“New Normal”

“New Normal”

 

NEW NORMAL, undang-undangkah dua kata ini? Atau hanya sebuh imbauan Pemerintah? Suka atau tidak suka pola hidup baru dibawah panji, New Normal, harus ditaati, dihayati dan dilaksanakan. Hingga vaksin corona ditemukan dan diproduksi massal, kehidupan sosial masyarakat Indonesia tak benar-benar kembali seperti sebelum wabah melanda. Adaptasi dan persiapan New Normal pun diperlukan.
Definisi new normal adalah skenario untuk mempercepat penanganan COVID-19 dalam aspek kesehatan dan sosial-ekonomi. Pemerintah Indonesia telah mengumumkan rencana untuk mengimplementasikan skenario new normal dengan mempertimbangkan studi epidemiologis dan kesiapan regional. Presiden Jokowi mengharapkan new normal ini diimplementasikan dengan beberapa pertimbangan.
Kehidupan baru terpaksa wajib kita jalani. Pertama, kita mesti akrab dengan penyakit mematikan bernama Virus Corona yang dikenal dengan Covid-19. Jika sebelum pademi corona kita bebas merdeka menjalani rutinitas hidup kita, saat ini, pola dan gaya hidup berubah hampir 180 derajad. Manakala hendak keluar rumah wajib hukumnya menggunakan masker.Jika hendak memasuki ruang kantor, wajib mencuci tangan pada keran yang airnya mengalir dengan menggunakan sabun. Di dalam kantor tidak lagi duduk berdekatan, tetapi harus menjaga jarak sekitar satu setengah meter.
Kita diimbau atau tidak diimbau pemerintah agar menghindari keramaian.
Ini semua agar kita tidak terjangkit virus corona. Sistem kehidupan baru ini, harus dipatuhi karena virus ini dijangkit melalui manusia. Kabar berita dari Italia Roma bahwa para dokter ahli disana melakukan visum terhadap pasien yang meninggal akibat virus corona masih menjadi tanda tanya semua kalangan baik dari rakyat sendiri maupun para dokter ahli.
Diberitakan seperti yang saya baca dari sejumlah sumber di internet bahwa para dokter ahli di Italia tidak mengindahkan imbauan WHO.
* WHO mengimbau semua dokter dan semua para medis di dunia, agar pasien positif virus corona jangan di otopsi. Tetapi para dokter di Italia melakukan otopsi dan konon hasilnya bukan meninggal akibat virus corona tetapi akibat bakteri. Sebuah pesan berantai yang menyebut bakteri sebagai menjadi penyebab kematian pada pasien positif virus corona atau COVID-19 beredar di grup-grup percakapan WhatsApp. Senin 1 Juni 2020. Dalam narasi pesan tersebut menyebutkan, bahwa hal ini merupakan penemuan oleh tim dokter di Italia berdasarkan hasil outopsi jenazah pasien positif Covid-19.
* Dijelaskan pula, bahwa penggumpalan darah yang disebut koagulasi intravaskular diseminata (DIC) atau trombosis menjadi penyebab kematian itu bisa disembuhkan dengan antibiotik, anti-inflamasi, dan antikoagulan. Masih juga berita berantai, konon bisa disembuhkan pula dengan aspirin 100 mg dan paracetamol.
* Menurut Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Ede Surya Darmawan, idealnya PSBB atau Pembatasan sosial berskala besar Indonesia 2020 dikuatkan dulu sebelum kemudian dilonggarkan atau menerapkan kenormalan baru. Dengan penguatan PSBB, maka jumlah penambahan kasus bisa ditekan.
Realitasnya sekarang, ada dis-sinkronisasi antara pemerintah daerah pengen tetap PSBB, tapi pemerintah pusat ingin losing atau mengendorkan. Kita jadi bingung. Yang jelas kita memasuki era hidup gaya baru. Jika selama ini, ketika hendak berbelanja di super market tidak cuci tangan dan dicek suhu pada dahi, maka hal ini terjadi dan wajib dilakukan.
* Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko memastikan pemerintah tidak akan mengorbankan kesehatan masyarakat dalam menerapkan new normal atau tatanan kehidupan baru di masa pandemi virus Corona (Covid-19). Menurut dia, dalam menangani virus Corona, pemerintah akan tetap mengedepankan kesehatan masyarakat. ♦

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.