Masihkah sampai kini, 1983-2019 warga TTS masih malas?
Pada kunjungan perdananya di TTS, Minggu 27 Januari 2019, orang nomor satu di NTT ini langsung bertemu para medis lingkup Dinas Kesehatan TTS di Aula Kantor Bupati TTS. Saat menjawab pertanyaan para medis Vicktor mengatakan, akumulasi semua persoalan di TTS adalah soal kepemimpinan.
Menurut VBL, TTS paling bermasalah di NTT,VBL bahkan berjanji akan jadikan TTS tempat berkantor paling banyak. Pejabat TTS diminta VBL agar berpikir dan bertindak “out of the box” atau di luar kebiasaan.
Hari itu juga VBL akan memecat Sekda TTS, Marthen Selan bila dua bulan ke depan tidak mampu menyelesaikan persoalan pengurusan KTP dan lain-lain. Perintahnya,” Pak Sekda tidak selesaikan masalah KTP maka saya berhentikan.
Berapa kali saya telepon Ketua DPRD TTS, hanya Ketua DPRD tukang ngantuk. Sayangnya pemimpin di TTS ini, Ketua DPR dan Bupati sama nganga atau dalam bahasa setempat ‘Namkak’ yang dalam istilah bahasa Dawan dan tolol. VBL juga bilang efiseinsi anggaran, jangan rapat yang paling banyak. Makan paling banyak lalu tidak ada hasil. Sama juga seperti DPR datang duduk nganga-nganga, makan, pulang dan tidak ada hasil. Para pejabat di NTT, saatnya mengkritisi, menghayati dan melaksanakan apa yang diserukan Gubernur VBL di TTS. Almarhum Ben Mboi bulang,” Kalau bukan sekarang, kapan lagi, kalau bukan kita siapa lagi.” ♦

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.