Nilai tukar petani NTT turun 0,36 poin

Nilai tukar petani NTT turun 0,36 poin

BADAN Pusat Statistik (BPS) Nusa Tenggara Timur mencatat, nilai tukar petani (NTP) turun sekitar 0,36 poin atau dari 106,99 persen pada Desember 2018 menjadi 106,36 persen pada Januari 2019. “NTP terjadi karena pendapatan petani tidak sebanding dengan harga barang konsumsi dan biaya produksi yang meningkat pada awal 2019,” kata Kepala BPS Provinsi NTT Maritje Pattiwaellapea di Kupang, Minggu 3 Februari 2019.
Ia mengatakan, hampir seluruh subsektor dari NTP mengalami penurunan pada Januari kecuali subsektor peternakan yang meningkat 0,37 poin dan perikanan meningkat 0,83 poin. Subsektor padi dan palawija mengalami penurunan 0,69 poin, holtikultura menurun 0,35 poin, dan perkebunan rakyat menurun 0,77 poin. “Kondisi cuaca ekstrim yang terjadi belakangan ini juga menjadi faktor pemicu menurunnya NTP karena berdampak pada hasil produksi petani,” katanya.
Maritje menjelaskan, kondisi indeks harga konsumen wilayah pedesaan di provinsi itu pada Januari 2019 juga mengalami inflasi sebesar 0,6 poin, sedangkan, secara year on year (yoy) inflasi sebesar 2,77 poin. Ia berharap, kondisi inflasi ini selanjutnya dapat dikendalikan masing-masing pemerintah daerah di provinsi berbasiskan kepulauan ini. “Kalau inflasi tinggi di daerah pedesaan maka petani tentu akan kesulitan belanja karena harga barang tidak sebanding dengan pendapatan,” katanya. Ia menambahkan, NTP ini lebih mencerminkan kemampuan produksi petani karena yang dibandingkan hanya produksi dengan biaya produksi. “Ini perlu dikendalikan juga terutama harga barang-barang yang digunakan petani untuk produksi pangannya,” katanya. ♦ antaranews.com

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.